Bogor (TROBOSAQUA). Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci percepatan transisi energi sekaligus penguatan ketahanan pangan nasional. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan agenda pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
Garis besar itu mengemuka dalam Seminar dan Pangan Energi Awards yang digelar di Graha Widya Wisuda IPB University–Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pesta Rakyat Alumni IPB Pulang Kampus (PRA IPK) 2025 (18-21/12), sekaligus menjadi ruang strategis untuk membedah isu, kebijakan, serta arah pengembangan energi terbarukan yang terintegrasi dengan sistem pangan nasional.
Seminar yang berkolaborasi dengan Tani On Stage Kementerian Pertanian tersebut dihadiri sejumlah tokoh lintas sektor. Hadir antara lain: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Alim Setiawan;Ketua DPP Himpunan Alumni (HA) IPB, Walneg S Jas; serta Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Hari Setiapraja. Dari unsur pemerintah dan asosiasi, tampak Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Edi Wibowo; perwakilan Dewan Energi Nasional (DEN), Luh Nyoman Puspa Dewi; Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi), Cahyo Setyo Wibowo; dan Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Milton Pakpahan.
Momentum ini juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah, akademisi, dan asosiasi sebagai bentuk komitmen bersama dalam pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
Di depan para alumni IPB, Alim, menegaskan, transisi energi dan ketahanan pangan merupakan agenda strategis bangsa yang harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, energi terbarukan menjadi solusi penting untuk menopang kemandirian pangan dan energi secara berkelanjutan. “IPB University tetap konsisten dan akan terus meningkatkan komitmen dalam menopang pangan dan energi. Sinergi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengawal inovasi yang berkelanjutan,” ujar Alim siang itu.
Senada dengan Alim, Edi menekankan pentingnya integrasi kebijakan energi bersih dengan sistem pangan nasional agar transisi yang dijalankan tidak hanya efisien, tetapi juga berkeadilan serta ramah lingkungan.
Sementara itu, Walneg menilai agenda pangan, energi, dan lingkungan hidup tidak dapat dikerjakan secara parsial. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi simbol penyatuan visi dalam menjawab tantangan zaman. “Kami memahami bahwa langkah mengawal transisi energi yang berkeadilan dan memperkokoh ketahanan pangan tidak bisa dikerjakan sendiri–sendiri. Kolaborasi menjadi hal yang mutlak dan kami terus mendorong agar semua pihak terlibat,” tegas Walneg.
Dalam sesi diskusi, para narasumber sepakat bahwa keterkaitan erat antara isu energi dan pangan menuntut sinergi kuat antara pemerintah, industri, akademisi, serta masyarakat. Tanpa kolaborasi yang terstruktur, upaya mencapai energi bersih dan ketahanan pangan nasional berisiko berjalan sendiri-sendiri dan kehilangan daya ungkit di tingkat implementasi.
Pada kesempatan yang sama, panitia juga mengumumkan pemenang Pangan Energi Awards. PT Antam Tbk UBPE Pongkor dinobatkan sebagai perusahaan terbaik dalam penerapan energi terbarukan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, kategori perusahaan terbaik dalam ketahanan pangan diraih oleh PT Antam Tbk UBPP Logam Mulia dan PT Bangka Asindo Agri.
Melalui rangkaian diskusi dan kolaborasi yang dibangun dalam PRA IPK 2025, pesan yang mengemuka adalah pentingnya merajut sinergi lintas sektor dalam menjawab tantangan pangan dan energi nasional. Di tengah tekanan perubahan iklim dan kebutuhan energi bersih, kolaborasi menjadi fondasi agar transisi energi berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan yang berkelanjutan. dian



