banner12 1
Iklan Web R

Nila Ditargetkan Jadi Motor Ekonomi Biru

834633FA-48AB-44E7-8550-08ADA7454624

Bekasi (TROBOSAQUA). Pemerintah menempatkanikan nila (tilapia) sebagai salah satu motor penggerakEkonomi Biru Indonesia. Melalui program revitalisasi tambakidle di kawasan Pantura, produktivitas nila ditargetkanmelonjak drastis dari 0,6 ton per hektar per tahun menjadi 80 ton per hektar per siklus. “Tilapia menempati posisi strategisdalam pemenuhan pangan nasional maupun internasionalkarena produktivitasnya tinggi dan kandungan proteinnyaberkualitas,” tegas Tb Haeru Rahayu, Direktur JenderalPerikanan Budi Daya (28/8).

Indonesia sendiri memproduksi 20–25 juta ton perikananper tahun, dengan kontribusi budidaya rata-rata 5,66 juta ton pada 2020–2024. Namun, lebih dari 60% unit usaha masihberskala tradisional sehingga produktivitas rendah dan rentanpenyakit. Di Pantura, tercatat ada 78.550 hektare tambak idle yang dinilai potensial untuk diubah menjadi sentra budidayanila salin bernilai tinggi dan berkelanjutan.

CB693FCA 53D0 4579 86EC 5B6323504421
Pemaparan Tb Haeru Rahayu by Istimewa

Dampak ekonominya diproyeksikan signifikan. Dalam Outlook Tilapia Indonesia 2025, Tb Haera menuturkan, revitalisasi tambak bisa menciptakan 119.100 lapangan kerjabaru dari sektor hulu hingga hilir. Efek berganda (multiplier effect) diperkirakan menambah PDB hingga Rp278 triliunpada 2025–2035. Pendapatan pembudidaya juga berpotensimeningkat 30%, sementara penerimaan fiskal nasional dan daerah bisa menambah Rp12,2 triliun. Analisis kelayakanmenunjukkan nilai IRR mencapai 30,99%, jauh di atas social discount rate, menandakan proyek ini ekonomis.

Selain nila, KKP juga menempatkan udang, rumput laut, kepiting, dan lobster sebagai komoditas unggulan. Untukmendukung produktivitas, diterapkan teknologi modern seperti tandon, IPAL komunal, mekanisasi pakan otomatis, dan monitoring kualitas air real-time berbasis IoT. Hasil uji coba menunjukkan produktivitas nila bisa melesat, sementaranilai pasar domestiknya diproyeksikan mencapai Rp26,14 triliun per tahun dengan produksi nasional mendekati 1 jutaton.

Tb Haeru menekankan, keberhasilan program inimembutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dukungankementerian teknis, pemerintah daerah, asosiasi, hinggapelaku usaha dibutuhkan, termasuk penyediaan benihunggul, pakan berkualitas, cold storage, unit pengolahan, dan akses ekspor. “Jika pengelolaan dilakukan denganbenar, nila bukan hanya memenuhi kebutuhan protein nasional, tetapi juga akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” tutupnya. dian

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!