Konservasi gurita bukan hanya soal pelestarian, tetapi juga kunci meningkatkan ekspor Indonesia. Dengan pendekatan ramah lingkungan, gurita dapat menjadi komoditas unggulan yang berkelanjutan.
Menurut Adriani Sunnudin, Dosen Hidrobiologi Laut di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, IPB University, gurita merupakan bagian dari superfamili Octopodoidea. “Indonesia memiliki berbagai jenis gurita, baik yang hidup di pesisir maupun yang ada di perairan yang lebih dalam. Laut nusantara bukan hanya rumah bagi gurita bentik pesisir, tetapi juga berpotensi besar dalam mendukung industri perikanan dari laut lepas atau offshore,” sebut dosen yang akrab disapa Nani ini.
Di dunia, terdapat sekitar 800 spesies cephalopoda, dan lebih dari setengahnya, yakni sekitar 57%, adalah gurita. Saat ini, jumlah spesies cephalopoda yang telah dideskripsi belum mencapai 1.000, dengan sekitar 100 jenis ditemukan di perairan Indonesia. Salah satu jenis yang menarik adalah Octopus cyanea, yang memiliki ukuran tubuh besar. Mantelnya bisa mencapai panjang 160 milimeter, sementara panjang totalnya dapat melebihi satu meter, dengan lengan mencapai 4 hingga 6 kali panjang mantel.
Sebagian besar gurita ini hidup di daerah pesisir dan cenderung bersembunyi di dasar laut. Keunikan gurita terletak pada kemampuan mereka untuk berkamuflase, membuat mereka sering kali sulit ditemukan. Bahkan, mereka bisa menempel pada substrat laut dan bersembunyi dengan sangat baik, sehingga membuat mereka lebih mudah ditangkap menggunakan alat seperti linggis.
Namun, Adriani menjelaskan bahwa meskipun gurita sangat beragam, identifikasi spesiesnya bukanlah hal yang mudah. “Karena bentuk tubuhnya yang sangat fleksibel dan tentakelnya yang bisa berubah-ubah, sering kali kita menemui kesulitan dalam menentukan spesies yang tepat. Struktur lubang penghisap pada tentakelnya bisa menjadi acuan, namun itu pun tidak selalu cukup untuk memastikan jenisnya dengan tepat,” sebutnya.
Di sinilah peran akademisi dan penelitian ilmiah menjadi sangat penting. Adriani mengungkapkan bahwa mendokumentasikan keanekaragaman gurita yang ada di Indonesia akan memberikan banyak manfaat.
“Sebagai akademisi, tugas kita adalah membantu mendokumentasikan dan mengidentifikasi berbagai spesies gurita yang ada. Ini sangat penting agar kita bisa memanfaatkannya dengan bijak, baik untuk penelitian maupun untuk pengembangan industri perikanan,” jelasnya.
Indonesia, dengan segala potensi lautnya, perlu mengoptimalkan kekayaan hayati gurita ini. Menurut Adriani, selain untuk pengembangan perikanan, pemahaman yang lebih mendalam tentang gurita juga bisa membuka peluang baru dalam bidang konservasi dan penelitian. “Keanekaragaman gurita di Indonesia sangat kaya dan berpotensi untuk memberikan kontribusi besar dalam dunia perikanan dan penelitian,” ujarnya.
Dengan upaya bersama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri perikanan, potensi gurita di Laut Nusantara bisa digali lebih jauh. Selain memberikan dampak positif bagi sektor perikanan, dokumentasi yang baik juga akan memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut Indonesia. “Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi kita semua untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi luar biasa yang dimiliki laut Indonesia,” tambah Nani.
Identifikasi Gurita
Nani menjelaskan, Ada beberapa ciri penting yang bisa dijadikan acuan untuk membedakan spesies gurita yang ada di Indonesia. Salah satu ciri yang paling mudah diamati adalah keberadaan kantung tinta. Gurita pada umumnya dikenal dengan kemampuannya mengeluarkan tinta untuk mengelabui predator.
