Budidaya ikan torsoro semakin menarik perhatian para pembudidaya karena nilai ekonominya yang tinggi.
Diungkapkan Penanggung Jawab Instalasi Cijeruk BRPBATPP dan Instruktur, Aditiya Nugraha, permintaan ikan torsoro terus meningkat, terutama di kawasan Jabotabek, seiring dengan tren konsumsi makanan sehat dan kebutuhan protein alternatif. Torsoro memiliki pangsa pasar yang luas, baik sebagai ikan konsumsi maupun ikan hias eksklusif.
Dijumpai di lokasi budidayanya di Desa Ciburial-Sumedang, Dedin Khoerudin, Ketua UPR Mina Kancra Ciburial, mengungkapkan permintaan benih ikan ini terus mengalir. Tidak hanya torsoro yang berukuran besar, harga benihnya pun tergolong tinggi di pasaran. Dedin menyebutkan, benih ukuran 3-4 cm dijual seharga Rp5 ribu per ekor, ukuran 5-6 cm seharga Rp 7 ribu, dan ukuran 8-10 cm bisa mencapai Rp 12 ribu per ekor.
Di sisi lain, Peneliti Ahli Utama Bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan Ikan di Pusat Riset Perikanan, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, BRIN, Profesor Mas Tri Djoko Sunarno menjelaskan, torsoro yang juga dikenal dengan berbagai nama lokal seperti ikan dewa, kancra, dan tambra memiliki nilai sosial budaya yang tinggi. “Di beberapa daerah, ikan ini menjadi bagian dari upacara adat atau disajikan sebagai hidangan istimewa,” ujar Tri Djoko sapaan akrabnya. Dengan harga jual yang mencapai Rp 800 ribu – 1 juta per kilogram, ikan ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan ikan air tawar lainnya.
Realitanya, tingginya permintaan tidak sebanding dengan jumlah populasi di alam yang terus menurun. Hal ini menjadikan budidaya torsoro semakin potensial. Kepada tim TROBOS Aqua Tri Djoko menerangkan, dalam satu tahun terakhir, praktik budidaya ikan ini berkembang pesat dengan berbagai sistem, seperti kolam air deras, kolam mengalir, dan keramba jaring apung. Selain itu, benih ikan kini dapat diproduksi secara terkontrol, salah satunya di UPR (Unit Pembenihan Rakyat) Mina Kancra Ciburial, Sumedang-Jawa Barat (Jabar).
Pertumbuhan Torsoro Relatif Lambat
Meskipun memiliki nilai jual tinggi, budidaya ikan torsoro menghadapi beberapa tantangan utama. Salah satunya adalah pertumbuhan yang relatif lambat dibandingkan ikan lain seperti nila dan mas.
“Jika ditebar dari ukuran 250 gram, ikan bisa mencapai 1 kg dalam setahun, sedangkan dari ukuran 40 gram, butuh sekitar dua tahun,” jelas Aditiya yang sudah 7 tahun lebih menggeluti seluk beluk torsoro.
Tingkat konversi pakan (FCR) torsoro juga cukup tinggi, yakni sekitar 5:1. Hal ini membuat strategi efisiensi pakan menjadi krusial bagi pembudidaya
Fluktuasi kualitas air juga berpengaruh besar pada pertumbuhan ikan. “Suhu optimal adalah 26-30°C dengan kadar oksigen terlarut minimal 5 ppm,” ujar Aditiya. Pemasangan aerator dan sistem sirkulasi air dapat membantu menjaga kondisi lingkungan kolam tetap stabil.
Penyakit menjadi ancaman lain dalam budidaya torsoro. Aditiya menyarankan vaksinasi rutin, kebersihan kolam, dan penggunaan probiotik untuk menekan risiko penyakit.
Tri Djoko menambahkan, penggunaan vitamin C dalam pakan dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit. “Pada akhir 2024, banyak induk ikan torsoro di Sumedang mati akibat serangan KHV dan Aeromonas,” katanya, menekankan pentingnya monitoring kualitas air. Dan Tri Djoko juga mengingatkan bahwa pemberian pakan saat hujan deras sebaiknya dihindari untuk mencegah penurunan kualitas air akibat sisa pakan yang menumpuk.
Strategi Efektif Budidaya Torsoro
Sebagai pelaku usaha langsung, Dedin memberikan sedikit tips mengatasi tantangan budidaya torsoro. “Ikan torsoro itu pertumbuhannya sangat lama, dari telur hingga mencapai ukuran sekitar 1 kg per ekor itu dibutuhkan waktu 3-4 tahun. Untungnya, kini dengan penggunaan pakan fungsional, masa pemeliharaan dapat dipercepat menjadi 2-3 tahun saja,” jelasnya yang telah lebih dari sewindu berkecimpung di dunia torsoro.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



