Belanda (TROBOSAQUA). Sistem online yang dijalankan dalam pelelangan perikanan tangkap menjadi hal yang lumrah dilakukan di Eropa dengan sistem yang tidak jauh berbeda. Contohnya Belanda. Dan TROBOS Aqua berkesempatan menengok sistem pelelangan ini di Stellendam bersama peserta short course Wageningen University and Research beberapa waktu lalu.
Ikan-ikan hasil tangkapan yang didaratkan untuk kemudian dijual lelang di lokasi dan via online. Di Stellendam, organisasi yang menaungi pelelangan ikannya adalah UFA (United Fish Auction) yang memiliki cabang di berbagai lokasi lain, seperti Scheveningen dan Colijnsplaat serta kerjasama internasional dengan pelelangan di negara-negara Eropa lainnya. Di Stellendam, ikan-ikan yang didaratkan antara lain ikan turbot, cod, flounder, lemon sole, dan udang. Proses pelelangan akan dimulai pada pukul 7 pagi.
“Dengan konsep pelelangan, diharapkan dapat menjamin kestabilan suplai ikan berkualitas. Dan dengan sistem online lewat internet, para pembeli atau pedagang hingga level internasional dapat melempar tawaran secepat dan sesegera para pembeli yang berada di pelelangan,” ungkap Ingrid Gevers, koordinator short course sambil berbincang dalam bahasa Belanda dengan pemandu lokal di UFA.
Sistem online yang digunakan dengan tujuan untuk memudahkan transaksi jual-beli perikanan tangkap bagi siapapun yang ingin terlibat. Termasuk penyuplai, pembeli, hingga pihak lelang sendiri.
Dengan proses yang mudah, proses pelelangan yang terjadi secara online dibuat sedemikian serupa seperti langsung di tempat pelelangan. Bedanya, para pembeli online lebih bisa menghemat waktu karena tidak perlu hadir di lokasi. Namun, ada kalanya para pembeli ini mengirim tenaga kerja mereka untuk sesekali melakukan transaksi di tempat sekaligus untuk melihat langsung kualitas ikan yang dilelang.
Pelelangan online disediakan ruangan yang berbeda. Yakni ruang khusus pelelangan online dimana tampak klien lelang bekerja di balik komputer masing-masing. Mereka ini, terang Inggrid yang berkoneksi dengan pembeli dalam pelelangan secara online.

Seperti aturan pelelangan ikan pada umumnya, ikan dilelang agar didapat harga yang terbaik. Yakni, berdasarkan kualitas ikan, jumlah yang diinginkan pembeli berbanding dengan ketersediaan suplai. Ikan-ikan yang didaratkan oleh kapal-kapal penangkap ikan akan disortir oleh para staf yang bekerja. Secara umum, penyortiran ikan berdasarkan ukuran dan bobot, dan tiap keranjang ikan akan diberi label yang tertulis area dimana ikan tertangkap, nama armada penangkap ikan, serta skor kualitas ikan. Pembeli dan pedagang memiliki akses khusus untuk informasi ini dari tempat pelelangan agar mereka bisa memberikan penawaran yang tepat dan sesuai.
Dalam sistem pelelangan, kurang lebih tidak jauh berbeda dengan sistem manual. Dimana juru lelang (auctioneer) akan menentukan waktu pelelangan setelah dia melakukan pemeriksaan akhir. Para pembeli akan masuk secara online ke dalam situs yang mengatur pelelangan tersebut. Mereka akan mencocokkan waktu pelelangan untuk kemudian memeriksa apakah pelelangan telah dimulai, selain informasi-informasi antara lain mengenai jenis kapal penangkap ikan, spesies ikan, waktu tangkap, ukuran hingga kualitasnya.
Para pembeli ini biasanya terdiri dari beragam stakeholders terkait dalam jual beli ikan. Inggrid menuturkan, ada diantara mereka yang berasal dari pengolahan ikan, penjual ikan lokal, dan pemilik rumah makan yang mencari ikan-ikan berkualitas. Dan biasanya untuk menjadi pedagang atau pembeli secara online, tidak bisa sembarangan. Mereka harus memenuhi berbagai persyaratan terstandar dan memiliki akun yang bisa dipercaya agar nantinya transaksi yang terjalin bisa ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.dini/edt



