Minggu, 15 Desember 2019

Nila Toba Sampai ke Amerika

Nila Toba Sampai ke Amerika

Foto: 
Olahan nila berkualitas premim di produksi langsung dari Danau Toba

Ikan nila fillet yang dihasilkan berkualitas tinggi menembus pasaran ekspor 
 
 
Hidangan steam fillet ikan nila yang dibungkus alumunium foil menjadi makanan pelengkap obrolan sore itu. Saat dibuka bungkusnya, daging putih yang masih agak panas itu mengepulkan asap tipis. Tanpa dibumbui apa-apa daging ikan itu terasa segar dan kenyal, dengan rasa yang khas tanpa bau lumpur sedikit pun setelah dicicipi. 
 
 
Itulah salah satu pengalaman berkesan dari tim TROBOS Aqua yang berkesempatan menyicipi olahan fillet nila berkualitas premium yang diproduksi langsung dari Danau Toba. Menurut Head of Unit Tilapia Processing Toba Tilapia Imam Santoso, fillet nila premium dihasilkan melalui sistem produksi yang bagus dari hulu hingga hilir, yang terintegrasi mulai dari pembenihan nila berkualitas, pendederan, pembesaran, hingga pengolahannya. 
 
 
Tak ayal jika produk fillet nila Danau Toba bisa menembus beberapa pasar luar negeri. Mulai dari pasar Asia yang meliputi Singapura hingga Taiwan. “Juga sam¬pai Amerika, yakni Amerika Serikat dan Kanada,” tambah Imam. 
 
 
Jaga Kualitas Premium 
Fillet nila premium ini, terang Imam, dihasilkan oleh PT Suri Tani Pemuka (STP), anak perusahaan JAPFA, di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pabrik seluas kurang lebih 7,4 hektar (ha) ini sudah beroperasi menghasilkan fillet nila premium untuk ekspor sejak beberapa tahun yang lalu. Dia pun menerangkan, alasan STP mengambil bisnis nila hingga olahannya antara lain untuk menghindari persaingan dengan para pembudidaya lokal di pasar ikan segar. 
 
 
Dan untuk menghasilkan olahan nila premium tak terlepas dari sistem produksi yang sudah tersertifikasi. Dalam company profile STP (Toba Tilapia), disebutkan perusahaan ini memiliki spesialisasi dalam menghasilkan tilapia (nila) dengan kualitas premium menggunakan induk yang berkualitas tinggi dan pakan yang diproduksi khusus oleh pabrik pakannya sendiri. Tilapianya dibudidayakan secara alami dalam keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba. Dengan sistem budidaya yang baik tersebut, Toba Tilapia mendapatkan beberapa sertifikat seperti BAP (Best Aquaculture Practices), ASC (Aquaculture Stewardship Council), juga dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). 
 
 
Proses budidaya yang tersertifikasi ini penting dalam menghasilkan produk fillet yang berkualitas. Imam Santoso mengatakan, kualitas tekstur daging dan rasa produk fillet yang baik dihasilkan dari ikan yang dibudidayakan dengan baik. 
 
 
Imam menceritakan secara singkat bagaimana nila dari Danau Toba diolah. Untuk menjaga kualitas, kata Imam, nila yang diproses harus masih hidup. Padahal jarak pengangkutan dari Danau Toba ke pabrik tersebut mencapai 32 kilometer (km). “Fresh masih hidup, kalau mati gak diproses,” terangnya sambil mengamati proses olahan dari CCTV. 
 
 
Ikan mati, meskipun belum lama, tidak dapat diproses karena darah di dalam tubuhnya tidak sempat dikeluarkan. Padahal, pengeluaran darah dari dalam ikan ini menjadi salah satu proses yang harus dilakukan di pabrik Toba Tilapia agar kualitasnya bagus. “Kalau mati kan darah belum keluar. Kalau di dalam proses (SOP) kan ada proses bleeding, mengeluarkan darah,” imbuh Imam. 
 
