Maggot Black Soldier Fly jadi jalan keluar bagi pembudidaya ikan di Desa Pasar Baru untuk lepas dari ketergantungan pakankomersial
Serdang Bedagai (TROBOSAQUA). Di sudut Desa Pasar Baru, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, sekumpulan kotak biopond bertingkat berjejer rapi. Di dalamnya, larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih akrabdisebut maggot, bergerak-gerak melahap sisa sayur, ampas tahu, dan limbah dapur warga. Bagi Pokdakan Teratai Baru, kelompokpembudidaya ikan yang berdiri sejak 2015 ini, tumpukan larva itubukan sekadar limbah yang diolah — melainkan cikal bakalkemandirian pakan yang selama ini jadi beban terbesar usahamereka.
Kenaikan harga pakan komersial menjadi salah satu tantangan bagikeberlanjutan usaha budidaya ikan. Biaya produksi pun meningkat, sementara ruang keuntungan pembudidaya semakin terbatas. Kondisi tersebut mendorong Universitas Dharmawangsa melaluiProgram Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan (PDB) Desa Binaan, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepadaMasyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untukmendampingi Pokdakan Teratai Baru mengembangkan pakanmandiri berbasis maggot sejak Tahun I pada 2025.
Dari Uji Coba ke Produksi Rutin
Ketua tim pengabdian, Dwi Tika Afriani, menjelaskan bahwafondasi teknologi yang dibangun pada tahun pertama — mulai daribiopond bertingkat, kandang breeding lalat dewasa, hingga mesinpelet dan roasting — kini mulai menunjukkan hasil pada tahunkedua pelaksanaan. Produksi pakan mandiri Pokdakan naik darisekitar 80–100 kilogram per bulan menjadi kurang lebih 140 kilogram per bulan, dengan tingkat kemandirian pakan internal mencapai sekitar 65 persen dari kebutuhan pokdakan.
“Formulasi pakan yang kami kembangkan mengandung sekitar 30 persen tepung maggot, dipadukan dengan dedak, tepung ikan, dan premix vitamin-mineral,” ujar Dwi Tika Afriani. Ia menambahkan, formulasi tersebut telah diuji secara proksimat dengan kadar protein terjaga di kisaran 30–32 persen, setara dengan pakan komersial di pasaran.

Meski produksi meningkat, utilisasi mesin pengolah pakan barumenyentuh angka 68 persen dari kapasitas optimal. Menurut Dwi Tika Afriani, kendala utamanya bukan pada mesin, melainkan pada jumlah operator terlatih yang masih terbatas untuk menjalankanshift produksi tambahan, ditambah pasokan limbah organik daridesa yang belum sepenuhnya stabil sepanjang tahun.
Diuji Lewat Feeding Trial
Klaim kandungan protein di atas kertas saja belum cukup. Untukmemastikan pakan benar-benar layak secara biologis, tim pengusulmelaksanakan feeding trial terkontrol selama 60 hari pada ikan nila. Hasilnya, nilai rasio konversi pakan (FCR) berada di angka 1,28 dengan tingkat kelangsungan hidup (SR) 87 persen.
Angka tersebut belum mencapai target program, yaitu FCR 1,2 dan SR 90 persen. Namun, hasil tersebut memberikan indikasi awalbahwa pakan berbasis bahan baku lokal tersebut layak digunakansecara biologis dan menjadi dasar untuk penyempurnaan formulasipada tahap berikutnya.
Pelan Tapi Pasti Lepas dari Tengkulak
Ketua Pokdakan Teratai Baru, Muhammad Suhairi, mengakuperlahan mulai merasakan manfaat dari berkurangnyaketergantungan pada pakan pabrikan. Selain menekan biayaproduksi, penurunan biaya pakan turut membuka ruang bagipokdakan untuk mulai menjual sebagian hasil produksinya secaralangsung. Sekitar 35 persen penjualan kini berjalan langsung kekonsumen dan pembudidaya sekitar, tidak lagi seluruhnya lewattengkulak seperti sebelumnya — meski ia mengakui proses menujukemandirian penuh masih panjang.
Dari sisi tata kelola usaha, Pokdakan juga mulai merapikanpembukuan yang sebelumnya dikerjakan manual. Sekitar 80 persentransaksi harian kini sudah tercatat secara digital, sementara proses pengajuan legalitas badan usaha dalam bentuk koperasi tengahberjalan — langkah yang diharapkan dapat memperkuat tata kelolausaha sekaligus membuka peluang akses terhadap pembiayaanformal.
Peta Jalan Menuju Kemandirian Penuh
Dwi Tika Afriani menegaskan, program pendampingan pakanmandiri ini dirancang sebagai roadmap tiga tahun. Tahun pertamamembangun fondasi teknologi produksi, tahun kedua difokuskanpada optimalisasi efisiensi dan validasi mutu pakan, sementaratahun ketiga diarahkan pada penguatan skala produksi, sertifikasimutu pakan, dan legalitas usaha yang lebih penuh. “Yang belumtercapai bukan berarti gagal, tapi jadi peta jalan bagi kami untuktahun ketiga,” ujarnya, menyinggung sejumlah target yang masihdalam proses seperti utilisasi mesin produksi dan validasi mutupakan yang belum sepenuhnya optimal.

Bagi Pemerintah Desa Pasar Baru, program ini dinilai sejalandengan agenda pembangunan desa jangka menengah. Dukunganberupa penyediaan lahan produksi dan fasilitasi lintas pemangkukepentingan bahkan telah dimasukkan ke dalam RencanaPembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), menandakanprogram pakan mandiri berbasis maggot ini tidak hanya bergantungpada pendanaan dari luar, tetapi mulai menjadi bagian dariperencanaan pembangunan desa sendiri.
Model produksi pakan mandiri berbasis limbah organik seperti inidigadang-gadang berpotensi direplikasi di desa binaan ataukelompok pembudidaya lain yang menghadapi persoalan serupa: biaya pakan tinggi, limbah organik yang belum termanfaatkan, dan keterbatasan akses ke pakan alternatif berkualitas. “Kalau limbahdapur saja bisa jadi pakan ikan yang layak, ini bukan sekadar solusiteknis, tapi juga soal bagaimana pembudidaya bisa lebih mandirimenghadapi fluktuasi harga pakan,” pungkas Dwi Tika Afriani.



