banner12 1
Iklan Web R

Tantangan di Balik Kejayaan Ekspor Gurita Indonesia

Ekspor Gurita Beku (Foto_Pixabay)

 

Indonesia, salah satu raja ekspor gurita dunia, menghadapi dilema besar: permintaan global melonjak, tapi populasi gurita di laut semakin tertekan. Bisakah ekonomi dan ekologi berjalan seimbang?

 

Indonesia, salah satu negara dengan kekayaan laut yang melimpah, telah lama masuk dalam jajaran 10 besar pengekspor gurita dunia. Setiap tahunnya, sekitar 19.000 ton gurita Indonesia diekspor ke berbagai negara seperti Italia, Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Bersama dengan cumi dan sotong, gurita bersaing ketat dengan komoditas andalan lain seperti tuna cakalang tongkol dan rajungan kepiting untuk menambah pundi-pundi ekspor Indonesia. Nilai ekonominya pun tidak main-main, mencapai rata-rata 90 juta USD per tahun, menjadikannya salah satu komoditas perikanan yang sangat bernilai.

Namun, meski gurita menjadi primadona ekspor, data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2023 menunjukkan adanya fluktuasi dalam volume dan nilai ekspor gurita Indonesia antara tahun 2018 hingga April 2023. Pada 2018, ekspor gurita tercatat sebesar 26,8 juta kg dengan nilai USD 133,8 juta.

Angka ini menurun pada 2019 menjadi 21,4 juta kg dengan nilai ekspor USD 96,2 juta. Tahun 2020, meskipun volume sedikit turun lagi menjadi 18,4 juta kg, nilai ekspornya masih tercatat USD 79,2 juta.

Namun, 2021 menunjukkan adanya pemulihan dengan volume yang meningkat menjadi 21,6 juta kg dan nilai ekspor mencapai USD 109,3 juta. Pada 2022, meski volume sedikit menurun menjadi 21 juta kg, nilai ekspor justru mengalami peningkatan yang signifikan hingga mencapai USD 127,7 juta.

Sementara itu, pada April 2023, volume ekspor tercatat 7 juta kg dengan nilai USD 39,3 juta. Di pasar internasional, harga rata-rata ekspor gurita Indonesia berkisar antara USD 4,5 hingga USD 6 per kg, yang setara dengan sekitar Rp 95.000 per kg di pasar lokal seperti Tokopedia. Untuk baby octopus, harga di e-commerce dipatok sekitar Rp 85.000 per kg.

Sebagai perbandingan, takoyaki di Tokyo yang menggunakan gurita sebagai bahan bakunya dijual dengan harga sekitar 500 yen untuk 10 bola takoyaki, setara dengan USD 5. Hal ini menunjukkan potensi besar gurita Indonesia di pasar global, baik dalam volume maupun nilai ekonomi.

 

Di Balik Gemerlap Ekspor

Namun, di balik gemerlapnya angka ekspor dan potensi ekonominya, ada ancaman serius yang mengintai keberlangsungan spesies gurita di alam. Terutama untuk jenis gurita Octopus cyanea yang dikenal dengan nama octopus ana, yang menjadi salah satu jenis gurita yang paling diminati untuk ekspor, terutama ke negara-negara besar seperti Italia, Amerika Serikat, dan China.

Keberlanjutan perikanan gurita kini menghadapi tantangan besar, mulai dari overfishing hingga kerusakan habitat, yang bisa mengancam populasi gurita di alam. Oleh karena itu, pengelolaan yang lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan kelestarian spesies ini di laut.

Hampir seluruh produksi gurita di dunia, termasuk dari Indonesia, berasal dari hasil tangkapan di laut. Budidaya gurita hingga kini masih menjadi tantangan besar. Kondisi ini menggambarkan betapa ketergantungan terhadap hasil tangkapan alami menjadi penopang utama permintaan pasar global.

Dengan produksi global mencapai 420.000 ton per tahun, sebagian besar gurita ditangkap oleh nelayan skala kecil. Ketergantungan pada nelayan tradisional ini membawa cerita lain, yakni bagaimana kebutuhan pasar internasional memberi tekanan besar pada populasi gurita di habitat aslinya. Tantangan ini mempertegas pentingnya pendekatan yang lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan gurita.

 

Gurita pun menjadi salah satu komoditas yang mulai menerapkan tata kelola perikanan berkelanjutan. Meski begitu, perjalanan menuju keberlanjutan masih menemui kendala. Dari seluruh produk gurita yang diperdagangkan secara global, baru sekitar 60 % yang sudah mengikuti prinsip ramah lingkungan. Sisanya menunjukkan perlunya upaya yang lebih serius dalam mengubah pola perikanan tradisional menjadi lebih berkelanjutan.

Namun, meski keberlanjutan masih menjadi tantangan, gurita tetap dikenal sebagai komoditas yang lekat dengan perikanan skala kecil yang ramah lingkungan. Hal ini tidak lepas dari peran nelayan tradisional yang menggunakan metode sederhana untuk menangkap gurita. Di tingkat desa, pengepul menentukan ukuran gurita sebelum memasuki jalur distribusi yang lebih besar, menciptakan sistem yang unik di tingkat akar rumput.

Para nelayan yang fokus menangkap gurita, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi, mengandalkan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan. Selain menjadi sumber penghidupan, cara ini mencerminkan kearifan lokal yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya gurita perlu terus ditingkatkan agar keberlanjutan ekosistem laut dapat diwujudkan, tanpa mengorbankan kesejahteraan para nelayan.

elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
HEIF Image
Empat Aspek Penting CBIB
HEIF Image
Hiu Blacktip, Ikon Ikan Laut di Rumah DeHakim
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!