Keunggulan strain nila tidak lagi dapat diukur semata dari kecepatan tumbuh, melainkan dari kinerja yang stabil, adaptif, dan berkelanjutan di bawah tekanan lingkungan, penyakit, dan sistem budidaya yang beragam
Selama bertahun-tahun, pemuliaan ikan nila di Indonesia nyaris identik dengan satu label ‘cepat tumbuh’. Parameter ini menjadi jualan utama hampir semua strain yang beredar di pasar. Namun, ketika budidaya bergerak ke arah intensifikasi, kualitas lingkungan semakin fluktuatif, dan tekanan penyakit meningkat, kecepatan tumbuh semata terbukti tidak lagi cukup.
Di lapangan, ikan yang cepat besar tetapi boros pakan, mudah stres, atau tidak stabil antar lokasi justru menghadirkan risiko baru. Dari sinilah arah pemuliaan mulai bergeser, dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju kinerja nyata yang berkelanjutan, yang mampu bertahan di berbagai kondisi budidaya.
Pergeseran arah pemuliaan tersebut tercermin nyata pada pengembangan strain nila kekar, salah satu strain yang digunakan oleh pembudidaya di sejumlah sentra Jawa Timur. Kartojo Ardiwinoto, pendamping teknis Hatchery Nila Kekar Pasuruan, menyebut, nila kekar sejak awal lahir dari kegelisahan tersebut. “Mutu benih untuk ekspor, pasar lokal, dan sistem tradisional itu berbeda. Tidak bisa disamaratakan,” ujar laki-laki yang akrab disapa Toyo ini.
Pemuliaan nila kekar pun tidak dibangun sebagai galur murni, melainkan menggunakan model persilangan ala GIFT (Genetically Improved Farmed Tilapia) yang dikembangkan secara bertahap. Pendekatannya bersifat epigenetik tidak mengubah DNA, tetapi menyeleksi keragaan fenotip yang paling sesuai dengan target produksi dan lingkungan.
Kepada tim TROBOS Aqua Toyo bercerita, sejak kekar 07 (2007), proses seleksi dilakukan berbasis evaluasi lapangan. Kekar 010 menunjukkan laju tumbuh tinggi, tetapi produktivitas larva rendah. Kekar 012 dirancang memperbaiki reproduksi, namun justru matang gonad terlalu dini sehingga tidak didistribusikan. Dari sini disadari adanya korelasi terbalik antara laju tumbuh dan produktivitas benih, sebuah pelajaran penting dalam membaca kompleksitas pemuliaan nila.
Lebih dalam, Toyo menerangkan, perbaikan mulai menemukan bentuk pada kekar 015 melalui penajaman fenotip induk cepat tumbuh, yang diperkuat dengan perbaikan nutrisi dan rekayasa kolam. Pada Kekar 021, fokus berlanjut pada peningkatan produktivitas larva, sebelum riset supermale dan poliploidi dikembangkan sebagai langkah lanjutan untuk menaikkan standar pertumbuhan.
Tulisan ini sudah dituliskan kembali di majalah TROBOS Aqua edisi 163/November – Desember 2025. pada rubrik Inti Aqua



