WhatsApp Image 2026 06 02 at 13.58.09

Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  

Patin siap fillet by TROBOS

Bogor (TROBOSAQUA). Ribuan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak banyak mencari ikan utuh. Kebutuhan utama mereka bergeser ke bahan baku yang praktis, seragam, dan siap olah. Kondisi ini membuat fillet lele dan patin mulai menempati posisi penting dalam rantai pasok, sekaligus membuka pasar baru bagi industri catfish nasional yang selama ini bertumpu pada penjualan ikan segar.

Perubahan pola permintaan tersebut mulai dirasakan pelaku industri sejak program MBG berjalan di berbagai daerah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Susilo Hartoko, menyebut dapur MBG cenderung menghindari ikan utuh karena membutuhkan proses tambahan sebelum bisa masuk ke dapur produksi.

“Dapur lebih memilih fillet. Kalau ikan utuh, prosesnya lebih panjang,” ujarnya di Bogor, 22 Mei lalu.

Kepada tim TROBOS Aqua, Susilo membeberkan, di lapangan, kecenderungan itu paling terlihat di Pulau Jawa yang menjadi pusat serapan catfish untuk program MBG. Berdasarkan pemetaan APCI, fillet patin atau dori diperkirakan menyumbang sekitar 60% kebutuhan, sementara lele berada di kisaran 40%. Di Sumatera dan Kalimantan, patin masih menjadi komoditas dominan dalam menu dapur.

Susilo Hartoko by Dian
Susilo Hartoko by Dian

Di balik pergeseran tersebut, faktor efisiensi menjadi pertimbangan utama. Dapur MBG harus menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi setiap hari dengan standar penyajian yang seragam dan waktu kerja yang terbatas. Dalam kondisi seperti itu, bahan baku berbentuk fillet dinilai lebih sesuai karena langsung dapat diolah tanpa proses pembersihan tambahan.

Menurut Susilo, hal ini juga berkaitan dengan cara pandang terhadap biaya bahan baku. Fillet kerap dianggap lebih mahal pada harga awal, namun belum selalu dihitung berdasarkan yield atau bagian yang benar-benar dapat dikonsumsi.

“Istilahnya itu kan daging. Tidak ada kepala, tidak ada duri yang jadi limbah,” katanya.

Perubahan pola permintaan ini perlahan mulai mendorong pergeseran di sisi hulu industri catfish. Selama ini, sebagian besar pembudidaya masih mengandalkan penjualan ikan hidup atau segar. Namun, kebutuhan dari dapur MBG mulai menciptakan ruang bagi penguatan industri pengolahan, standardisasi produk, serta sistem distribusi yang lebih terstruktur.

Meski demikian, APCI menilai tantangan utama saat ini bukan terletak pada kapasitas produksi. Dengan jaringan anggota yang tersebar lebih di 20 provinsi, asosiasi ini mengklaim mampu memasok hingga 1.500 ton catfish per hari. Persoalan yang lebih krusial justru berada pada sisi kepastian permintaan dari program MBG.

Panen lele by TROBOS
Panen lele by TROBOS

“Sebenarnya kami siap memenuhi kebutuhan pasokan. Yang penting ada kepastian volume dan jadwal,” pinta Susilo.

Kepastian tersebut menjadi kunci bagi pelaku usaha dalam menyusun pola produksi, memperkuat investasi pengolahan, dan mengatur rantai pasok agar lebih efisien. Tanpa kejelasan permintaan, industri akan sulit bergerak menuju skala yang lebih terintegrasi.

Jika pola konsumsi MBG terhadap ikan dapat berlangsung konsisten, fillet lele dan patin berpotensi naik kelas dari sekadar produk olahan menjadi salah satu simpul penting dalam rantai pasok protein nasional. Di titik ini, nilai tambah industri tidak lagi berhenti di kolam, tetapi berlanjut hingga ke dapur jutaan penerima manfaat setiap hari. dian

Tag:

Bagikan:

Trending

ADV-SYAQUA-2.jpg
SyAqua Mengoptimalkan Kadar Protein Dalam Pakan Udang: Bukti dari Uji Komersial Multi-Tambak di Thailand
Patin siap fillet by TROBOS
Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  
4F23737F-7727-4307-8E5C-36132EF5E8C4
Indo Livestock 2026 Himpun Pelaku Industri dari 30 Negara
ABCA02C5-D56C-454E-8A1F-48C9F82CAD4D
YUKI Dorong Pengendalian Penyakit Lewat Air
AgResults mengapresiasi pelaku usaha yang mempercepat adopsi teknologi di sektor akuakultur by Agresult
Adopsi Teknologi Akuakultur Meningkat, Ribuan Pembudidaya Rasakan Manfaat Program AgResults  
banner6
banner9
Scroll to Top