*W. Farid Ma’ruf, B.Sc.,Ir.,M.Sc.,Ph.D
Komoditas rumput laut menjadi satu dari 26 komoditas yang masuk pada kebijakan hilirisasi produk berbasis sumber daya alam. Upaya ini tentunya menjadi sangat strategis mengingat Indonesia merupakan negara berbasis sumber daya alam. Namun, kelemahannya belum optimal dalam mendorong daya saing komparatif (comparative competitiveness) menjadi daya saing kompetitif (competitive competitiveness) melalui penciptaan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Selama beberapa dekade, justru kita melihat catatan kinerja sektor perikanan yang masih jalan ditempat. Ini dibuktikan dengan kontribusi sektor ini terhadap PDB Indonesia hanya 2,71% (BPS, 2023).
Rumput laut sangat potensial memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Hasil analisis Pusat Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya KP (2021), diperkirakan Indonesia memiliki potensi nilai ekonomi untuk jenis Kappaphycus sp mencapai 28,8 miliar USD (tanpa upaya nilai tambah). Potensi ini dengan total potensi lahan efektif seluas 4,8 juta hektar (40% dari total potensi indikatif budidaya laut yang bersumber dari data KKP),
Indonesia juga saat ini menguasai sekitar 50% supply share rumput laut kering dunia, disusul Filipina (35%), dan lainnya (15%). Namun, jika menganalisis data International Trade Center (ITC), menunjukkan bahwa sepanjang 2023, market demand untuk produk rumput laut mencapai 3,38 miliar USD.
Sementara Indonesia baru mencatat supply share senilai 442,25 juta USD (25%), dengan pertumbuhan ekspor selama 5 tahun (2019-2023) sebesar 14,08% per tahun. Ironisnya Indonesia juga mengimpor karaginan senilai 46,25 juta USD per tahun, dengan pertumbuhan impor 15,08 % per tahun. Kinerja ini sangat jelas memperlihatkan bahwa upaya penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi berjalan lambat, terutama untuk hidrokoloid.
Potensi sumber daya rumput laut tersebar di wilayah-wilayah remote, pulau-pulau kecil dan kawasan terluar. Dalam konteks geopolitik ini sangat strategis sebagai sabuk pengaman kedaulatan NKRI. Pemanfaatan potensi sumber daya rumput laut melalui pemberdayaan di wilayah-wilayah tersebut akan memperkuat basis pertahanan di kawasan terluar.
Artinya, penguatan kedaulatan tidak hanya sebatas melalui security approach, tetapi paling efektif melalui prosperity approach, dimana usaha budidaya rumput laut menjadi sangat strategis untuk dikembangkan. Apalagi dari aspek penyerapan tenaga kerja, rumput laut sangat potensial untuk memberdayakan setidaknya 17 juta orang masyarakat pesisir dan pulau pulau kecil dan terluar.
Potensi Ekonomi Hidrokoloid
Beragam pendapat baik dari kalangan akademisi maupun peneliti tentang potensi rumput laut di luar hidrokoloid seperti bio-avtur dan lainnya semestinya tidak ditangkap secara terburu-buru. Program hilirisasi harus berdasarkan pada fakta kebutuhan pasar global, penguasaan inovasi dan teknologi, investasi dan kelayakan usaha, dan relevansi terutama untuk mendorong realisasi jangka menengah (5 tahun kedepan).
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka sebaiknya hilirisasi diarahkan dan fokus pada pengembangan produk hidrokoloid; yakni karaginan, agar, dan alginat. Sementara untuk pengembangan biofuel dan produk bioteknologi lainnya sebaiknya dilakukan riset secara mendalam terlebih dahulu sampai benar-benar menemukan skala keekonomian layak (economic feasibility) dan dapat dikembangkan secara sustain.
Jika saja semua potensi efektif lahan untuk budidaya rumput laut dapat dioptimalkan dengan fokus pada industri hidrokoloid (refine carrageenan dan agar-agar). Maka, setidaknya diperkirakan dapat meningkatkan nilai tambah produk masing-masing. Yaitu; untuk jenis Kappaphycus alvarezii (refine carrageenan) sebesar 250% dengan nilai mencapai 72,57 miliar USD (jika hanya untuk food grade) atau 62,90 miliar USD (jika hanya untuk industrial grade), dan untuk jenis Gracilaria sp (agar-agar) sebesar 360% dengan nilai tambah ekonomi mencapai 5,76 miliar USD.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



