banner12 1
Iklan Web R

Shrimp Summit 2025

Shrimp Summit by KKP

Nusa Dua (TROBOSAQUA). Bertempat di Grand Hyatt Bali Nusa Dua, acara yang digelar oleh The Center for Responsible Seafood (TCRS) tersebut berlangsung selama tiga hari (23-25/6). Dihadiri 200-an orang dari berbagai negara seperti Australia, Jepang, Cina, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Amerika Serikat, India, Belgia, dan lain-lain. “Dari Indonesia ada seperempatnya. Belum termasuk peserta yang online,” ujar Denny Leonardo, Ketua panitia penyelenggara.

Denny yang juga pengurus Petambak Muda Indonesia (PMI) ini menyatakan bahwa event tahunan ini menghadirkan stakeholder perudangan dunia. “Mulai dari petambak, prosesor, produser produk, eksportir, importir, buyer, NGO hingga pemberi sertifikasi, kita hadirkan untuk bertemu, terkoneksi lagi. Mereka berdiskusi langsung. Harapannya, ya  kita menyambungkan para stakeholder. Membangun relasi baru lah. Summit ini merupakan salah satu metode cepat agar semua stakeholder bisa langsung terkoneksi, berkolaborasi,” ungkap  Denny.

Ia juga menambahkan, di tengah iklim usaha perudangan Indonesia yang agak lesu, melalui even ini, ada peluang untuk menggaet investor yang betul-betul serius mengembangkan bisnis perudangan di Indonesia. “Melalui event ini, targetnya, ada satu investor saja yang bisa masuk, lumayanlah untuk perkembangan ekosistem perudangan di Indonesia,” tegasnya.

Event tahunan yang kini memasuki tahun ketiga dengan dukungan penuh dari US Soybean Export Council (USSEC) ini mengangkat tema connect. engage. transform. “Shrimp Summit merupakan kegiatan tahunan yang dipelopori oleh TCRS dengan dukungan utama dari USSEC sejak tahun 2023.  Shrimp Summit 2025 merupakan acara ketiga yang sangat penting untuk membangun jaringan (network) untuk peningkatan efisiensi dan keberlanjutan industri udang di Asia. Acara ini juga dihadiri oleh industri hilir (retailer dan buyer) dari seluruh dunia sehingga bermanfaat dalam membangun jaringan bisnis udang Indonesia,” ungkap Pambudi, Technical Consultant – Aquaculture USSEC.

“Selain merupakan sponsor utama, kami juga memberikan masukan dalam konsep acara, serta membangun high-level networking di Indonesia,” imbuh Pamudi. Diakui olehnya, kendati berusaha untuk mengakomodasi seluruh rantai nilai (value chain) dari industri udang dengan

mendatangkan ahli dari seluruh dunia, dengan keterbatasan waktu yang ada maka dipandang penting untuk fokus pada aspek penting tertentu dengan lebih mendalam (in-depth) untuk event di tahun depan.

“Banyak pembeli udang dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa mengharapkan adanya upaya ‘improvement project dengan melibatkan keterlibatan pembudidaya skala kecil (smallholders) dan perbaikan lingkungan termasuk pengurangan emisi karbon.  Upaya branding udang Indonesia yang lebih ramah lingkungan (penggunaan IPAL, tertelusur, dan rendah karbon) akan menjadi daya saing utama di masa depan. Banyak seafood buyer yang bersedia berkontribusi dalam upaya tersebut,” tegas Pambudi.

Shrimp Summit 1
Shrimp Summit by KKP

Pada acara kali ini juga digelar pameran dagang, diskusi panel hingga penghargaan lifetime achievement untuk tokoh perudangan dari Hawaii, Dean Akiyama. Beragam topik yang dibahas dalam sesi panel diskusi menghadirkan sejumlah narasumber seperti Amaya Albalat, Victoria Alday-Sanz, Regis Bador, George Chamberlain, Allan Cooper, Vu Dau Quang, Fabrice De Panthou, Emily Field, Amyne H Ismail, Annette Kleiser, David Little, Ghuozi Luo, Haris Muhtadi, Ruben Props, Manoj Sharma, Harry Yuli Susanto, dan deretan nama lainnya. Topi-topik yang dibahas meliputi pasar global-US, pasar global-non US, produksi global, teknologi digital, program peningkatan untuk petani kecil, manajemen pembenihan dan penyakit, inovasi, pemberian pakan dan pakan berkelanjutan, intensifikasi pertumbuhan, sistem regenerative/ restorative, pengelolaan residu antibiotik, hingga kesejahteraan udang.

Harry Yuli Susanto, direktur PT ATINA mengapresiasi positif event tersebut. Sebagai perusahaan prosesing, Harry menganggap even seperti ini penting, sebab menghadirkan panelis dan juga pelaku usaha yang memang mumpuni. “Bagi kami, even seperti ini sangat penting dan bagus sekali. Pertemuan langsung seperti ini dengan para stakeholder diharapkan mampu menjadikan ekosistem bisnis seafood khususnya udang semakin solid dan berkelanjutan. Sayangnya event bagus seperti ini kurang mendapat apresiasi dari pemerintah,” ujar Harry.

 

Pentingnya kolaborasi

Sebagai lini usaha strategis, industri udang Indonesia harus senantiasa beradaptasi dengan perkembangan global, terutama sejak pandemi Covid-19. “Banyak hal telah berubah terutama dari segmentasi dan preferensi pasar dan pentingnya ketertelusuran produk.  Dinamika geopolitik dan ekonomi makro di banyak negara juga memerlukan strategi kolaborasi yg memperhatikan aspek perdagangan yang adil dan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh rantai nilai (value chain) udang Indonesia,” tutur Pambudi.

Ia, demikian juga Harry, optimis bahwa industri akuakultur Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. “Industri hulu hilir kita harus solid dulu, dan memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan perbaikan di seluruh rantai nilai agar kita bisa lebih efisien.  Segala investasi yang dikeluarkan harus diperuntukkan hanya untuk inovasi menuju efisiensi yang lebih baik,”pungkas Pambudi.ning-denpasar/dini/edt

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp-Image-2026-01-14-at-10.01.33
MAKSIMALKAN PROFIT UDANG 2026
5-Januari
Potensi Penyebaran Patogen AHPND Melalui Udara
HEIF Image
Tingkatkan Hasil Nelayan dengan Booster Rumpon
AGT04277
Strain Nila, Butuhnya ‘Paket’ Bukan Ala Carte
2-Januari-1
Gugatan Iklim dari Nelayan Terhadap Korporasi
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!