Lampung (TROBOSAQUA). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mengimbau pembudidaya ikan untuk mengantisipasi dampak dampak el nino ekstrem ‘El Nino Godzilla’ terhadap perikanan budidaya. Sebab el nino ini berpotensi menyebabkan peningkatan suhu udara dan suhu air secara signifikan, penurunan curah hujan, serta berkurangnya ketersediaan sumber air.
“Fenomena el nino ekstrim (El Nino ‘Godzilla’) merupakan tantangan yang harus diwaspadai dalam perikanan budi daya karena dapat menyebabkan perubahan suhu air, curah hujan dan kualitas lingkungan perairan. El Nino ekstrem diprediksi terjadi mulai bulan April hingga Oktober 2026,” tulis Direktur Ikan Air Tawar Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Gemi Triastutik dalam suratnya yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi seluruh Indonesia dan Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi Perikanan Budidaya seluruh Indonesia.
Dalam surat bernomor Nomor : B.996/DJPB.2/PB.220/IV/2026 tertanggal 8 April 2026 tersebut, Gemi menyebut, keberadaan Indonesia yang dekat dengan Samudera Pasifik diprediksi memiliki dampak yang signifikan seperti terjadinya kekeringan sehingga mengganggu kegiatan perikanan budi daya. El Nino ‘Godzilla’ berpotensi menyebabkan peningkatan suhu udara dan suhu air secara signifikan; penurunan curah hujan; serta berkurangnya ketersediaan sumber air.
Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas air, yang mana akan terjadi peningkatan suhu, penurunan oksigen terlarut, dan peningkatan amonia; Meningkatnya stres pada ikan sehingga terjadi penurunan nafsu makan dan
pertumbuhan ikan. Lalu meningkatkan risiko serangan penyakit akibat melemahnya sistem imun ikan dan berkurangnya ketersediaan air untuk budidaya. Bahkan akan menurunkan produktivitas dan potensi kerugian ekonomi bagi pembudidaya ikan.
“Dalam rangka mengantisipasi dampak dari El Nino ‘Godzilla’ yang ditengarai tidak
hanya berdampak pada budidaya ikan di perairan umum, namun juga pada budidaya ikan yang ada di kolam maupun di tambak, maka kami mohon agar saudara melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pembudidaya ikan terkait dampak dan langkah adaptasi menghadapi el nino,” direktur mengingatkan.
Adapun langkah antisipasi yang dapat diambil sebagai salah satu upaya mitigasi risiko dari el nino ini antara lain peningkatan pemantauan kualitas air. Lakukan monitoring rutin terhadap parameter kualitas air seperti suhu, oksigen terlarut (DO), pH, dan amonia agar terpantau kondisi riil di lapangan serta memetakan potensi risiko tinggi, sedang dan rendah dan upaya pengendaliannya.

Kedua, pengelolaan padat tebar. Pembudidaya agar dapat menyesuaikan padat tebar guna mengurangi tekanan yang ada pada lingkungan. Ketiga, optimalisasi kadar oksigen menggunakan aerator atau kincir air untuk menjaga ketersediaan oksigen dalam kolam/tambak.
Ketiga, manajemen pakan yang efisien yakni dengan mengatur pemberian pakan secara tepat guna menghindari penumpukan sisa pakan yang dapat menurunkan kualitas air akibat kadar amonia yang tinggi pada air.
“Keempat, pengelolaan air secara optimal dengan mengupayakan ketersediaan sumber air alternatif dan melakukan pergantian air secara berkala. Dan pengendalian penyakit ikan dengan meminimalisir potensi munculnya penyakit ikan dengan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh ikan dengan menggunakan imunostimulan, penggunaan probiotik, penerapan biosekuriti atau tindakan pencegahan lainnya,” tambah direktur.datuk-lampung/dini/edt



