Budidaya ikan laut (marikultur) menggunakan keramba jaring apung (KJA) di Teluk Lampung cukup menguntungkan dan potensinya sangat besar sebagai usaha dan sumber protein hewani masyarakat.
Untuk pengembangan marikultur di Teluk Lampung-Lampung, pembudidaya menghadapi keterbatasan sumberdaya, seperti bibit dan modal untuk pengadaan keramba dan pakan yang harganya mahal. Supoyo Untung mengatakan, untuk bibit ikan kakap, kerapu dan bawal hanya dipasok dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Sementara untuk bibit lobster mengandalkan hasil penangkapan nelayan sekitar.
“Sementara untuk pakan dari pabrikan dengan harga Rp18 ribu/kg atau Rp360 ribu/karung. Memang ada pakan dari BBPBL tetapi untuk pakan lele yang tidak cocok untuk ikan laut,” tutur Pakde Untung, panggilan akrabnya yang juga Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mulya Bahari di lepas pantai Hanura, Desa Hanura, Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran, pekan lalu. Saat ini Pokdakan Mulya Bahari beranggotakan 10 pembudidaya dengan 120-an kotak KJA.
Untung sendiri mengusahakan 16 kotak KJA masing-masing ukuran 3 kali 3 kali 3 meter dengan perincian 8 unit sudah berkonstruksi fiber bantuan dari KKP tahun 2014 silam dan sisanya konstruksi kayu kelapa dengan pelampung drum. Satu kotak KJA bisa diisi 300 ekor bibit ikan. Saat ini Untung sedang membesarkan 3 ribuan ekor ikan kakap dan 5 ratus ikan kerapu cantrang.
Oleh karena itu, lanjut Untung, tidak banyak pembudidaya yang masih bertahan menjalankan usaha marikultur. Apalagi untuk biaya pembuatan keramba juga cukup mahal. Biaya pembuatan 18 kotak KJA konstruksi kayu kelapa dengan pelampung drum sekitar Rp60 juta dengan usia pakai 5 tahun. Sementara jika menggunakan keramba konstruksi fiber tentu biayanya ratusan juta, bisa tahan puluhan tahun dan hanya ada jika dapat bantuan pemerintah saja.
Diakui Pakde Untung, dulunya pembudidaya ikan di lepas pantai Hanura cukup banyak, bahkan mencapai 78 pembudidaya. Namun jumlah itu turun drastis sejak kasus blooming algae yang memusnahkan ikan-ikan di keramba di Teluk Lampung tahun 2012 pasca PT Pelindo melakukan pengerukan alur laut di pelabuhan dan lumpurnya dibuang di pulau yang tidak jauh dari KJA. Sebagian besar pembudidaya takut untuk kembali memulai budidaya karena khawatir kembali terjadinya blooming algae, selain keterbatasan modal. Kini paling banyak hanya 20-an pembudidaya saja yang masih bertahan.
Selain blooming algae, hama ikan laut adalah berupa kutut yang bersifat parasit menempel di kulit ikan.Untuk mengatasinya ikan dimandikan dengan air tawar selama 10-15 menit seminggu sekali. Namun setelah ikan berukuran 1-2 cm ke atas biasanya sudah lebih tahan terhadap kutu.
Padahal, tambah Untung, usaha marikultur cukup menguntungkan, di mana harga ikan bawal/kakap ukuran 0,5 kg ke atas berkisar antara Rp70 ribu-Rp80 ribu/kg dan kerapu Rp120 ribu hingga Rp150 ribu/kg. Selain dipasarkan di Lampung, umumnya ikan hasil panen pembudidaya dikirim ke Jabodetabek. Selama ini pemasaran atau penjualan ikan tidak ada kendala. Jika ikan sudah mau dipanen, pembudidaya tinggal kontak pedagangnya dan pembayarannya pun lancar.
“Jika cukup pakan maka pembesaran ikan untuk mencapai berat 0,5 kg per ekor tersebut selama 7- 8 bulan dengan frekuensi pemberian pakan sekali sehari, baik ikan rucah maupun pakan pabrikan,” terang Pakde Untung yang sudah melakoni marikultur sejak 15 tahun terakhir setelah pensiun dari karyawan perusahaan distributor makanan.
Dicontohkannya, jika menebar 2.000 bibit kerapu macan ukuran 7-8 cm harganya Rp12 juta. Lalu perinciannya, biaya pakan selama 12 bulan adalah 30 hari kali Rp30 ribu/hari kali 12 bulan sama dengan Rp10,8 juta. Dengan perkiraan ikan yang hidup sampai setahun hanya 16 ribu ekor rata-rata beratnya 0,5 kg maka harga jualnya 800 kg kali Rp 120 ribu/kg sama dengan Rp96 juta. “Alhasil keuntungan belum termasuk biaya tenaga kerja karena diusahakan sendiri adalah sekitar Rp70 juta,” tambah Untung, kelahiran Malang, Jawa Timur pada 1966.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 161/ Oktober-November 2025