Namun, tidak semua gurita memiliki kantung tinta. “Ada dua famili gurita yang tidak punya kantung tinta, dan itu sudah pasti hidup di perairan Indonesia,” ungkap Andriani. Ini menandakan bahwa untuk benar-benar memahami keberagaman gurita di perairan Indonesia, kita harus memiliki pengetahuan lebih mendalam mengenai karakteristik fisiologisnya.
Selain itu, proporsi ukuran mantel dan tentakel juga menjadi kunci untuk mengidentifikasi gurita dengan tepat. Sebagian besar orang mungkin hanya melihat kepala gurita yang kecil, tetapi tubuh utamanya sebenarnya sangat besar, dengan mantel yang mengelilingi tubuhnya. “Proporsi ukuran mantel dan tentakel ini bisa menjadi acuan untuk identifikasi yang lebih akurat,” kata Andriani. Hal ini menjadi penting, terutama bagi para nelayan atau peneliti yang ingin memastikan spesies gurita yang mereka temui sesuai dengan jenis yang ada di wilayah tersebut.
Namun, ciri fisik bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan dalam identifikasi gurita. Ada juga faktor lain yang tak kalah penting, yaitu penghisap yang terdapat di tentakel gurita. Keberadaan penghisap ini tidak hanya berguna untuk gurita bergerak dan menangkap mangsa, tetapi juga bisa menjadi ciri khas dari spesies tertentu.
“Di tentakel jantan, misalnya, ada alat kelamin khusus yang disebut hektokotilus. Keberadaan dan jumlah penghisap di situ juga bisa membantu membedakan spesies,” ujar Andriani. Hal ini menandakan bahwa dalam studi gurita, perhatian terhadap detail sekecil apa pun bisa sangat berarti dalam memahami kehidupan dan ekologi gurita.
Selain fisik, yang tak kalah penting adalah pemahaman mengenai siklus hidup gurita. Gurita memiliki siklus hidup yang unik, berbeda dengan banyak hewan laut lainnya. Setiap siklus hidup gurita diawali dengan masa pemijahan, di mana gurita jantan akan menyuburkan telur gurita betina dengan cara yang sangat khas.
Namun, yang menarik adalah pada beberapa spesies gurita, betina akan mati setelah meletakkan telurnya. Ini adalah bentuk dari proses reproduksi yang ekstrim, yang dikenal sebagai semacam “siklus hidup sekali seumur hidup”. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam upaya konservasi, di mana ketika satu generasi gurita mencapai usia dewasa dan mati setelah bertelur, hal tersebut bisa memengaruhi kelangsungan spesies gurita di perairan tertentu.
Namun, meskipun siklus hidup gurita sering berakhir setelah pemijahan, para ahli mengatakan bahwa gurita memiliki potensi reproduksi yang luar biasa. Gurita yang hidup di perairan tropis Indonesia, misalnya, mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun. Dengan kata lain, populasi gurita di Indonesia sebenarnya dapat berkembang dengan cepat jika dikelola dengan bijak.
Dalam penelitian terbaru, Andriani menjelaskan bahwa panjang mantel gurita menjadi salah satu indikator utama untuk mengetahui apakah gurita tersebut sudah siap berkembang biak. “Jika panjang mantelnya mencapai 7,7 cm, itu menandakan gurita tersebut sudah dewasa dan siap bereproduksi,” kata Andriani. Ini menunjukkan bahwa dalam setiap penangkapan gurita, penting untuk mematuhi regulasi agar hanya gurita yang sudah dewasa yang boleh ditangkap, sementara yang masih muda dibiarkan untuk tumbuh dan berkembang biak.
Penangkapan Gurita Ramah Lingkungan
Meskipun Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil gurita terbesar di dunia, volume ekspor gurita Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti persaingan global yang semakin ketat, serta tuntutan pasar yang semakin tinggi terhadap kualitas produk.
Di sinilah peran penting riset dan pengembangan menjadi sangat krusial. Pemerintah Indonesia dan para pelaku industri perikanan harus bekerjasama untuk memperbaiki kualitas gurita yang dihasilkan, mulai dari cara penangkapan yang ramah lingkungan hingga pengolahan yang memperhatikan standar internasional.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025



