Lampung (TROBOSAQUA). Budidaya ikan laut (marikultur) menggunakan keramba jaring apung (KJA) di Teluk Lampung cukup menguntungkan dan potensinya sangat besar sebagai usaha dan sumber protein hewani masyarakat. Namun untuk pengembangannya pembudidaya menghadapi keterbatasan bibit dan modal untuk pengadaan pakan yang harganya mahal.
Hal itu diutarakan disampaikan Supoyo Untung (60 tahun), Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mulya Bahari di lepas pantai Hanura, Desa Hanura, Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Untung sendiri mengusahakan 16 kotak KJA masing-masing ukuran 3 X 3 X 3 meter dengan perincian 8 unit sudah berkontruksi fiber bantuan dari KKP dan sisanya konstruksi kayu kelapa dengan pelampung drum. Saat ini Pokdakan Mulya Bahari beranggotakan 10 pembudidaya dengan 120-an kotak KJA.
Dijelaskannya, untuk bibit ikan kakap, kerapu dan bawal hanya dipasok dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Sementara untuk bibit lobster mengandalkan hasil penangkapan nelayan sekitar.

“Untuk pakan dari pabrikan dengan harga Rp18 ribu/kg atau Rp360 ribu/karung. Memang ada pakan dari BBPBL tetapi untuk pakan lele yang tidak cocok untuk ikan laut,” tutur Pakde Untung, panggilan akrabnya ketika disambangi Trobosaqua.com di KJA-nya pekan lalu.
Oleh karen itu, lanjut Untung, tidak banyak pembudidaya yang masih bertahan menjalankan usaha marikultur. Apalagi untuk biaya pembuatan keramba juga cukup mahal. Biaya pembuatan 18 kotak KJA konstruksi kayu kelapa dengan pelampung drum sekitar Rp60 juta dengan masa pakai 5 tahun. Sementara jika menggunakan keramba kontruksi fiber tentu biayanya ratusan juta, bisa tahan puluhan tahun dan hanya ada jika dapat bantuan pemerintah saja.
Diakui Pakde Untung, dulunya pembudidaya ikan di lepas pantai Hanura cukup banyak, bahkan mencapai 78 pembudidaya. Namun jumlah itu turun drastis sejak kasus blooming algae yang memusnahkan ikan-ikan di keramba di Teluk Lampung pada 2012 pasca PT Pelindo melakukan pengerukan alur laut di pelabuhan dan lumpurnya dibuang di pulau yang tidak jauh dari KJA. Sebagian besar pembudidaya takut untuk kembali memulai budidaya, selain ketebatasan modal. Kini paling banyak hanya 20-an pembudidaya saja yang masih bertahan.



