Minggu, 15 Desember 2019

Rico Wibisono: Manfaat Sistem Pendederan Udang

Rico Wibisono: Manfaat Sistem Pendederan Udang

Foto: 
Rico Wibisono

Budidaya udang merupakan primadona bisnis perikanan di Indonesia khususnya dan pada umumnya di Dunia. Nilai produksi budidaya udang dunia yang mencapai 5,5 juta ton pada 2017 dengan peningakatan 8 % dari tahun 2016 (FAO, 2019). Indonesia memiliki sumbangan 0,5 juta ton pada 2017 dan produksi turun mendekati 0,4 juta ton pada 2018 hingga 2019 (GOAL.2019). 
 
 
Penurunan produksi disebabkan oleh tren penyakit seperti EHP (AHNPD), WFD dan IMNV dengan serangan produksi semakin meningkat pada doc awal penebaran yaitu dari Day o Culture (DOC) 15 - 40. Hal ini menyebabkan petambak mengalami kerugian karena biaya produksi yang tinggi diawal budidaya.
 
 
Penyakit diawal budidaya merupakan kerugian bagi petambak. Oleh karena itu diperlukan proses pencegahan dan mitigasi terjadinya wabah penyakit di awal produksi. Penyebab tersendiri banyak faktor salah satunya adalah ketidakseimbangan mineral di dalam tambak dan ekosistem mikroba di dalam tambak, sehingga diperlukan sistem awal untuk mencegah terjadinya kegagalan pada awal budidaya. 
 
 
Nursery atau pendederan merupakan cara yang telah lama dikenal oleh petambak di Indonesia dengan sistem impun, deder atau oslah. Dengan demikian secara teknologi para petambak telah mengenal dengan baik dengan hasil PL (benur) yang lebih besar dan memiliki daya adaptasi yang lebih baik serta pencernaan yang lebih baik.
 
 
Nursery yang dikembangkan di Indonesia dapat menggunakan kolam sirkular atau lingkaran maupun bentuk seperti elips untuk kolam aliran deras. Penggunaan nursery pond (kolam pendederan) dapat mencegah terjadinya kegagalan budidaya di awal.
 
 
Selain itu lahan yang diperlukan tidak terlalu besar, dapat juga digunakan padat tebar tinggi, penghematan energi dan tenaga kerja, kemudahan kontrol, serta penggunaan bahan pendukung seperti probiotik dan bahan lainnya yang dihitung secara volume sehingga dengan volume yang lebih kecil dapat dilakukan penghematan. Namun, bila dilakukan pada tebar tinggi mulai dari 500 - 2.000 ekor/m3 diperlukan teknologi seperti monitoring kualitas air dan alat pakan otomatis. 
 
 
Pengembangan nursery pond di Indonesia dapat dikembangkan secara luas dan dapat menambah siklus budidaya dalam setahun hingga 1,5 - 2 kali lipat dibandingkan cara yang konvensional. Optimalisasi lahan budidaya dan mitigasi penyakit budidaya udang. Pendederan udang atau sistem nursery dapat dioperasikan selama 15 - 40 hari. 
 
 
Sistem nursery tidak hanya sebagai penghasil benur siap tebar dengan PL 25 - PL 50, namun dapat menjadi tempat aklimatisasi untuk budidaya udang vannamei di salinitas rendah sehingga dapat mengurangi stres yang berakibat pada mortalitas. Nursery dapat dikembang dengan 2 step atau 3 step tergantung lokasi dan kebutuhan, salah satunya di Brazil menggunakan 3 step dengan 10 hari awal pada kolam yang diameter 5 m kemudian berpindah ke kolam kedua selama 30 hari dengan diamter 10 - 20 m, kemudian dilanjutkan kolam pembesaran hingga panen dengan demikian tidak terjadi penumpukan limbah pada wadah budidaya. 
 
 
Nursery dapat diterapkan dengan berbagai macam sistem baik biofloc, semifloc, copefloc, dan RAS (Recirculating Aquaculture System) maupun lainnya. Sistem ini membutuhkan presisi baik dari pakan dan perawatan kualitas air, oleh karena itu dengan kepadatan yang tinggi diperlukan teknologi berupa monitoring dan pemberian pakan secara otomatis. Kepadatan yang tinggi menyebabkan carrying capacity semakin terbatas sehingga pemberian pakan dapat diberikan secara kontinu dengan pakan protein fungsional yang memenuhi nutrisi sehingga diperlukan pakan hidup untuk awal penebaran berupa artemia sehingga proses enzimatis tetap berjalan.
 
 
Pemberian pakan hidup dapat meningkatkan sintasan hidup karena menurunnya proses kanibalisme oleh kompetisi pakan. Selain pakan diperlukan perawatan kualitas air terutama pada kadar DO yang tidak boleh kurang dari 5 ppm, hal ini berkaitan dengan kinerja bakteri dalam merombak amoniak.
 
 
Mineral merupakan faktor pembatas dalam proses ini kekurangan mineral dapat menyebabkan stres yang berakibat pada penyakit sehingga penambahan mineral baik lewat suplementasi pakan dan penambahan di air sangat baik dalam proses perkembangan udang pada sistem nursery. Kualitas air yang tidak kalah penting adalah menjega fluktuasi pH harian dan suhu serta secara rutin melakukan pengujian terhadap amoniak, nitirit dan nitrat serta parameter biologi seperti TVC dan lainnya.
 
 
Pendederan udang dapat diterapkan pada berbagai tingkat atau level budidaya baik ektensif atau tradisional hingga supra intensif. Namun  dalam pengembangnya membutuhkan peningkatan teknologi dari sistem pendederan tradisional ke sistem intensif. Petambak tradisional dapat membeli benur hasil dari nursery sistem yang dikembangkan secara lokal dengan teknologi terkini sehingga perusahaan nursery dapat menjadi take over risk karena kemampuanya dalam riset dan permodalan. 
 
 
Petambak semi intensif, intensif, dan tradisional dapat membeli benur atau PL sesuai dengan kondisi perairan, sehingga petambak dapat berbudidaya lebih cepat selama 2 bulan untuk mencapai size 60 - 40 serta mengurangi dampak terjadinya penyakit diawal tebar dimana pembiayaan cukup tinggi. Petambak intensif dapat menerapkan sistem nursery karena kemampuannya bak dalam teknologi, tenaga kerja dan permodalan sehingga tercipta integrasi antar petambak.
 
 
Pengembangan nursery membutuhkan sistem pedukung seperti rekayasa aerator untuk menjaga DO minimal 5, pakan fungsional untuk pendederan, kolam yang dapat dipindah atau bongkar pasang sehingga penerapan nursery sistem dapat disesuaikan dengan lokasi serta biaya pembangunan nursery yang kompetitif dan singkat karena adanya pond portable. Nursery pada skala Nasional dapat meningkatkan hasil budidaya melalui waktu dan peningkatan padat tebar udang. 
 
 
Pengembangan nursery memerlukan peran serta pemerintah selaku pembuat kebijakan untuk mendukung riset dan pengembangan bibit unggul guna mendukung nursery sistem. Nursery sistem mendukung pengembangan supra intensif sistem, sehingga salah satu hal kritis adalah pengolahan limbah sisa tambak agar tidak mencemari lingkungan dapat diolah secara biologis dengan menggunakan IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture).
 
 
 
*Head of Operatian FisTx
PT  Mitra Sejahtera Membangun Bangsa
Alumni Budidaya Perairan IPB
 

 
Aqua Update + Almamater + Cetak Update +

Artikel Lain