Untuk budidaya udang yang masih tetap prospektif, pemanfaatan ukuran tokolan menjadi keunggulan tersendiri
Budidaya udang pada 2025 dinilai masih prospektif. Hal itu bisa dilihat dari tren harga udang di pasar lokal dan mancanegara. Apabila harga jual udang Rp 65 ribu per kg hingga Rp 75-Rp 80 ribu per kg, pembudidaya masih mendapatkan margin keuntungan.
“Tentunya, dengan masih adanya margin keuntungan akan menarik bagi pembudidaya udang. Apalagi, udang size kecil (100 ekor per kg) tak hanya diminati pasar lokal, tapi juga pasar mancanegara. Udang size 100 ekor per kg hanya butuh waktu panen 2 bulan. Udang ukuran kecil ini pasarnya cukup bagus,” kata Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara-Jawa Tengah, Supito Sumarto.
Kendati prospeknya cukup bagus, lanjut Supito, pembudidaya udang harus semakin peduli terhadap kondisi tambaknya. Tambak udang harus dikelola dengan baik, sesuai SOP-nya. Seperti tambak udang di Pantai Utara (Pantura ) Jawa banyak yang masih tradisional, sehingga padat tebarnya rendah.
Tambak tradisional ini harus diarahkan ke semi tradisional atau semi tradisional plus yang sudah memanfaatkan kincir agar padat tebarnya bisa dinaikkan. Cara budidaya udangnya pun harus ada jeda. Hal ini dilakukan supaya penyakit yang ada di tambak bisa terputus.
Supito mengungkapkan, status Balai Jepara sudah menjadi balai layanan umum (BLU), untuk pembenihan dilakukan sesuai pesanan. Balai Jepara juga tak sekadar menjual benih udang (benur), namun melakukan pendampingan ke pembudidaya udang secara teknis.
Pendampingan dilakukan mulai persiapan tambak sampai panen. Status BLU ini juga mendorong Balai Jepara untuk melakukan revitalisasi, seperti perbaikan fasilitas, asrama lebih bagus, menambah lahan tambak, sehingga produksi bisa meningkat.
Gandeng HSRT Kembangkan Pentokolan
Balai Jepara juga menggandeng sejumlah hatchery skala rumah tangga (HSRT)/unit pembenihan rakyat (UPR) untuk melakukan pentokolan. Bahkan, masyarakat sekitar BBPBAP Jepara yang ingin melakukan usaha petokolan diberi fasilitas berupa benih dan air tandon untuk memudahkan kegiatan usaha mereka.
“Masyarakat kami ajak untuk melakukan pentokolan udang. Kita siapkan benihnya dan sumber air di depan balai. Air ini untuk menekan cost produksi mereka. Karena untuk biaya air , satu baknya bisa mencapai Rp1 juta,” kata Supito.
Menurutnya, pembenihan udang pada skala pentokolan sangat menguntungkan bagi masyarakat. Ada sekitar 15 HSRT/UPR yang digandeng Balai Jepara untuk mengembangkan budidaya udang. Masyarakat atau pengelola HSRT bisa membeli benur post larva (PL5-PL6) dengan harga Rp10 per ekor. Setelah dipelihara dalam bak kurun 10-15 hari, mereka bisa menjual dengan harga Rp24-Rp25 per ekor.
Benih hasil pentokolan yang dilakukan masyarakat survival rate (SR)-nya cukup tinggi mencapai 70-80 persen. Pentokolan menjadi salah satu usaha yang banyak diminati masyarakat. Sebab, sangat menguntungkan. “Tak menunggu lama, hanya dua minggu mereka sudah mendapat untung,” ujar Supito.
Windu Tetap Prospektif
Balai Jepara pada 2025 juga mengembangkan udang windu, khususnya di Jawa Timur (Sidoarjo) dan Kalimantan. Budidaya udang windu yang dikembangkan di Jatim dan Kalimantan hanya butuh pakan alami. Sehingga, untuk size (ukuran) 30-40 ekor per kg, perlu waktu budidaya selama 4 bulan.
Lantaran potensinya cukup besar, Balai Jepara juga mendorong pengembangan udang windu ke masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan outlet pentokolan, terutama di tambak-tambak tradisional yang tersebar di Pantura Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Utara.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025