 
Proses pembuatan fillet berjalan setiap hari kerja. Bahan baku ikan hidupnya sudah sampai di pabrik dari pukul setengah 6 pagi. Secara umum, untuk sampai menjadi fillet berkualitas ekspor ada beberapa proses yang harus dilakukan seperti bleeding (pengeluaran darah), pemiletannya itu sendiri, penyucian, skinning (pemisahan kulit), trimming (perapihan setelah dikuliti), pemakuman, pembekuan, hingga pengemasan. 
 
 
Berdayakan Masyarakat 
Memulai budidaya sejak 2012, Toba Tilapia mendapat izin dari Pemerintah Daerah Simalungun untuk memproduksi nila hingga 30 ribu ton per tahun di 3 lokasi di Danau Toba. “Tapi saat ini kami hanya beroperasi di satu lokasi saja,” kata Imam. Produksinya pun masih sangat jauh dari izin yang diberikan. Pada 2018 saja, produksi nila Toba Tilapia masih di angka 4 ribu ton per tahun. 
 
 
Telah berproduksi sejak 2012, Toba Tilapia baru menggunakan pabrik sendiri itu sejak 2016. Pembuatan pabrik nila di Sumatera Utara ini sebagai respon dari ajakan pemerintah daerah saat itu untuk memajukan Simalungun. “Ya kami berusaha seluruhnya di kabupaten Simalungun, mulai dari hatchery, grow out dan processing plan, juga tenaga kerja 85 % warga lokal, kami juga pakai merk dagang Toba Tila¬pia, sehingga kami membawa nama Toba mendunia,” ungkap Imam. 
 
 
Sesuai dengan jargon utama perusahaan induknya “Growing towards mutual prosperity” dimana Toba Tilapia turut memberdayakan masyarakat setempat. Tidak hanya memberdayakan secara langsung dengan menjadikannya karyawan, tetapi juga melalui peluang dan aktivitas lainnya. Pemberdayaan ini sudah dimulai dari hulu produksi di bagian budidaya hingga di bagian pemanfaatan limbah produksi pengolahan. 
 
 
Dari sisi hulu, Toba Tilapia telah memberdayakan pembudidaya lokal untuk bekerjasama dalam menghasilkan benih ikan nila yang siap ditebar di KJA Danau Toba. Kerja sama ini terjalin dalam program contract farming. Di mana pembudidaya mendapatkan larva berkualitas dari hatchery Toba Tilapia untuk dipelihara hingga bobotnya 20 gram. Setelah itu benih dibeli kembali oleh Toba Tilapia untuk ditebar di KJA.
 
 
Kerja sama ini membawa dampak positif bagi para pembudidaya mitra, mereka merasa diuntungkan dengan kerjasama tersebut. Sebabnya mereka mendapatkan pasokan bibit nila yang berkualitas. Hal itu membuat kegiatan budidaya mereka menjadi lebih mudah. “Saya semangat juga bergabung di sini. Karena ada pertumbuhan lebih cepat. Hasil kerja kita putarannya jadi lebih cepat lagi,” ujar Gimson, salah satu pembudidaya mitra Toba Tilapia.
 
 
Sementara di bagian hilirnya, Toba Tilapia juga melakukan edukasi kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan hasil samping dari pengolahan. Hasil samping ini cukup banyak karena produk akhir hanya membutuhkan 27-33 % bagian tubuh ikan nila. “Kita kerja sama dengan karang taruna dan kelompok tani, kita jual kepala dan tetelan (nila),” ungkap Imam Santoso. 
 
 
Untuk dapat memanfaatkan hasil samping tersebut, masyarakat terutama ibu-ibu PKK diberikan pelatihan cara pengolahannya. Beragam produk bisa dihasilkan dari hasil samping itu, mulai dari kerupuk kulit, tepung ikan, minyak ikan, hingga menjadi bahan baku. “Tetelannya itu mereka setiap hari ada yang beli fresh. Ada juga yang kita bekukan (hasil sampingnya),” tambah Imam. 
 
 
Menurutnya lagi, pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan hasil samping ini telah sejalan dengan pemerintah daerah Kabupaten Simalungun yang perhatian dengan produk sampingan dari olahan ikan. Tak hanya untuk keperluan masyarakat sekitar, hasil samping dari olahan nila Toba Tilapia juga bisa sampai ke pulau Jawa. “Itu biasanya kalau di Jawa dibuat kerupuk kulit” kata Imam. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain