Selasa, 15 Juni 2021

Alur IPAL Tambak Udang

Alur IPAL Tambak Udang

Foto: Istimewa




Mulai dari komponen dan alur sirkulasi air dan pengolahan limbah tambak udang perlu didesain secara rinci supaya hasil optimal


Dalam sebuah forum diskusi secara daring yang digelar baru-baru ini oleh US Soybean Export Council (USSEC) dan Forum Udang Indonesia (FUI) dibahas topik teknis terkait bagaimana cara mengolah limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tambak udang. Tema yang diangkat dalam forum tersebut “Designing effective waste water treatment for shrimp farming in Indonesia (Merancang pengolahan air limbah yang efektif untuk budidaya udang di Indonesia)”.

 


Tampil menjadi pembicara Dr John Hargreaves, Aquaculture Consultant&Editor-in Chief, World Aquaculture Magazine dengan materi “Waste Water Treatment Technology for Shrimp Farming (Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Budidaya Udang)”. Hadir juga narasumber Itang Hidayat dari Aquaculture Technology and Develepment PT STP-Japfa Aquaculture dengan judul “Kinetika Proses Pengelolaan Limbah Cair dan Padat Tambak Udang.

Komponen IPAL
Dalam melaksanakan sistem resirkulasi air tambak, Hargreaves menjelaskan, komponen yang dibutuhkan adalah pra treatment (perlakuan) air, wadah untuk udang, suplai oksigen, treatment limbah dan sirkulasi air. Lalu komponen yang dibutuhkan dalam penampungan lumpur padat adalah berupa kerucut pengumpulan pusat, kolam sedimentasi, filter drum, filter roti, fraksionator busa.

 


Kemudian untuk pengolahan lumpur padat dibutuhkan produksi biogas, dehidrasi, dan ketersedian lahan. Sementara, untuk pengendalian amonia dibutuhkan air hijau, bioflok, biofilter dengan substrat. Dan untuk kontrol nitrat dibutuhkan zona anoksik dalam, area pengendapan padatan reaktor denitrifikasi.

 


Itang Hidayat ikut menjelaskan tentang karakteristik limbah cair dan padat dari tambak udang. Karakteristik limbah cair tambak udang tidak terlalu tinggi dalam konsentrasi polutannya, namun melibatkan volume air yang besar. Konsentrasi polutannya tergantung pada usia budidaya, kepadatan tebar, sistem budidaya, dan konstruksi.

 


Menurut Itang, konsentrasi COD dan TSS < 100 ppm untuk efluen (air buangan kolam) saat panen, namun dapat berada pada 400 - 1.000 ppm COD dan TSS pada buangan lumpur reguler/sifon. Retensi nutrien dari pakan di kolam udang hanya sebesar N 22 % P 10 % dalam biomassa udang. “Itu, berarti 78 % N dan 90 % P terbuang dari kolam sehingga polutan utama dari limbah tambak udang adalah pencemaran nutrien terhadap lingkungan,” ia mengingatkan.

 


Itang menilai, lumpur yang tidak dipisah dari air limbah akan menghambat efisiensi penurunan konsentrasi polutan air limbah, karena limbah padatan meluruh secara lambat ke badan air. Akibatnya efisiensi removal TSS, turbiditas, N, P, S, COD dari air limbah yang diolah akan buruk.

 


Pembentukan gas H2S oleh bakteri pereduksi sulfat di sedimen lebih masif dengan memanfaatkan sumber ion sulfat dari air laut. Lumpur juga menjadi habitat biofilm bakteri VP AHPND. Di alam VP membentuk lapisan biofilm di sedimen, saat terjadi upwelling, koloni Vp terdispersi dalam air laut dan melakukan penempelan kembali di substrat lain, seperti pada plankton, pasir filter air, udang, ikan, kerang atau rumput laut.

 


Biofilm Vp juga menempel pada plankton, zooplankton, detritus, dan bioflok. Koloni bakteri Vp berupa biofilm memiliki resistensi yang tinggi terhadap antibiotika, probiotik, dan disinfektan. Sebanyak 70 % toksin PirA & PirB VpAHPND terdeteksi di lumpur dan 30 % di air.

Resirkulasi Air
Pada forum tersebut Hargreaves juga menjelaskan pentingnya sirkulasi air tambak. Sirkulasi air tambak udang diperlukan karena penyerapan oksigen ke lapisan terbawah tambak terbatas. Lalu, sirkulasi air dengan sendirinya dapat bermanfaat dan menghilangkan atau dapat mengurangi kebutuhan air untuk pertukaran air.

 


Terdapat manfaat potensial dari pencampuran oksigen yang dihasilkan alga dari kolom air ke dasar kolam. Kemudian sirkulasi air juga dapat mengatasi keterbatasan produktivitas alga. Sasaran kecepatan arus resirkulasi berkisar antara 5 - 10 cm/detik.

 


Menurut Hargreaves, terdapat sejumlah alasan yang saat ini digunakan dalam mengembangkan desain tambak bersirkulasi. Di antaranya, perlu mempertimbangkan limbah udang dan laju produksi metabolisme untuk desain proses unit RAS (penangkapan limbah padat, biofiltrasi, aerasi, dan lainnya). Dimana produksi FOD: 1 - 1,2 kg O2/kg pakan; respirasi udang: 250 - 300g O2/kg pakan dan ekskresi TAN: 30g TAN/kg pakan.

 


Kebutuhan oksigen pakan, disebutkan pemateri, adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi karbon organik (FOD-c) dan nitrogen (FOD-n) dalam pakan yang tidak diubah menjadi udang yang dipanen. Jumlahnya, tergantung FCR, tetapi biasanya sekitar 1 - 1,2 kg O2/kg pakan.
Lalu, peningkatan kualitas air juga bisa dilakukan dengan proses biologi dan fisik tambak. Proses biologi berupa aktivitas alga dan bakteri, nitrifikasi/denitritikasi. Proses fisik berupa adsorpsi ke sedimen mineral.

 


“Kemudian tambak bersirkulasi juga bisa memisahkan area pembesaran udang dari fungsi pengolahan limbah. Pindahkan air limbah dari kolam untuk pembesaran dengan kepadatan tinggi ke kolam treatment sehingga lebih banyak oksigen yang digunakan oleh udang,” urainya. Urutan treatment, pemateri menyarankan, mulai dari zona sedimentasi, terus anaerobik, dilanjutkan ke zona fakultatif, zona oksidasi, dan terakhir zona pengkondisian.

 

 


Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 109/15 Juni – 14 Juli 2021

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain