Gurami menjadi salah satu komoditas ikan air tawar yang banyak dicari dari telur hingga ukuran dewasa
Gurami dikenal sebagai jenis ikan air tawar yang lamban pertumbuhannya. Untuk mendapatkan ukuran konsumsi, pembudidaya memerlukan waktu sampai satu tahun. Kendati begitu, segmentasi usaha budidaya gurami, mulai dari penjualan telur, pembenihan, hingga pembesaran masih menguntungkan.
Telur gurami bisa dijual dengan harga Rp850 per butir. Sedangkan benih ukuran silet dijual dengan harga Rp1000 per ekor dan gurami ukuran konsumsi (hidup) harga jualnya Rp27 ribu per kg. Umumnya, pasar ikan gurami (gurami, red) adalah hotel, restoran dan kafe/catering (horeka).
Bisa dibilang pasar gurami menyasar kalangan menengah atas. Permintaan jenis ikan air tawar ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta, Semarang, dan sejumlah kota besar lainnya di tanah air cukup tinggi, sehingga perputaran penjualan gurami di Tulungagung-Jawa Timur (Jatim) bisa tembus Rp1 miliar per hari.
Salah satu pembudidaya yang sekaligus pedagang gurami Tulungagung, Anik mengatakan, di Tulungagung ada sekitar 30-50 orang penjual gurami. Mereka itu ada yang sebagian merangkap menjadi pembudidaya gurami. Harga gurami kering (disimpan dalam es) dipatok sebesar Rp23 ribu -Rp24 ribu per kg. Sedangkan gurami yang masih hidup harganya Rp27 ribu per kg.
Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, penjualan gurami lebih tinggi dibanding dengan hari-hari biasa. Hal itu dikarenakan, banyak restoran, rumah makan dan hotel yang menyajikan menu bukan puasa dengan gurami.
“Kalau hari-hari biasa pedang gurami di Tulungagung mampu kirim gurami ke sejumlah kota besar sekitar 10 ton. Seperti Pak Tengik, pedagang gurami sebelah rumah saya itu bisa kirim 5-7 truk per hari,” kata Anik, di Jakarta, belum lama ini.
Ia juga mengatakan, satu pedagang mampu mengirim gurami ke sejumlah kota sebanyak 7-8 kuintal per hari. “Sehingga perputaran uangnya bisa Rp1 miliar per hari. Bayangkan saja satu pedagang saja bisa kirim sebayak 7 kuintal, dengan perkiraan nilanya sekitar Rp20 juta-an,” jelasnya.
Menurutnya, bisnis gurami sangat menguntungkan. Masyarakat bisa melakukan segmentasi usaha gurami, mulai dari penjualan telur, benih hingga pembesaran (konsumsi). Ibu Anik mengaku, selain melakukan pembesaran gurami juga mengembangkan pembenihan gurami. Ia membeli telur gurami ke sejumlah pembudidaya di Purwokerto, Blitar dan Lampung dengan harga Rp 750-Rp 850 per butir. Selanjutnya, telur gurami tersebut ditetaskan di sejumlah bak atau kolam.
Pastinya, untuk memulai pembenihan gurami perlu ketekunan dan ketelitian. Mengingat, pembenihan gurami itu dimulai dari telur. Setelah ditetaskan dalam bak dan menetas, maka pada umur 1 minggu anakan gurami harus dikasih pakan cacing sutera.
Kemudian pada usia 25 hari (mlandingan) benih gurami masih diberi pakan cacing sutera. Selanjutnya benih gurami bisa dijual saat memasuki uia 2,5 bulan (silet), dengan harga Rp 1.000 per ekor. “Pembeli benih gurami tak hanya dari Tulungagung saja, namun ada dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Trenggalek dan sejumlah daerah lainya,” ujarnya.
Anik mulai melakukan pembenihan gurami sejak 2019 silam. Pada saat itu, produksi benih gurami yang dibudidaya mencapai 50-100 ekor per bulan. Namun, seiring usianya yang sudah tak muda lagi, ia hanya memproduksi benih gurami sekitar 20-50 ribu ekor per bulan.
“ Rata-rata untuk penjualan benih gurami bisa mencapai 50 ribu ekor per bulan. Tapi, kalau sel uruh pedagang di Tulungagung ini penjualannya bisa mencapai 500 ribu ekor per bulan,” katanya.
Budidaya gurami sangat sensitif terhadap lingkungan. Artinya, gurami sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Gurami juga rentan terhadap penyakit, seperti mrupus (menyerang insang), white spot (jamur), cacar, dan sejumlah penyakit lainnya.
“ Tapi, kalau yang sudah faham tentang budidaya gurami dari ukuran silet , kurun 9-10 bulan bisa panen. Apabila pembudidaya memulai usahanya dengan benih ukuran lebih kecil, panennya bisa satu tahun lebih,” jelasnya.
elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025



