WhatsApp Image 2026 06 02 at 13.58.09

Riset Kunci Akuakultur Berkelanjutan

Riset Kunci Akuakultur

Bandarlampung (TROBOSAQUA). Riset yang aktual dan aplikatif diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan dalam budidaya ikan dan udang. Ancaman penyakit, kenaikan biaya pakan, perubahan iklim, hingga tuntutan menjaga lingkungan membuat inovasi berbasis penelitian semakin dibutuhkan agar kegiatan akuakultur tetap produktif dan berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Ilmiah Kegiatan Riset Perikanan dan Kelautan (SIGER PIK) yang diselenggarakan Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila). Seminar menghadirkan Wakil Kepala Divisi Teknologi PT Central Proteina Prima, Rubiyanto Widodo Haliman, MBA, sebagai salah satu pembicara.

Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian Unila, Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P., serta dihadiri akademisi, praktisi perikanan, birokrasi, dan pemangku kepentingan lainnya. Seminar juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antarlembaga dan lomba esai yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Perikanan dan Kelautan (Himapik).

Dalam paparannya bertajuk ‘Mendukung Budidaya Perikanan Berkelanjutan melalui Riset Aktual yang Komprehensif’, Rubiyanto menyampaikan bahwa akuakultur memiliki peran penting dalam penyediaan protein hewani. Perkembangan sektor ini perlu diikuti penerapan sistem budidaya yang memperhatikan kesejahteraan hewan dan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, pengaturan kepadatan tebar dan penerapan biosekuriti menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi. Keberhasilan budidaya juga ditentukan oleh penggunaan benur berkualitas dari hatchery yang menerapkan biosekuriti ketat dan berstatus Specific Pathogen Free (SPF).

Benur perlu diperiksa menggunakan metode RT-PCR atau qPCR untuk mendeteksi sejumlah penyakit utama, seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), dan Translucent Post-Larva Disease (TPD).

 

Tekan Beban Budidaya

Selain benih, pakan menjadi faktor penting karena menyumbang sekitar 50 persen dari biaya produksi. Penggunaan protein pakan secara berlebihan tidak selalu meningkatkan pertumbuhan, tetapi dapat meningkatkan kandungan amonia dan bahan organik di perairan.

Kondisi tersebut berpotensi mendukung perkembangan bakteri Vibrio dan meningkatkan risiko penyakit. Pakan juga disebut berkontribusi besar terhadap beban nitrogen dan fosfor di kolam sehingga program pemberian pakan harus disusun berdasarkan kebutuhan udang dan kondisi lingkungan budidaya.

Rubiyanto turut menekankan pentingnya penerapan biosekuriti secara konsisten, mulai dari pemantauan kesehatan udang, deteksi dini patogen, penggunaan probiotik secara tepat, hingga pengelolaan limbah.

“Semakin ketat biosekuriti dijalankan, semakin rendah prevalensi penyakit. Sebaliknya, munculnya penyakit baru atau penyakit yang terus berulang menjadi indikator lemahnya penerapan biosekuriti,” ujarnya.

Riset Kunci Akuakultur 2

Penyakit Semakin Kompleks

Tantangan budidaya udang dinilai semakin kompleks seiring munculnya penyakit seperti TPD dan White Muscle Disease (WMD). Pada saat yang sama, pelaku usaha menghadapi kenaikan harga bahan baku pakan akibat ketergantungan impor dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Perubahan iklim turut meningkatkan risiko budidaya. Kenaikan suhu perairan dan perubahan kualitas lingkungan dapat memengaruhi kondisi udang sekaligus meningkatkan peluang munculnya penyakit.

Karena itu, pemantauan kualitas air dan penyakit perlu dilakukan sebagai sistem peringatan dini. Informasi hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengetahui penyakit dominan di suatu kawasan dan menentukan langkah pengendalian yang lebih tepat.

Di Lampung, IMNV masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pembudidaya, sedangkan EHP telah ditemukan di berbagai sentra budidaya udang. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan pelaku usaha dalam menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Rubiyanto menyebut penelitian di bidang penyakit, nutrisi, genetika, dan lingkungan terus dikembangkan dengan dukungan fasilitas laboratorium. Ruang lingkupnya mencakup pengembangan probiotik, perbaikan mutu induk, inovasi pakan, pencarian bahan baku alternatif, serta pemanfaatan pendekatan microbiome, metagenomic, dan metode in-silico.

“Ke depan tantangan budidaya akan selalu berkembang, baik dari aspek penyakit, nutrisi, genetika, maupun lingkungan. Karena itu diperlukan riset-riset yang inovatif, aplikatif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah agar budidaya perikanan Indonesia semakin berkelanjutan,” pungkasnya. Syafnijal Datuk/Lampung

 

Tag:

Bagikan:

Trending

Riset Kunci Akuakultur
Riset Kunci Akuakultur Berkelanjutan
penandatanganan kerjasama
Siger PIK Unila Dorong Inovasi Riset Perikanan Berkelanjutan Untuk Ketahanan Pangan
ADV-SYAQUA-2.jpg
SyAqua Mengoptimalkan Kadar Protein Dalam Pakan Udang: Bukti dari Uji Komersial Multi-Tambak di Thailand
Patin siap fillet by TROBOS
Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  
Lele tanpa kepala dan jeroan mulai disukai pasar by Pribadi
Benih Seret, Pasokan Lele Tertekan
banner6
banner9
Scroll to Top