banner12 1
Iklan Web R

Memilih Strain, Menentukan Produksi

Memilih Strain, Menentukan Produksi

Tasikmalaya (TROBOSAQUA). Permintaan ikan nila di pasar konsumsi masih menunjukkan kestabilan, terutama di wilayah dengan jaringan distribusi yang aktif. Kondisi ini menjadi peluang bagi pembudidaya untuk meningkatkan produksi secara lebih terukur. Yurid Kushendarsyah menjadi salah satu pembudidaya yang membaca peluang tersebut. Ia memulainya dari kolam berukuran kecil, sambil mengamati secara detail setiap respon ikan terhadap perlakuan yang ia berikan.

“Saya banyak belajar dari pengamatan langsung di kolam. Kadang hal yang terlihat sederhana justru jadi kunci,” ungkapnya melalui saluran telepon sore itu. Pendekatan berbasis observasi tersebut membuatnya lebih peka dalam memahami karakter pertumbuhan ikan, termasuk saat menentukan jenis strain yang akan digunakan.

Dalam praktik pembesaran nila, pemilihan strain menjadi faktor awal yang menentukan performa di kolam. Kepada tim TROBOS Aqua, Yurid menjelaskan, jenis strain dengan karakter tubuh padat umumnya memiliki pertumbuhan stabil dan cocok untuk kepadatan tebar tinggi. Ada pula strain yang memiliki pertumbuhan panjang tubuh lebih cepat, namun memerlukan kondisi pemeliharaan yang lebih terkontrol. Di sisi lain, terdapat strain dengan respons pertumbuhan yang lebih agresif serta toleransi adaptasi yang lebih luas terhadap lingkungan kolam. “Setiap strain punya karakter. Tidak bisa dipukul rata. Kalau tidak sesuai dengan kondisi kolam atau target produksi, hasilnya tidak maksimal,” tegas pembudidaya berusia 29 tahun ini.

Keseragaman populasi turut menjadi penentu keberhasilan. Populasi jantan lebih diprioritaskan karena efisien dalam konversi pakan dan memiliki laju pertumbuhan bobot yang lebih baik dibanding betina. Untuk meningkatkan proporsi jantan, dilakukan proses perendaman larva dengan Metil Testosteron selama kurang dari tujuh hari. Proses ini dilakukan secara terukur sesuai protokol penanganan larva, agar kesehatan ikan tetap terjaga.

Tantangan lanjutan muncul pada saat benih datang dari pemasok. Tidak jarang ukuran benih tidak seragam, sehingga memicu pertumbuhan yang tidak merata ketika ditebar di kolam. “Kalau ukuran awal bedanya terlalu jauh, pertumbuhan di kolam pasti pecah. Panen jadi tidak rata,” terang Yurid. Untuk mengatasi hal tersebut, ia selalu melakukan grading sebelum tebar, memastikan benih yang masuk ke kolam berada pada rentang ukuran yang sama agar pola pertumbuhan dapat dikendalikan.

Setelah faktor teknis di kolam terjaga, perhatian beralih pada dinamika pasar. Pasokan yang memuncak di beberapa wilayah secara bersamaan dapat menekan harga jual secara signifikan. “Harga itu bukan hanya soal naik atau turun, tapi soal waktu. Kalau panennya berbarengan, petani yang kena dampaknya,” ujarnya. Karena itu, ia mengatur siklus tebar dan panen agar tidak bersinggungan dengan periode panen massal di daerah lain, sehingga nilai jual tetap dalam kisaran yang menguntungkan.

Dari pengalaman tersebut, Yurid menegaskan, keberhasilan budidaya nila adalah hasil dari serangkaian keputusan yang konsisten sejak awal. “Strain harus cocok, ukuran benih harus seragam, dan waktu panen harus tepat. Kalau tiga hal itu terjaga, budidaya jadi lebih terarah,” tutupnya.dian/dini/edt

 

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp-Image-2026-01-14-at-10.01.33
MAKSIMALKAN PROFIT UDANG 2026
5-Januari
Potensi Penyebaran Patogen AHPND Melalui Udara
HEIF Image
Tingkatkan Hasil Nelayan dengan Booster Rumpon
AGT04277
Strain Nila, Butuhnya ‘Paket’ Bukan Ala Carte
2-Januari-1
Gugatan Iklim dari Nelayan Terhadap Korporasi
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!