Selasa, 7 Mei 2019

Minapadi Udang Windu di Air Payau

Minapadi Udang Windu di Air Payau

Foto: dok.KKP


Barru (TROBOSAQUA.COM). Minapadi udang windu dikembangkan untuk memberdayakan lahan mangkrak di lingkungan air payau, dengan menyesuaikan kehidupan tumbuhan padi dan udang windu pada salinitas 10 ppt.

 

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan panen hasil  Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (Intan-AP) padi udang windu (Pandu) di lahan idle (menganggur) dusun Uring, desa Lawallu, kecamatan Soppengriaja, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada 5 Mei 2019.

 

“Teknologi ini menarik dan merupakan teknologi baru, yang mencoba menggabungkan udang windu yang biasanya hidup di laut, dengan padi yang biasanya hidup di air tawar,” jelas Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja. 

 

Ternyata dengan teknologi, dua makhluk hidup itu bisa didekatkan padasatu habitat. Padi varietas khusus yang mampu bertahan pada air payau sampai 10 ppt disiapkan. Kemudian udang windu yang biasa hidup pada salinitas 45 ppt, ternyata bisa diadaptasikan pada air yang salinitasnya diturunkan menjadi 10 ppt.

 

“Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga. Jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas,” tandas Sjarief.

 

Panen dilakukan di lahan seluas ± 1 hektar, terbagi menjadi cekungan caren untuk tempat hidup udang windu ± 30% dan lahan padi sebesar ± 70 %. Lahan itu berada di persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.

 

Intan-AP Pandu merupakan integrasi teknologi budidaya udang windu dengan padi varietas toleran salin untuk memanfaatkan potensi lahan mangkrak yang disebabkan oleh intrusi air laut.

 

Kegiatan riset ini diinisiasi oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) pada tahun 2018 melalui kerjasama riset antara Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Kementerian Pertanian.

 

Dijelaskan bahwa tokolan udang windu yang digunakan adalah hasil riset perakitan strain udang windu unggul BRPBAP3, sedangkan varietas padi toleran salin yang digunakan adalah Inpari 34 dan 35 yang merupakan hasil riset perakitan varietas BBPadi.

 

"Perbaikan teknologi budidaya minapadi air payau pada tahun ini yaitu pencegahan serangan hama pada tanaman padi tidak lagi menggunakan pestisida kimia, namun menggunakan biopestisida atau pestisida nabati yang aman bagi kehidupan udang dan ramah lingkungan,” papar Sjarief.

 

Keberhasilan teknologi ini, sambung dia, sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi. Karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda.

 

Senada dengan Sjarief, Sulkaf S Latief selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendukung Program Gubernur Sul-Sel bagi kebangkitan udang windu di Sulawesi Selatan. “Tahun depan insya Allah, kita dapat menaikan produksi udang windu,” ujar Sulkaf.

 

Peningkatn produksi udang windu diharapkan disumbang oleh kabupaten Barru, Pinrang, Bone, Bajo, Talakalar, Bulukumba, Sinjai. Sulkaf berharap agar kajian riset INTAN-AP PANDU dapat menjadi informasi yang berguna bagi masyarakat dalam pemanfaatan lahan padi yang mangkrak oleh interusi air laut.

 

Hasil Panen

Teknologi Intan-AP Pandu mampu menghasilkan beras 2.5 ton dari 0,7 hektar dan 216 kilogram udang (lahan 0,3 hektar), dalam satu kali masa tanam. Dengan harga pasaran udang Rp 75.000 perkilogram serta harga gabah kering panen Rp 4.000 per kilo, pembudidaya minapadi mendapatkan hasil senilai Rp 26 juta dalam satu kali masa tanam.

 

Sebelumnya, riset teknologi budidaya minapadi air payau telah diujicobakan pada musim kemarau dan musim penghujan. Berdasarkan hasil percontohan dilokasi ini, potensi produksi udang adalah 216 kg / lahan minapadi dengan padat tebar 4 ekor/m², sedangkan produksi padi adalah 2.450 kg / lahan minapadi.

 

Hasil riset ini juga merupakan bagian dari perwujudan program BRSDM dalam menciptakan desa inovasi digital 4.0 di sejumlah daerah. Sebelumnya BRSDM telah mengembangkan desa inovasi digital 4.0 di Kampung Gabus di Ciseeng, Kampung Sidat di Cilacap, dan Kampung Nila di Sleman. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain