banner12 1
Iklan Web R

Udang Windu Bioflok Kunci Sukses Petambak Milenial

Panen udang dok nattasya

 

Dengan sistem inovatif ini, mereka mampu mengatasi tantangan budidaya dan meraih hasil yang maksimal.

 

Industri perikanan Indonesia terus berkembang pesat, dan salah satu sektor yang paling menjanjikan adalah budidaya udang windu. Namun, di balik potensi besar ini, para petambak di daerah seperti Kalimantan Utara (Kaltara) menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat. Iklim yang ekstrim, kualitas air yang kurang ideal, serta predator yang sering mengancam kelangsungan hidup udang, menjadi hambatan utama dalam upaya meningkatkan hasil budidaya.

Di tengah tantangan-tantangan ini, muncul sosok petambak muda yang membawa angin segar yaitu Indra Wahyudi, seorang pionir dalam penerapan sistem bioflok untuk budidaya udang windu di Kaltara. Indra Wahyudi adalah pendiri Tambak Milenial Kalimantan Utara, yang berhasil membuktikan bahwa dengan pendekatan yang lebih inovatif dan berkelanjutan, masalah yang dihadapi petambak tradisional bisa diatasi.

Kaltara memiliki potensi luar biasa dalam sektor perikanan, khususnya budidaya udang windu. Namun, kondisi geografis yang keras dan cuaca yang tidak menentu membuat banyak petambak kesulitan untuk mengelola tambak mereka dengan optimal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indra selama dua tahun terakhir, sebagian besar petambak tradisional di Kaltara hanya mampu meraih hasil sekitar 10% dari jumlah bibit yang ditebar. Ini sangat merugikan, mengingat biaya dan tenaga yang dikeluarkan sangat besar.

Masalah utama yang dihadapi adalah serangan predator seperti berang-berang, ikan kakap, dan bahkan buaya yang sering merusak tambak. Selain itu, kualitas air yang buruk dan kurangnya lahan subur semakin memperburuk hasil budidaya. Berangkat dari permasalahan ini, Indra merasa perlu untuk mencari solusi yang lebih inovatif dan berkelanjutan agar sektor perikanan di daerahnya bisa berkembang pesat. Maka lahirlah Tambak Milenial Kalimantan Utara, dengan penerapan sistem bioflok sebagai solusi utama.

Jika menilik arti kata, sistem bioflok adalah metode budidaya yang mengandalkan mikroba dan bakteri probiotik untuk menciptakan pakan alami bagi udang windu. Dalam sistem ini, tambak tidak hanya berfungsi sebagai tempat budidaya udang, tetapi juga menciptakan ekosistem mikroba yang sehat, yang membantu pertumbuhan udang windu secara optimal.

Salah satu keuntungan utama dari sistem bioflok adalah mengurangi ketergantungan terhadap lahan yang luas. Berbeda dengan tambak tradisional yang membutuhkan area yang besar, sistem bioflok memungkinkan budidaya udang dalam ruang yang lebih terbatas. Ini sangat relevan mengingat terbatasnya lahan yang tersedia di Kalimantan Utara.

Selain itu, sistem bioflok juga membantu mengatasi berbagai masalah yang sering dihadapi petambak tradisional. Dengan penggunaan mikroba dan probiotik yang tepat, kualitas air dalam tambak dapat terjaga dengan baik, serta risiko penyakit dan hama dapat diminimalkan. Mikroba yang ada dalam sistem ini juga berfungsi untuk menghasilkan pakan alami bagi udang, yang akhirnya mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan angka kelangsungan hidup udang windu.

Indra menjelaskan bahwa penerapan sistem bioflok ini cukup praktis dan mudah dilakukan. Langkah pertama adalah membangun kolam bundar sebagai dasar tempat budidaya. Setelah itu, terpal bundar dipasang untuk membentuk dinding kolam yang dapat menjaga kestabilan air dan menghindari kontaminasi dari luar.

Air asin yang sudah dihitung salinitasnya kemudian dimasukkan ke dalam kolam. Proses perlakuan air menggunakan probiotik dan mikroba dilakukan selama sekitar seminggu untuk menciptakan kondisi yang ideal bagi udang windu. Setelah itu, bibit udang windu yang sudah disiapkan dengan hati-hati ditanam ke dalam kolam. Setiap udang diberi ruang yang cukup untuk tumbuh dengan baik.

 

Contoh Keberhasilan

Keberhasilan penerapan sistem bioflok di Tambak Milenial Kalimantan Utara sudah terbukti dengan peningkatan signifikan dalam angka kelangsungan hidup udang windu. Dengan metode ini, petambak bisa mencapai kelangsungan hidup udang antara 20% hingga 80%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tambak tradisional yang hanya menghasilkan sekitar 10% dari tebar bibit. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kemampuannya untuk menciptakan kondisi tambak yang lebih optimal, mengurangi risiko serangan predator, serta meningkatkan kualitas pakan alami yang dihasilkan oleh mikroba.

Hasil yang lebih baik tentu saja berarti keuntungan yang lebih besar bagi petambak. Dengan sistem bioflok, mereka dapat memperoleh hasil yang lebih optimal meskipun dengan lahan yang terbatas. Bahkan, banyak petambak di Kalimantan Utara yang mulai tertarik untuk mencoba sistem ini setelah melihat keberhasilannya. Indra terus berbagi pengetahuan dan pengalamannya melalui berbagai platform seperti media sosial dan forum petambak, dengan harapan bisa memperkenalkan dan mempopulerkan metode ini kepada lebih banyak orang.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
HEIF Image
Empat Aspek Penting CBIB
HEIF Image
Hiu Blacktip, Ikon Ikan Laut di Rumah DeHakim
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!