Beragam upaya terus digalakkan para pemangku kepentingan untuk mengatasi penyakit di budidaya udang
Berembuk untuk mencari solusi penyakit udang dilakukan berbagai stakeholders. Fivi Najmushabah, Deputy Head of Hatchery Project and Improvement PT CP Prima menyatakan bahwa manajemen tambak menjadi faktor dominan dalam menentukan kelancaran budidaya udang dibandingkan dengan kualitas pakan dan kualitas benur.
“Yang memberikan kontribusi paling besar terhadap indikator performa di tambak adalah manajemen. Meski kualitas pakan dan kualitas benur memberikan kontribusi yang lebih rendah tetapi keduanya tetap penting,” tuturnya mengawali materi diskusi dengan topik ‘Budidaya Udang Pasti Bisa Pasti Untung’ yang digelar atas kerjasama PT CP Prima dengan Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) di Bandarlampung-Lampung beberapa waktu lalu.
Dijelaskannya, kualitas pakan dan benur berkontribusi 15-25 %, sementara manajemen tambak berkontribusi 50 hingga 70 %. Dari data panen tambak dari seluruh Indonesia juga menunjukkan variasi performa di tambak yang disebabkan faktor pemeliharaan PL di hatchery lebih besar kontribusinya dibandingkan dengan variasi yang disebabkan genetik induk.
Dari setiap parameter yang diamati, FCR, SR, biomas, ADG maupun MBG, manajemen kolam tetap menjadi faktor yang terbesar kontribusinya bagi performa budidaya. Untuk mengoptimalkan kontribusi hatchery terhadap keberhasilan di tambak maka beberapa program yang dilakukan di antaranya, pengadaan induk berkualitas dengan melakukan kolaborasi/kerjasama dengan penyedia induk breeding company.
Selanjutnya memproduksi induk SPF yang cocok untuk wilayah Indonesia. Kemudian juga dilakukan program-program untuk memproduksi benur sesuai standar best aquaculture practices (BAP). Di antaranya adalah dengan meningkatkan biosekuriti, bukan hanya pada produk akhir tetapi juga terhadap input produksi dan selama proses budidaya di hatchery.
Kemudian juga dilakukan pengetatan proses kontrol kualitas, surveillance performa, pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh aspek produksi di hatchery sehingga bisa dipastikan hatchery melakukan upaya-upaya BAP. Dengan begitu hatchery bisa melakukan improvement secara berkesinambungan.
Dalam pengadaan induk yang berkualitas berkolaborasi dengan perusahaan breeding yang tujuan untuk melakukan improvement genetik berkelanjutan dan terus menerus dari generasi ke generasi. Kemudian yang terutama adalah untuk memproduksi strain induk yang cocok untuk lingkungan Indonesia sehingga performa di tambak bisa terus ditingkatkan.
“Bagaimana memproduksi strain induk yang cocok dengan lingkungan setempat? Yaitu dengan melakukan uji performa calon induk yang dilakukan di Indonesia, bukan di negara lain. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan program seleksi dengan memperhitungkan interaksi antara genetik dengan lingkungan. Karena genetik yang akan keluar itu adalah interaksi antara gen dan lingkungan sehingga bisa dapat mengidentifikasi gen terbaik untuk lingkungan setempat,” lanjutnya di depan peserta yang berasal dari Lampung, Bengkulu, Sumsel dan Bangka.
Diterangkannya, umumnya uji performa calon induk dilakukan tiga tahapan. Pertama, calon-calon induk dari famili-famili yang dihasilkan di perusahaan breeding dilakukan uji tantang penyakit guna mengetahui ketahanannya. Kemudian dilakukan performa testing guna mengetahui famili-famili mana yang menunjukkan performa terbaik. Yang terakhir adalah dengan melakukan monitoring terhadap hasil panen di tambak-tambak. Ini sangat penting untuk kemudian dievaluasi guna melakukan improvement genetik berikutnya.
PL dikirim dari breeding company ke lab disease centre untuk diuji terhadap penyakit tertentu, bisa WSSV, AHPND atau IMNV guna memilih calon induk yang memiliki kinerja lebih baik terhadap patogen tertentu. Lab disease centre ini sudah ada di Indonesia yang bisa menguji calon induk terhadap penyakit udang strain asli Indonesia.
