banner12 1
Iklan Web R

Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi

By Istimewa

Jakarta (TROBOSAQUA). Dalam tambak super intensif penebaran benur perlu diperhatikan. Hatchery sudah menghasilkan benur berkualitas tetapi masuk di tambak masih menjadi tanda tanya. Namun sumber benur bagus dengan kualitas baik menjadi modal awal dalam keberhasilan budidaya udang. Lalu lakukan proses aklimatisasi sebelum benur masuk ke tambak. Kalau menebar benur langsung ke tambak berpotensi kematian cukup tinggi.

“Tidak kalah pentingnya, seberapa banyak benur yang di-stok ke dalam tambak karena terkait dengan feeding program yang dilakukan. Yang biasanya terjadi pada bulan pertama mereka mengejar target growth dengan blind feeding. Setelah blind feeding, umumnya mengikuti acuan di kemasan pakan. Biasanya pemberian pakan juga masih pakai manual dan untuk yang super intensif disarankan dengan automatic feeder yang bisa disetel per 5 menit melontarkan pakan sehingga tidak banyak yang terbuang,” ungkap peneliti Pusat Riset Budidaya Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Rachmansyah.

Monitoring kualitas air perlu dilakukan dengan bantuan data logger sehingga bisa memantau secara real time kondisi udang. Monitoring kualitas air secara periodik setiap 30 menit sehingga bisa dipantau perkembangan atau dinamika kualitas air tambak dan petambak bisa dengan segera memberikan eksekusi apa yang harus dilakukan guna menjaga kualitas air. Komponen lain yang perlu ada central drain untuk pembuangan slot.

Profesor menerangkan, bisa dilihat bagaimana buangan air tambak sebelum 1 menit warnanya sangat kental, hitam, pekat dan kadang juga berbau H2S dan semakin lama semakin bersih. Ini perlu dilakukan secara periodik guna menjaga buangan limbah yang terkumpul di dasar tambak. Beberapa aplikasi bahan aditif juga menjadi kebutuhan dan perlu dipilih probiotik atau bahan aditif yang betul-betul teruji.

Profesor Rachmansyah by dini
Profesor Rachmansyah by dini

“Apabila ukuran udang sudah masuk di marketable size perlu dilakukan pengurangan populasi dengan panen parsial. Dan manakala kualitas air sudah mengalami penurunan sehingga tidak memungkinkan untuk dipertahankan populasi udang atau biomassa udang dalam kondisi tinggi. Panen parsial bertujuan untuk mengurangi populasi atau beban ekologi tambak,” jelas profesor dalam webinar ‘Budidaya Udang Padat Tebar untuk Ketahanan Pangan Nasional’ yang digelar Pusat Riset Budidaya Laut BRIN beberapa waktu lalu.

“Performa tambak super intensif yang pernah kami lakukan di kolam 1.000 m² dengan stok yang densitas dari 300 sampai dengan 1.250 ekor/m, SR-nya mengalami penurunan dengan meningkatnya padat penebaran. Kemudian produktivitasnya juga meningkat dengan meningkatnya padat penebaran dan FCR-nya juga lebih efisien pada penebaran tertentu. Tetapi dengan meningkatkan padat penebaran, FCR juga bisa meningkat,” jelasnya.

Ini merupakan respon biologi udang terhadap padat penebaran. Bisa dilihat data bagaimana kebutuhan elektrik, berapa KW/kg udang yang dihasilkan dan berapa kebutuhan air atau meter kubik per kg yang dibutuhkan dan berapa produktivitas kincir per kg udang per 1 HP-nya.

Prof Rachmansyah kemudian menambahkan, semakin tinggi padat penebaran unit cost-nya semakin menurun karena akan dicapai suatu titik optimal untuk usaha. Kemudian dari operasional profitnya juga meningkat. Kalau digabungkan laba operasional dengan unit cost, maka pada penebaran optimal, keuntungan maksimal didapat pada kisaran padat penebaran 1.000 ekor/m².

Tentunya hal ini perlu didukung komponen yang bisa menjadikan tambak ideal bagi kehidupan udang. Pengaruh densitas stok dengan kedalaman air tambak terlihat pada regresi yang didapatkan dari padat penebaran yang berada pada kisaran 1.000 ekor/m2 dengan produktivitas maksimal bisa menjadi 17 kg/m³ per siklus.

Model regresi linear berganda ini menunjukkan produktivitas udang vannamei dipengaruhi secara signifikan oleh padat penebaran dan kedalaman tambak. Persamaan model kuadrat ini dengan nilai korelasi r-nya 0,98 mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara variabel teknis budidaya dan produktivitas.

Nilai koefisien regresi yang lebih besar pada variabel kedalaman tambak dibandingkan padat penebaran menunjukkan peningkatan volume air atau kedalaman air dan stabilitas hidrodinamikanya memiliki peran lebih dominan dalam meningkatkan produktivitas dibandingkan dengan sekadar meningkatkan padat penebaran. Temuan ini juga menegaskan produktivitas pada sistem budaya superintensif ditentukan oleh interaksi intensifikasi biologis dan optimasi desain wadah budidaya.

“Budidaya udang kepadatan tinggi juga pernah dicoba pada skala lebih kecil yakni skala rumah tangga pada penebaran 600 sampai 2.480 ekor/m3. Pelaksanaanya sangat memprihatinkan karena drainase input air sedang dalam proses persiapan. Namun demikian, data ini bisa menunjukkan bahwa budidaya udang skala rumah tangga juga bisa dilakukan,” simpul Prof Rachmansyah.ist/datuk/dini/edt

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!