Rabu, 15 Juli 2020

Menakar Pasokan Ekspor Ikan Hias

Menakar Pasokan Ekspor Ikan Hias

Foto: rizki


Pasar ekspor ikan hias terus tumbuh, pelaku dihadapi sejumlah tantangan untuk memenuhi tinggimya permintaan luar negeri
 
 
Indonesia merupakan salah satu produsen ikan hias terbesar di dunia, dimana hasil produksinya tersebar ke beberapa belahan dunia seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Asia. Tak dipungkiri pula kualitas, serta keberagaman jenis ikan hias dalam negeri bisa bersaing di kancah internasional. Lantas sejauh mana kesanggupan stakeholder (pemangku kepentingan) ikan hias dalam negeri dalam menanggapi permintaan tersebut dan juga bagaimana fakta aktual terkini ikan hias dalam negeri? 
 
 
Pasar Ekspor
Guna menjawab pertanyaan tersebut, TROBOS Aqua menemui sejumlah pelaku usaha ikan hias. Salah satunya yaitu Stefanus Utjin Sutisna selaku pembudidaya ikan hias kawakan di daerah Gading Serpong, Tangerang – Banten. Ia menilai, demand (permintaan) ikan hias, untuk luar negeri semakin tinggi 10 tahun terakhir ini. 
 
 
Lebih jauh Stefanus menjelaskan, jenis ikan hias untuk ekspor masih didominasi dengan keluarga dari jenis tertra, seperti jenis neon tertra, red nose terta, dan cardinal tetra sekitar 60 % dari kuota ekspor yang ada, sisanya terdiri dari beragam jenis lainnya. Jenis ikan tetra tersebut banyak diminati pasar luar ngeri karena ukurannya kecil, warnanya beragam dan menarik, kemudian ikan tersebut cocok dipadukan dalam akuarium aquascape. 
 
 
Menurut Stefanus, peruntukan ikan hias untuk luar negeri tidak hanya sebagai ikan hias saja, ada juga yang dijadikan bahan baku pembuatan kosmetik seperti jenis corydoras dan jenis-jenis lainnya. “Bahkan saat ini, jenis denisoni mencapai jutaan ekor perbulannya ke China, berdasar informasinya bahwa ikan tersebut memiliki kadar albumin yang lebih tinggi jika dibandingkan ikan gabus. Yang pada umumnya albumin digunakan untuk kebutuhan farmasi,” tutur Stefanus yang menamai usahanya Salus Aquarium. 
 
 
Senada dengan Stefanus, Euis selaku supplier (pemasok eksportir) ikan hias yang berlokasi di Bogor - Jawa Barat (Jabar) mengatakan, hingga kini ikan jenis tetra permintaanya masih cenderung stabil jika dibandingkan jenis lainnya. Hal ini karena di dalam negeri jenis ikan hias air tawar ini relatif mudah untuk dibudidayakan, sehingga kontinuitasnya terjaga. Termasuk harga ikan ini produksi Indonesia bisa bersaing di luar negeri, tidak heran jika berbagai negara banyak yang meminta jenis ini. 
 
 
selain itu, lanjut Euis, ada beberapa jenis lainnya yang juga untuk mengisi pasar ekspor. “Tidak hanya ikan hias yang sengaja dibudidayakan saja yang diekspor, ikan-ikan tangkapan alam juga banyak diminati luar negeri seperti botia macracantha, yang kini sudah bisa dibudidayakan, kemudian datz Kalimantan, serta ketang-ketang,” kata Euis.
 
 
Sebagai eksportir ikan hias di daerah Tangerang, Teguh M Wijaya juga membenarkan bahwa tetra memiliki banyak penggemar di luar negeri. Dalam satu bulan puluhan ribu neon tetra diekspor ke berbagai negara tujuan. Tak hanya tetra, komoditas lainnya sebagai penghias akuarium seperti guppy, dan ikan yang umum dikenal masyarakat juga diekspor ke berbagai negara tujuan. Negara tujuan yang cukup banyak menyerap ikan hias dalam negeri adalah negara – negara Eropa, China, dan AS.
 
 
Bicara mengenai permintaan ikan hias, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Bandung - Jabar, Dedy Arief Hendriyanto mengatakan, permintaan ikan hias dalam negeri untuk diekpor sangatlah tinggi. “Tercatat oleh BKIPM Bandung, jika di rata-rata dalam satu bulan nilainya bisa mencapai Rp 11 miliar, atau per harinya mencapai Rp 500 juta. Ini baru di Bandung belum yang lainnya. Ini bukan merupakan angka yang kecil, maka dari itu ikan hias merupakan salah satu penyumbang devisa negara,” ungkap Dedy. 
 
 
Sambung Dedy, dengan angka tersebut Bandung menempati urutan 3 nasional pemasok ikan hias ekspor, bagaimana dengan Denpasar yang menempati posisi pertama, dan Jakarta nomor dua. Sudah jelas bahwa ikan hias merupakan usaha yang prospektif. Selain berdasarkan data beberapa tahun kebelakang, bahwa angka ekspor untuk komoditas cupang pun kian meningkat. Hal ini menunjukan bahwa adanya permintaan yang cukup banyak akan produk cupang dalam negeri untuk dikirim keluar.
 
 
Joty Atmajaja selaku transhipper (jasa ekspor) komoditi cupang membenarkan Dedy, beberapa tahun kebelakang pangsa pasar cupang kian melabar hingga ke Rusia, Jerman, bahkan sampai ke Meksiko. Ia mencontohkan, alam satu bulannya tak kurang sari 2.000 - 3.000 ekor cupang dikirim ke berbagai negara tujuannya. 
 
 
Menurut Joty, hal ini terjadi karena penggunaan media sosial yang kian berkembang, banyak pembudidaya dalam negeri yang menjual melalui media sosial hingga menjangkau pembeli dari berbagai belahan dunia. Dengan demikian menstimulasi para pembudidaya lainnya agar bisa menjual cupangnya ke luar negeri. 
 
 
Tantangan Produksi 
Terkait perkembangan produksi ikan hias dalam negeri, Stefanus menjelaskan, bahwa saat ini budiadaya ikan hias masih bersifat dinamis dan prospektif. Pasalnya, dengan adanya perkembangan teknologi khususnya media sosial membuat pemasaran ikan lebih luas dan bisa mencapai luar negeri. 
 
 
Terlebih lagi, lanjutnya, saat ini mudah sekali mencari informasi cara pemeliharaan jenis-jenis ikan hias melalui ponsel pintar (smartphone), dan bisa langsung diaplikasikan. “Berbeda hal di zaman dulu, untuk mencari buku referensi mengenai budidaya ikan hias sangat sulit, dan penelitiannya masih sedikit. Terlebih lagi komunikasi sangat terbatas hanya menggunkan telepon, dan mesin faks,” terang pria yang memulai usaha ikan hias sejak 1994 silam.
 
 
Namun pada kenyataannya saat ini, Stefanus menjelaskan, dalam kondisi yang serba mudah pembudidaya ikan hias masih dihadapi sejumlah tantangan. Pertama, persaingan harga yang cukup ketat terjadi di dalam usaha ikan hias. Hal ini terjadi karena tidak adanya standar harga yang ditetapkan untuk komoditas tertentu. 
 
 
Terlebih lagi nominal keuntungan pelaku usaha berbeda-beda, ada yang merasa menjual Rp 2 ribu per ekor sudah dirasa cukup, ada juga yang minimal harus menjual Rp 5 ribu untuk komoditas yang sama. Hal tersebut terjadi karena kebutuhan setiap orang berbeda, dan juga kondisi geografis lokasi usaha juga menentukan. 
 
 
“Seperti halnya jika pembudidaya ikan hias di Bekasi, yang terkenal akan melimpahnya pakan alami berupa kutu air (Daphnia.sp) dan cacing sutera (Tubifex.sp) di parit atau kubangan disana. Dengan demikian biaya produksi mereka cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan pembudidaya yang berada di tengah kota. Maka dari itu, persaingan harga yang cukup sengit terjadi di ikan hias,” beber Stefanus.
 
 
Euis pun menimpali bahwa saat ini biaya operasional yang kian meningkat tidak sebanding dengan harga jual ikan yang tidak ikut naik, padahal melihat kondisinya saat ini harga dolar yang bagus seharusnya eksportir menaikan harga beli ikan. 
 
 
Kemudian, kata Euis, permintaan komoditi tertentu untuk diekspor terkadang berubah-ubah, hal tersebut juga berdampak pada fluktuasi harga di dalam negeri. Seperti beberapa kasus yang pernah terjadi, adanya permintaan ekspor akan ikan jenis dollar totol sebanyak minimal 2.000 ekor per minggu, setelah berkoordinasi dan di produksi oleh pembudidaya, tiba-tiba permintaan tersebut tidak ada lagi. Kejadian tersebut memberatkan pihak supplier yang harus menanggung beban kepada para pembudidaya yang sudah dijanjikan unutuk dibeli ikannya. 
 
 
“Jika ikan yang sudah dijanjikan untuk di beli permintaanya hilang, maka sebagai supplier bingung dan tidak enak. Apabila ikan di pembudidaya kami ambil, supplier juga bingung mau di jual kemana karena tidak ada permintaan, yang ada nantinya akan mati di farm,” pungkasnya. 
 
 
Euis menambahkan, saat ini sulit memenuhi jumlah kebutuhan eksportir, pasalnya beberapa tahun kebelakang iklim di Indonesia cenderung berubah dan cukup ekstrem. Dampaknya para pelaku usaha ikan hias cenderung menemui kegagalan dalam proses budidaya, dan berakibat pada sulitnya mencari ikan di lapangan untuk dieskpor. 
 
 
Dedy pun ikut menyampaikan mengenai kondisi yang terjadi di dalam negeri, bahwa pembudidaya ikan hias lokal masih menginginkan harga jual yang terlalu tinggi. Semisal untuk ikan koki yang harga satuanya dibanderol sekitar Rp 20 ribu per ekor untuk eceran. Namun, jika dijual ke supplier atau eksportir harganya berubah menjadi harga borongan misal menjadi Rp 15 ribu per ekor, para pelaku tidak mau, mereka masih menginginkan harga yang sama dengan eceran. 
 
 
Sebenarnya sama saja, tinggal kuantitasnya saja yang diperbanyak. “Jika masih bertahan dengan harga demikian perputaran uangnya cenderung lebih lama jika ikannya diecer, dibandingan dengan memasok ikan ke supplier atau eksportir,” kata Dedy.
 
 
Terlebih lagi, lanjut Dedy, kurangnya pemahaman akan pentingnya konsep biosekuriti di lokasi usaha untuk pembudidaya yang skalanya menengah ke bawah. Akibatnya, produk yang dihasilkan terkadang masih belum lulus uji karantina saat ikan akan dikirim. 
 
 
Dedy menjelaskan, adanya temuan-temuan seperti ikan sakit, terserang jamur, ataupun lainnya tidak bisa diberangkatkan. Hal ini akan berdampak pada kerugian si produsen ataupun eksportir yang mengambil ikan dari pembudidaya binaannya.  Padahal jika lokasi usaha ikan hias menerapkan konsep biosekuriti akan lebih aman terbebas dari serangan penyakit, dan ikan yang dihasilkan cenderung lebih aman dan lolos dari pengecekan karantina. 
 
 
Meski demikian, Dedy menambahkan, melihat contoh di Bandung, bahwa sektor ini cukup menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Dimana di satu lokasi ekoportir besar minimal 100 orang pekerja, kemudian di pembudidaya binaan skala menengah paling tidak ada sekitar 3 - 5 karyawannya. Jika dikalikan 1.000 pembudidaya dan jumlah eksportir maka nilai serapan tenaga kerja di sektor ini cukup besar.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-98/15 Juli – 14 Agustus 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain