Oleh: Waiso*
Budidaya udang adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan terkontrol dengan memanipulasi lingkungan guna memperoleh manfaat secara ekonomi, ekologi dan sosial menggunakan metode yang tepat sesuai dengan kondisi dan fasilitas yang tersedia. Adapun tujuan budidaya udang, khususnya jenis vannamei adalah untuk meningkatkan produksi dengan cara yang berkelanjutan, efisien dan ramah lingkungan. Jadi budidaya udang itu laksana ‘puzzle’ yang meliputi genetik udang, hatchery, teknisi tambak, pakan dan sarana dan prasarana tambak (saprotam).
Semua komponen di atas harus ‘duduk bersama’ meramu strategi standard operating procedure (SOP) di tambak. Dengan begitu maka jangan berharap hasil atau produksi yang berbeda atau meningkat jika apa yang dilakukan atau SOP-nya masih sama dengan sebelumnya. (blow up)
Misalnya, Vibrio parahaemolyticus tidak menyebabkan kematian massal di hatchery. Kenapa? Karena di hatchery, tidak tersedia zat-zat organik yang menumpuk yang menjadi makanan vibrio tersebut. Itu bisa terjadi karena pola pergantian air di hatchery yang tidak memungkinkan zat-zat organik tersisa di dalam bak hatchery.
Pada stadia induk, pergantian air dilakukan 300 % per hari. Lalu pada proses cuci naupli dilakukan penggantian air 150 %, 10-20 % pada stadia zoea dan mysis. Kemudian pada post larva, ketika benur sudah diberi pakan artemia maka pergantian air dilakukan 100 %.
Pada saat panen dan proses pengangkutan benur ke tambak juga dilakukan pergantian air bahkan hingga 300 %, yakni 100 % pada bak hatchery, 100 % pada conicel adaptasi dan 100 % pada kantong benur. Pergantian air tersebut bertujuan untuk meminimalisasi zat-zat organik.
Terdapat tiga jenis SOP di hatchery di Indonesia. Pertama, penggunaan pakan tinggi berupa artificial feed dengan dosis 8-10 kg/juta benur dan pakan alami/artemia 4-6 kg/juta benur dengan 12 kali feeding/hari. Lalu melakukan pergantian air pada stadia PL 100-150 %/jam yang bertujuan untuk meminimalisasi zat-zat organik (endapan pakan, algae dan organik terlarut).
Kedua, menggunakan pakan sedang yakni 3-4 kg artificial feed/juta benur dan pakan alami/artemia 10 kg/juta benur dengan 12 kali feeding/hari dan ganti airnya juga lebih rendah yakni 30-60 %/24 jam. Tujuannya sama dengan SOP pertama.
Ketiga, ganti air yang lebih sedikit yakni hanya 10-20 %/24 jam, namun penggunaan pakan juga lebih rendah yakni artificial feed 6-8 kg/juta benur dan pakan alami/artemia 2-5 kg/juta benur dengan frekuensi tebar pakan 12 kali sehari. SOP ketiga ini dilakukan berdasarkan kebiasaan dari dulu.
Terdapat enam parameter SNI benur pada 2024 yang disepakati KKP, SCI dan FKPUI yakni umur PL-7 atau di atasnya; panjang minimal 7,5 mm; keseragaman ukuran 80 persen; daya tahan terhadap penurunan salinitas ke 0 ppt selama 30 menit dan dikembalikan ke salinitas awal selama 30 menit minimal 80 %. Lalu stres tes formalin 100 ppm selama 2 jam minimal 80 % dan respon positif terhadap gerakan air minimal 90 %.
Di samping itu terdapat empat parameter pengamatan lainnya, yakni nekrosis yang merupakan indikasi terjadinya kanibalisme, infeksi bakteri atau bahkan iritatif lainnya dengan adanya inflamasi melanisasi pada tubuh udang. Pengamatannya pada tubuh, anggota tubuh (antena, rostum, kaki renang, kaki jalan dan ekor). Skornya 10 jika tidak ada, dan lima jika 15 % ke bawah serta 0 jika di atas 15 %.
Pengamatan cacat pada benur dapat berupa bengkok pada restum, tubuh dan ekor, saluran pencernaan berakhir sebelum anus yang dilihat pada rostum, ekor, saluran pencernaan, segmen ke-6 dan tubuh. Skornya 10 jika tidak ada dan lima jika 10 atau kurang serta 0 jika di atas 10 %.
Lalu pengamatan organisme penempel (epibiont fouling) pada tubuh, seperti jamur dan protozoa dengan skor 10 jika tidak ada, lima jika kurang atau sama 15 % dan 0 jika di atas 15 %.
Keempat adalah penyakit (WWSV, IHHNV, TSV, AHPND, IMNV, MBV, EHP, CMNV dan DIV-1) yang dideteksi menggunakan PCR yang hasilnya harus negatif/tidak ada. Jadi hatchery memiliki manual book dalam bekerja yang harus dilanjutkan petambak. Ibarat sebuah mobil yang sudah dibuatkan manual book-nya oleh pabrikan maka pemilik mobil harus merawatnya sesuai manual book tersebut jika ingin mobilnya awet. Artinya petambak jangan jalan sendiri.
Kembali ke Vibrio parahaemolyticus, apa tujuan Tuhan menciptakannya di perairan? Dari sejumlah penelitian selama ini diketahui ternyata vibrio ini diciptakan sebagai bagian dari mikroba di perairan yang berfungsi sebagai pengurai (dekomposer) bahan organik. Kecuali itu, adanya vibrio juga menjadi indikator kualitas air. Jika vibrio tinggi berarti kualitas air menurun dan zat organik melimpah.
elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025



