banner12 1
Iklan Web R

Kualitas Benur dan Rutinitas PCR Hindarkan Penyakit

Bak pendederan benur PT SBI by datuk

 

Hindarkan penyakit udang haruslah mulai dari tahap dini, yaitu mulai dari benur dengan rangkaian pengetesan yang rutin

 

Berbagai upaya terus dilakukan pemangku kepentingan guna mencegah serangan penyakit pada udang Vanamei. Apalagi muncul jenis penyakit baru yang masih misterius. Di antaranya benur pendederan atau nursery pond (NP) yang sudah diperkuat imunnya dan pengecekan penyakit melalui digital PCR yang bisa mengecek 7 penyakit dari 14 sampel sekaligus.

Menurut Direktur PT Sakti Biru Indonesia (SBI), Suseno, perlunya  melakukan inovasi dan riset bagaimana mengendalikan budidaya agar lebih terkontrol. Lalu memperketat pemeriksaan penyakit mulai dari benur melalui pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) yang bisa mendeteksi tujuh penyakit dari 14 sampel sekaligus.

“Salah satu inovasi yang kami kembangkan adalah benur pendederan yang ditingkatkan imunnya sehingga lebih tahan terhadap serangan penyakit ketika ditebar di kolam budidaya, penggunaan nanobubble; melembutkan antena dan rostrum udang guna meniminalisasi kematian selama perjalanan sehingga benur NP bisa dibawa ke tambak yang jaraknya jauh dari hatchery,” terang Suseno dalam diskusi panel ‘Kopi Darat Pelaku Budidaya Udang Vannamei’ yang digelar PT SBI di Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan-Lampung beberapa waktu lalu.

Untuk saat ini hatchery PT SBI di Kalianda dan pendederan di Suak, pihaknya bisa memproduksi 30 juta benur NP per bulan. Pengalaman selama ini benur tersebut masih sehat selama 27 jam perjalanan ke tambak di Bangka dengan volume 300-400 ekor/kantong.

“Selain itu kami terus melakukan riset terhadap munculnya penyakit baru udang vannamei dan terus berkoordinasi dengan lembaga riset di Belanda. Semua ini kami lakukan agar petambak udang bersemangat kembali menjalankan budidaya melalui peningkatan produktivitas,” ujar Suseno di depan peserta diskusi bertemakan ‘Ciptakan Budidaya Udang yang Inovatif dan Sustainable’ ini.

Disebutkannya, PT SBI juga mendirikan Sakti Akademi bekerja sama dengan IPB University Bogor-Jawa Barat; Universitas Lampung; dan Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jakarta. Tujuannya, guna mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap bekerja di tambak setelah tamat dari perguruan tinggi.

Pemateri Agung Wijayanto dari Tim Research and Development (R&D) PT SBI,  mengawali pemaparannya dengan menjelaskan, hatchery menggunakan induk dari kona bay line balance 50: 50 yang dilakukan formulasi penambahan imunitas plus 7 sehingga hasilnya berupa line balance 50: 50 plus 7 imunitas. Hal itu dilakukan guna menjawab problem budidaya berupa ketidakseimbangan antara penyakit dan daya tahan tubuh udang.

“Daya tahan tubuh udang rendah sehingga berpotensi terserang penyakit. Jadi solusinya adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh udang, kontrol dan pertumbuhan yang maksimal dapat menghasilkan induk dan benur yang kuat dalam menghadapi penyakit,” ujar Agung.

Saat ini hatchery 1,2 dan 3 berkapasitas PL (post larva) 30 juta/siklus. Di sini dilakukan formulasi penambahan imun untuk PL menggunakan pakan fungsional, probiotik dan booster. Penggunaan input produksi yang berintegrasi melalui pakan, probiotik dan nanobubble.

Dilakukan kontrol kualitas air, penyakit dan biosekuriti (diantaranya dPCR dan mikrobiologi) dan sudah memenuhi standar mutu Animal Disease Control Batch (ADCB) khusus untuk induk. Standar Cara Karantina Ikan yang Baik (SCKIB) dan Standar Cara Pembenihan Ikan yang Baik (SCPIB). Pengecekan melalui digital PCR dilakukan pada tandon, induk jantan, induk betina dan PL. Menurut Agung, air tandon perlu dicek menggunakan PCR karena perairan sudah tercemar yang diakibatkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Demikian pula pada Nursery Pond di Suak, kontrol pengendalian penyakit dilakukan melalui digital PCR dan U mikro, mitigasi deteksi dini, intervensi penanganan dini dan data history. Lalu kontrol pertumbuhan dan percepatan pertumbuhan melalui treatment kualitas air, dominasi bakteri baik, program pakan, Mean Body Weight (MBW) on target dan keseragaman NP.

 

Sementara NP quality imboost imun melalui pakan fungsional, kontrol lipid, antena fleksibel dan rostrum lunak. Dan aplikasi teknologi nanobubble pada paking benur NP dan integrasi pakan dan obat sebagai kontrol kontaminasi dan metode budidaya less water system.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 158/ Juli-Agustus 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
HEIF Image
Empat Aspek Penting CBIB
HEIF Image
Hiu Blacktip, Ikon Ikan Laut di Rumah DeHakim
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!