Sesuai tergambar di peta yang sudah diajarkan dan dipropagandakan kepada para pelajar, yang memaparkan kapankah kelautan dan perikanan Indonesia bisa berjaya dan menjadi satu sumbu yang menggerakkan kelautan dan perikanan dunia? Bukan sekedar terombang-ambing berada di tengah-tengah keputusan politik negara lain. Bisa jadi, masih jauh-jauh hari.
Mengutip pemberitaan dari detikfinance (16/7), Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono menanggapi terkait tarif impor untuk barang-barang asal Indonesia dari 32% menjadi 19% ke Amerika Serikat (AS). Pria yang akrab disapa Trenggono menilai hal tersebut merupakan sinyal positif bagi Indonesia.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan AS telah mencapai kesepakatan perdagangan dengan Indonesia setelah berbicara dengan Presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikan Trump pada Selasa (15/7).
Dari CNN Business, Rabu (16/7), beberapa jam setelah mengumumkan kesepakatan tersebut di Truth Social, Trump menyampaikan isi kesepakatan itu adalah Indonesia tidak mengenakan tarif apapun atas ekspor dari AS, sementara AS akan mengenakan tarif sebesar 19% atas produk dari Indonesia, turun dari sebelumnya 32%.
Dimuat di Republika, Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan Riyono memaparkan mengenai dampak kebijakan ini bagi sektor pertanian dan perikanan. Dia memaparkan kesepakatan Prabowo dan Trump akan efektif berjalan per (1/8), tuntutan pembelian produk pertanian senilai hampir Rp73 triliun akan dilaksanakan jika ingin Indonesia mendapat tarif 19%. Indonesia harus siap banyaknya produk pertanian AS.
Ada minimal 10 produk Pertanian yang sudah rutin masuk, Berdasarkan data dari United States Department of Agriculture (USDA) dalam laporan 2024 United States Agricultural Export Year Book, komoditas pertanian utama yang rutin diimpor Indonesia dari AS dalam lima tahun terakhir, diantaranya Kedelai: USD1,25 miliar, Biji-bijian penyuling: USD278 juta, Pakan, makanan lainnya dan makanan ternak: USD261 juta, Produk Susu: USD245 juta, Gandum: USD145 juta, Kapas: USD139 juta, Daging sapi dan produk daging sapi: USD$93 juta, Bungkil kedelai: US$78 juta, Produk antara lainnya: USD53 miliar, Olahan pangan: US$48 miliar.
Lalu dampaknya pertama, membuat tekanan harga kepada produk lokal. Udang vannamei yang merupakan primadona ekspor ke Amerika, tetapi karena kabar kenaikan tarif ini membuat harga udang turun kisaran 10%, artinya harga produk lokal akan semakin turun. Otomatis perputaran ekonomi di bawah akan menurun dan ditakutkan akan ada kelesuan dalam kegiatan pertanian dan perikanan.
Yang kemudian, bisa melemahnya pondasi pertanian dan Kelautan. Ekonomi saat ini masih bergantung kepada konsumsi masyarakat di pedesaan dan pesisir, usaha kaki lima dan sedikit tambahan sektor industri yang melengkapi.
Faktanya dalam pengantar APBN 2026 Menkeu menjadikan petani nelayan sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Jika nanti pertahanan neraca perdagangan sektor pertanian perikanan dengan AS “jebol” maka akan menjadi alarm keras bahwa tujuan Trump menurunkan tarif bukan untuk negosiasi, melainkan melemahkan sektor fundamental ekonomi negara, pertanian dan perikanan.
Dari detikfinacen, ekspor perikanan Indonesia ke AS menyentuh USD 2 miliar. Angka ini mempunyai porsi besar dari nilai rata-rata ekspor perikanan Indonesia dengan total USD 5,5 miliar. Ia menyebut, kalau kena pajak yang tinggi, pasti (berpengaruh). Untuk itu, Trenggono menilai perlunya menambah pasar lain, seperti China, Eropa, hingga ke Jepang. Saat ini, pihaknya masih menghitung dampak dari tarif tersebut.
Makanya, dilansir dari situs bisnis.com, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mengupayakan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor perikanan Indonesia. Trenggono menyampaikan, pemerintah akan membuka pasar baru, mengingat pangsa pasar ekspor perikanan ke AS cukup besar (15/7).
Trenggono mengatakan, Indonesia membidik sejumlah negara untuk mengalihkan ekspor produk perikanan dari AS. Negara-negara itu utamanya di kawasan Asia dan Eropa. Dia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto juga tengah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara, salah satunya Brussel (Belgia) untuk menjajaki potensi kerja sama di antara kedua negara dalam berbagai bidang.
Selain membuka pasar baru, Trenggono menyebut bahwa KKP berupaya untuk memperkuat pasar dalam negeri. Dengan begitu produksi ikan Indonesia dapat terserap dengan baik. Merujuk data KKP AS menjadi negara tujuan utama ekspor produk perikanan di 2024. Nilai ekspor ke Negeri Paman Sam mencapai USD1,90 miliar atau 31,97% dari total ekspor perikanan Indonesia di 2024. AS juga tercatat menjadi negara tujuan utama ekspor udang Indonesia yakni 63% dari total volume ekspor udang di 2024 yang mencapai 214.575 ton.
Memberi masukan, Riyono memaparkan jalan tengah untuk mengantisipasi kebijakan ini agar tidak ‘kebablasan’. Jalan tengahnya pertama, menjaga pondasi APBN sektor pertanian perikanan harus lebih kuat, peningkatan kapasitas kinerja ekspor sektor pertanian dan perikanan, pencarian pasar alternatif selain AS, peningkatan kapasitas industri pertanian perikanan, serta fokuskan koperasi desa merah putih menjadi pondasi industri pertanian perikanan yang menjaga produksi dan harga di level paling rendah.



