Selasa, 15 Desember 2020

Stimulasi Warna Cupang Hias

Stimulasi Warna Cupang Hias

Foto: syafi
Plakat

Ragam cara untuk memunculkan warna cupang peliharaan, dari media airnya hingga pakannya 
 
 
Cupang (Betta.Sp) menjadi jenis ikan hias yang kini banyak digemari kembali oleh berbagai kalangan. Pasalnya, ikan hias kecil ini dahulu sempat booming di era 1980 – 90an, sehingga seolah mengingatkan pada masa kecil ketika memeliharanya. Beberapa tahun silam, cupang semakin berkembang baik jenis dan juga corak warnanya sehingga semakin menarik untuk dipelihara.
 
 
Beberapa waktu lalu TROBOS Aqua menggelar acara seminar daring dengan mengangkat tema stimulasi warna cupang dengan pakan buatan. Dalam acara tersebut, Dedi Yusolianto atau yang tenar dikenal sebagai Deeway Gembel di kalangan ‘percupangan’ menyampaikan, corak warna tubuh cupang akan mulai muncul ketika cupang memasuki umur 2-2,5 bulan. “Kemudian, terus bermutasi (berubah) hingga nanti berumur 7 bulan,” ungkap Deeway.
 
 
Deeway kemudian menjelaskan, banyak faktor yang berpengaruh dalam menstimulasi corak warna tubuh ikan cupang. Diantaranya; genetik yang berasal dari induk yang berkualitas, treatment (perawatan), dan juga pakan yang diberikan selama pemeliharaan. 
 
 
Genetik Induk Berkualitas
Untuk memunculkan corak warna yang indah pada tubuh cupang perlu diperhatikan berbagai hal; satunya adalah genetik. Dimana, ujar Deeway, genetik ini dapat diperoleh dari indukan yang berkualitas. 
 
 
Untuk memilih cupang yang bagus, ia katakan, perlu memperhatikan warna indukan yang menarik pula. Pasalnya, nanti akan sangat berpengaruh terhadap anakan ikan yang dihasilkan. “Seperti corak warnanya yang kuat (tidak pudar), dan juga berbagai macam pola warna yang dimiliki masing - masing jenis cupang tersebut,” beber Deeway. 
 
 
Tak hanya jantan, sambungnya, pemilihan induk cupang betina pun perlu diperhatikan dari segi warnanya. Karena nantinya akan terprediksi anakan ikan cupang yang akan dihasilkan. 
 
 
Senada dengan pemilihan induk, Fandi Sumardi selaku Breeder (pembudidaya) cupang asal daerah Jonggol - Jawa Barat (Jabar) pun menambahkan. Dalam memilih indukan, ucap Fandi, perlu diperhatikan harmonisasi warna antara jantan dan betina, sehingga nantinya bisa diprediksi warna anakan cupang yang dihasilkan. 
 
 
Karena, menurut Fandi, jika bicara mengenai warna, berarti genetik yang diturunkan dari induk ke anak cupangnya. Maka dari itu, breeder atau pembudidaya perlu lebih selektif dalam memilih asal indukan yang berkualitas.
 
 
“Asal usul yang dimaksud adalah jelas dari hasil perkawinan jenis apa dan umurnya berapa. Karena, jika indukan tidak diketahui asal usulnya, akan berpengaruh ke anakan. Dimana, ketika indukan dikawinkan, anakannya tidak sesuai prediksi baik dari segi warna,” terang Fandi yang menamai usahanya betta university. 
 
 
Sambung Fandi, hal tersebut menyebabkan faktor genetik sangat mempengaruhi kualitas anakan yang akan dihasilkan. Tak hanya warna, lebar ekor, dorsal (sebutan sirip punggung), hingga pertumbuhannya pun akan terpengaruh jika hanya asal saja. Maka dari itu, yang menjadi faktor utama dalam memunculkan warna adalah genetik induk yang kuat, sehingga anakannya pun nanti sudah dipastikan warnanya bagus.
 
 
Treatment yang Sesuai
“Tak hanya indukan berkualitas, perawatan yang sesuai pun juga akan mempengaruhi kualitas warna ikan yang kita miliki,” beber Deeway yang kerap disebut sebagai Presiden Cupang Indonesia. Imbuhnya, karena dengan perawatan yang optimal warna akan terstimulasi. Sebagai contoh, penggunaan daun ketapang kering yang sebelumnya telah diolah terlebih dahulu kemudian direndam didalam soliter (sebutan akuarium cupang) bersama cupang akan lebih membuat ikan nyaman, karena sesuai habitatnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-103/15 Desember 2020 – 14 Januari 2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain