banner12 1
Iklan Web R

Menggantung Asa Di Tengah Gempuran Parasit

Bandeng Blanakan by Yopi (5)

 

Walau kondisi musim ditengarai tidak langsung berpengaruh pada kondisi ikan, parasit bisa menjadi momok yang membahayakan produksi budidaya laut

 

Dilansir dari beberapa pemberitaan, banyak pihak bertanya-tanya apa kabar potensi laut Indonesia yang begitu besar, tapi masih menyisakan tanda tanya pemanfaatannya. Salah satunya, seperti dilansir halmaheranesia.com, Ketua Pusat Kajian Akuakultur Universitas Khairun (Unkhair), Prof Muhammad Aris, menyatakan sektor perikanan budidaya sudah seharusnya menjadi salah satu prioritas bagi kebijakan Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Dengan banyak daerah yang berbasiskan kepulauan, Aris memaparkan, sudah seharusnya Indonesia tidak semata-mata menggantungkan diri pada potensi perikanan tangkap lautnya. Tapi, budidaya lautnya juga harus berjalan secara optimal.

Apalagi, terkhusus di Maluku Utara (Malut), ia menjelaskan, perikanan tangkap sudah mengalami produksi yang semakin hari sangat fluktuatif. Salah satu penyebabnya adalah perubahan iklim yang semakin hari tidak menentu. “Salah satu solusi yang didorong itu adalah sektor perikanan budidaya. Di Maluku Utara sektor ini baru sekitar tiga tahun terakhir sudah mulai digerakkan sebagai penopang untuk memenuhi kekurangan produksi dari sektor perikanan,” ungkap Guru Besar Unkhair tersebut.

Menurutnya, ada beberapa strategi atau keunggulan dari sektor perikanan budidaya yang secara umum tidak terkait langsung dengan perubahan iklim. Sektor ini lebih resistensi, karena perikanan budidaya merupakan salah satu sektor yang di dalamnya ada campur tangan dengan teknologi yang begitu masif.

“Saya kira perairan kita itu masih sangat layak untuk pengembangan (budidaya). Apalagi sampai hari ini itu sudah mulai beberapa komoditi unggulan perikanan budidaya seperti udang, kepiting, lobster, rumput laut itu belum digenjot secara optimal dan maksimal,” sambungnya dijelaskan dalam artikel.

 

Resistensi Cuaca

Menyambung kepada resistensi terhadap cuaca, di beberapa wilayah Indonesia, tampak kondisi cuaca yang seakan mengikuti kondisi perpolitikan Indonesia, galau. Kadang dibilang bagus, kadang dibilang murung.

Menarik mengikuti bagaimana situasi cuaca yang dikatakan ‘kalang kabut’ seperti sekarang bisa berpengaruh pada kondisi budidaya ikan nasional, khususnya budidaya laut yang notabene cukup terpisah dari kondisi yang berlalu Lalang di daratan. Karena, selain rumput laut, budidaya laut umumnya didominasi komoditas ikan kerapu, kakap putih, bawal bintang, bandeng, dan ikan lainnya.

Tak sedikit pelaku usaha, seperti diangkat oleh TROBOS Aqua edisi 158 lalu, petambak udang di Indonesia mengakui bahwa musim saat ini kian tidak terprediksi. Sehingga, mau tidak mau, petambak meski berakal cepat untuk mengakali keadaan sekarang.

Lantas, Supoyo Untung, pembudidaya ikan kakap asal Kabupaten Pesawaran-Lampung mengungkapkan, kalau di budidaya ikan kakap, dampak cuaca kemarau basah sekarang tidak begitu terasa. Pasalnya jika saat panas terik tiba-tiba turun hujan, maka paling dalam air hujan meresap hingga satu meter ke bawah, sementara keramba ikan tiga meter sehingga ikan bisa bermain di bagian bawah keramba dan tidak terpengaruh oleh perubahan suhu dan pH jika terjadi.

“Cukup berbeda dengan di tambak atau di kolam air tawar yang kedalamannya 1 sampai 1,5 meter. Begitu air hujan masuk ke tambak atau kolam maka akan terjadi perubahan suhu, pH, salinitas dan sebagainya,” terang pembudidaya ikan lepas pantai Hanura, Desa Hanura, Kecamatan Telukpandan ini.

Namun, tambahnya, yang berpengaruh besar terhadap budidaya ikan laut adalah blooming (ledakan populasi) alga. Peristiwa ini memusnahkan ikan-ikan di keramba di Teluk Lampung seperti pada 2012.

“Saat itu pasca PT Pelindo melakukan pengerukan alur laut di pelabuhan dan lumpurnya dibuang di pulau yang tidak jauh dari keramba milik kami, pembudidaya ikan laut. Sehingga, menyebabkan blooming alga. Kasusnya sampai masuk pengadilan, saya ikut menjadi saksi. Pada pengadilan tingkat pertama Pelindo kalah, lalu di tingkat banding pembudidaya kalah. Ya kita melawan orang berduit, ya bagaimana lagi,” tukasnya.

 

Perbedaan Harga Ikan

Harga jual ikan, jelas Untung, dan blooming alga jelas mempengaruhi minat pembudidaya. Ia mengungkap, sebelum wabah blooming alga pada 2012, terdapat 68 pembudidaya ikan laut di kawasan Pesawaran.

“Namun jumlah itu terus menurun, apalagi saat Menteri KKP Susi Pudjiastuti melarang jaring cantrang dan kapal pembawa ikan ke luar negeri dilarang masuk sehingga budidaya kerapu habis dan bawal/kakap berkurang. Sekarang tetap ada pembudidaya kerapu tetapi tidak sebanyak dulu lagi dan kebanyakan produksinya untuk pasar lokal bukan lagi ekspor seperti dulu. Kini permintaan dari restoran di Lampung dan Jabodetabek untuk ikan kakap cukup stabil. Saat ini harga ikan kakap hidup berkisar antara Rp65 ribu hingga Rp85 ribu/kg.

Di bawal bintang, terang pembudidaya bawal bintang asal Kabupaten Pesawaran, Arya Hendra, soal harga jual jelas berpengaruh terhadap budidaya. Kalau pada 2024 permintaan ikan dari restoran di Lampung dan Jabodetabek stabil sehingga harga jual juga stabil.

“Namun sejak Juli 2025 lalu, permintaan cenderung menurun sehingga harga juga tertekan. Walaupun, sampai saat ini tarif ekspor ke AS tidak berpengaruh ke kita karena ikan dijual ke Bandarlampung dan Jabodetabek alias lokalan atau belum ekspor. Sekarang rata-rata saya mengirim 500 ekor ikan hidup ke Jabodetabek dengan frekuensi 4 kali seminggu,” sebut Arya.

DSC 7077

 

Kondisi Parasit

Yang pembudidaya berusia 60 tahun ini khawatirkan, adalah parasit yang menempel di badan ikan. Untuk mengatasinya, ikan dimandikan dengan air tawar secara rutin seminggu sekali.

Sementara kalau untuk ikan kakap satu siklus selama setahun dan panen berat 5 ons ke atas. Ia saat ini mengelola 16 lubang keramba jaring apung (KJA), dengan masing-masing ukuran 3 X 3 X 3 meter.

“Jadi, yang bisa kita dilakukan agar pertumbuhan ikan lebih cepat adalah memberi pakan ikan rucah. Dalam jangka waktu pemeliharaan setahun bisa dipanen ikan ukuran 8 ons ke atas. Namun hal itu tidak selamanya bisa dilakukan, sebab kalau kita lagi ada keperluan maka ikan diberi pelet dari pabrik,” terang pembudidaya yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Mulya Bahari ini.

Serangan parasit juga menjadi momok pembudidaya ikan bawal bintang di Desa Sidodadi, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Menurut Arya Hendra, dampak yang paling terasa adalah meningkatnya serangan bakteri dan parasit pada ikan bawal sehingga menyebabkan tingkat kematian ikan naik dan tentunya SR (laju sintasan) menurun.

“Pada musim kemarau kering 2024 silam SR bisa mencapai 90-95 %. Tapi tahun ini paling hanya 80-85 %,” ungkap pembudidaya yang mengelola 50 lobang KJA ini.

Malah, tambahnya, sekarang pada badan ikan banyak terdapat parasit berupa kutu-kutu yang kadang-kadang bisa menembus kulit. Kalau kutu tersebut menyerang insang dan mata maka ikan bisa mati.

“Kalau tahun lalu karena kemaraunya kering maka serangan kutu-kutu ini tidak seberapa. Namun pada saat itu yang muncul adalah blooming alga, namun akan hilang jika arus laut kuat. Umumnya alga ini banyak berada di permukaan air. Jika alga ini nyangkut di insang ikan maka ikan tidak bisa bernapas dan akhirnya mati,” ucap pembudidaya berusia 37 tahun ini khawatir.

Untuk mencegah dan mengatasi parasit ini, tambah Arya, adalah memandikan ikan dengan air tawar secara rutin dua minggu sekali. Sementara, cara mengatasi serangan blooming alga yakni dengan memberi pakan setelah matahari terbenam.

Arya saat ini berbudidaya bawal bintang dengan satu siklus selama 7 bulan dan panen rata-rata 5-6 ons ke atas. “Kalau kemarau basah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan sehingga siklus panen tetap. Berbeda jika serangan blooming alga memperlambat pertumbuhan 1 hingga 2 bulan sehingga siklus panen bertambah lama,” jelasnya yang melakukan usaha di lepas pantai Ringgung ini.

Sebagai gambaran, data dari MSD Animal Health mendeskripsikan tentang profil jenis penyakit yang banyak menyerang komoditas ikan budidaya laut. Diantaranya adalah Irido virus sebagai tantangan terbesar, dimana mortalitas akibat Irido mencapai 40% – 100% populasi.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

CA6D0452-0C49-498A-B269-78831FB049EE
NLP Expo 2026 Resmi Diluncurkan, Dorong Kemandirian Pangan
Ketua panitia Maulana Akbar dok dini
FKPA Korwil Bangka Belitung Gelar Halal Bihalal
Budidaya nila dok trobos
Imbauan Pembudidaya Antisipasi El Nino
Pemaparan Ria Veriani by Istimewa
 Dari Diklat ke Ekosistem Pembelajaran ASN
By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!