Komoditas lele saat ini sudah diterima hampir di semua kalangan masyarakat, sehingga potensi pasar catfish semakin terbuka. Tidak mengherankan pelaku budidaya lele pun terus berkembang di masyarakat.
Budidaya lele tak perlu kolam dengan air mengalir, sehingga budidaya lele bisa dilakukan dengan memanfaatkan kolam tanah, terpal, atau kolam beton. Lantaran, cara budidayanya cukup mudah, banyak orang yang mencoba mengadu nasib dengan budidaya lele.
Ada yang tak berhasil, tapi ada juga yang sukses dengan budidaya lele. Salah satunya adalah Suganda. Pembudidaya lele asal Cirebon-Jawa Barat (Jabar) mampu memproduksi lele sampai 3 ton per hari. Lele tersebut didistribusikan untuk memenuhi permintaan pasar ke sejumlah kota di Jawa Tengah, Jakarta, Bandung-Jabar, dan Lampung.
Suganda yang juga Ketua Pokdakan Kersa Mulia Bakti, Desa Kertasura, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon mengaku mulai membudidayakan lele sejak 1998. Sejak Indonesia terkena dampak krisis moneter itulah, ia membudidaya lele dengan berbekal 1-2 kolam.
Di saat perekonomian sedang terguncang itulah, Suganda dengan tertatih-tatih dan jatuh bangun memulai budidaya lele. Berbekal semangat dan kemauan berusaha yang kuat, akhirnya usaha budidaya lele yang diimpikan membuahkan hasil gemilang. Bahkan, saat ini Suganda dan 12 temannya mampu mengembangkan budidaya lele di lahan seluas 30 hektar (ha) dengan jumlah kolam sebanyak 350 petak kolam lele.
Usaha Suganda terus berkembang. Dari lahan tersebut ada sekitar 5 ha yang digunakan untuk budidaya lele adalah miliknya sendiri, sedangkan sisanya berupa lahan sawah tadah hujan yang disewa dengan harga Rp15 juta per tahun. Kolam lele yang dibangun di atas lahan tersebut rata-rata berukuran 500 meter (m2).
“Pokdakan (kelompok pembudidaya ikan) ini dulunya beranggota 27 orang pembudidaya. Sekarang tinggal 12 orang. Karena yang lainnya sudah membentuk kelompok sendiri. Tapi, kita tetap berkomunikasi dan bersama-sama mengembangkan budidaya lele,” kata Suganda, di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, budidaya lele perlu kesabaran tinggi, karena untuk budidaya lele tak sekadar mampu memeliharan lele sampai layak jual. Pembudidaya harus bisa melihat pasarnya. Sebab, ada kalanya pasar sepi dan suatu ketika ramai, bahkan, stabil.
“Seperti jelang lebaran dan pada saat anak-anak mulai masuk sekolah (tahun ajaran baru/Juli) biasanya pasar untuk lele sepi. Tapi, jelang akhir 2024 pasar lele cenderung stabil dan harganya juga stabil Rp19 ribu per kg (di tingkat pengepul, red),” kata Suganda.
Menurut Suganda, lele sudah memasyarakat. Hampir semua lapisan masyarakat bisa menerima atau mengkonsumsi lele. Itu artinya, pasarnya masih terbuka lebar.
Hanya saja, untuk mendapatkan pembeli dalam jumlah besar tidaklah mudah. Sehingga, pokdakan tetap mengandalkan pelanggan dan sampai saat ini terus mencari terobosan, guna mendapatkan pembeli atau pengepul yang mampu membeli dalam jumlah banyak.
Selain mampu membaca pasar, pembudidaya harus bisa mengatur sistem produksi lele yang dibudidaya. Kalau pasar sedang ramai, maka budidayanya ditingkatkan. Sebaliknya, kalau pasar sepi, kolam-kolam pembudidaya lele harus ada yang diistirahatkan sejenak.
Budidaya lele yang dilakukan Pokdakan Kersa Mulia Bakti (KMB) sangat tergantung kondisi pasar. Kendati begitu, padat tebar tiap kolam rata-rata sebanyak 200 ekor per m2, sehingga satu petak kolam padat tebarnya sebanyak 30 ribu ekor. Sedangkan benih lele yang ditebar mulai ukuran 1 minggu. Setelah tiga bulan, lele bisa dipanen.
Agar lele bisa dipanen setiap hari, Suganda dan teman-temannya melakukan budidaya lele sistem berjenjang, atau sistem budidaya diatur secara periodik. Artinya dari 350 petak kolam lele tak ditebar benih lele semuanya secara berbarengan.
“Kami seminggu bisa tiga kali tebar benih. Karena kolamnya banyak, hampir tiap hari kami bersama teman-teman tebar benih untuk memenuhi permintaan pasar. Dengan pola tersebut, kami mampu panen 3 ton per hari,” paparnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