PL dari breeding company juga dikirim ke fasilitas ujicoba di Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mengecek efek interaksi genetik dengan lingkungan dalam proses dalam proses pemilihan induk untuk Indonesia. Dari sini biasa dilakukan dua tahap, yakni seleksi famili di mana akan dipilih famili yang produktivitasnya paling bagus.
Kemudian tahap kedua adalah dengan melakukan persilangan dari famili terbaik yang berasal dari pengujian sebelumnya. Ini dilakukan untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik dari sifat-sifat induknya.
Hasil persilangan famili ini kemudian akan diteruskan untuk menjadi induk dan dilakukan di MBC yang ada di Florida, AS. Induk-induk tersebut dikirim kembali ke hatchery untuk kemudian diproduksi benur guna dikirim ke tambak-tambak uji coba yang berada di beberapa lokasi untuk kemudian diamati semua aspek. Jika hasilnya memuaskan maka induk tersebut bisa dijadikan induk komersial. Jadi prosesnya tidak singkat.
Prosesnya terus berjalan ketika sudah memproduksi benur dari strain yang sudah terpilih. Kemudian ketika sudah mendistribusikan benurnya ke tambak-tambak maka seluruh data maturasi, performa induk maupun data produksi sampai data performa tambak tetap dimonitor dan dievaluasi sebagai dasar improvement genetik selanjutnya. Karena strain yang dikembangkan sekarang sudah tidak cocok lagi dua tiga tahun mendatang karena ada perubahan kondisi lingkungan. Itulah sebabnya data performa dari tambak sangat penting.
“Petambak menginginkan benur yang berkualitas baik dari hatchery. Tetapi sebaliknya ketika hatchery butuh data sulit sekali diperoleh. Padahal sebenarnya data-data tersebut dijadikan acuan. Perlu diketahui bahwa kita kejar-kejaran dengan penyakit baru dan memburuknya kondisi lingkungan. Jika hatchery atau breeding centre memperoleh data akan dijadikan bahan untuk mempersiapkan kondisi genetik berikutnya untuk ditebar di tambak,” narasumber mengingatkan.
Oleh karena itu Fivi mengajak para petambak untuk tidak pelit memberikan data-data tambak dengan tujuan untuk kebaikan budidaya udang ke depannya. Diakuinya, keberadaan hatchery CP di berbagai daerah memberikan pengetahuan mendalam tentang strategi kolaborasi hatchery dengan pemasok udang yang bisa meningkatkan kinerja induk. Karena uji kinerja di berbagai lokasi bisa memungkinkan untuk memilih induk dengan performa optimal untuk kondisi lokal. Hal ini bisa dijadikan referensi bagi hatchery lainnya.
Pada bagian akhir materinya, Fivi menguraikan, upaya mengoptimalkan kontribusi hatchery untuk peningkatan performa di tambak dilakukan dengan peningkatan biosekuriti, baik pengolahan air, penyediaan pakan alami/segar, upaya pembersihan peralatan. Lalu, audit eksternal dan internal serta sertifikasi hatchery guna memastikan praktek yang dijalankan sesuai dengan standar BAP
Biosekuriti pakan alami/segar penting karena banyak jurnal penelitian yang menyatakan bahwa polikit alam merupakan carrier EHP maupun WSSV. Sebelumnya disampaikan Sidrotun Naim pada diskusi FKPA 2023 lalu bahwa komponen hatchery yang positive rate-nya paling tinggi adalah berasal dari pakan hidup. Oleh karena itu pemberian pakan segar di hatchery idealnya tidak diambil langsung dari alam tetapi dari budidaya.
“Jika pakan segar masih dari alam maka upaya yang dilakukan untuk menurunkan risikonya salah satunya adalah maturasi. Cara lain yang banyak dilakukan hatchery adalah memberikan pakan beku, cumi-cumi, kerang juga ada polikit beku. Hasil penelitian menunjukkan pembekuan pada minus 20 derajat Celcius bisa menghambat perkembangan spora EHP,” tutupnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025



