Sistem akuaponik menawarkan keuntungan tersembunyi! Dengan memadukan budidaya ikan dan tanaman, pembudidaya bisa meraup untung dari panen ikan lele dan kangkung dalam satu sistem yang efisien dan menguntungkan.
Sistem akuaponik semakin dilirik oleh para petani dan pebisnis pertanian karena menawarkan keuntungan dari efisiensi penggunaan lahan dan air. Dengan menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem, akuaponik dapat menghasilkan dua komoditas sekaligus, yaitu ikan dan sayuran.
Feriawan, Ketua Kelompok Pengelola Akuaponik Widoro Baru Sleman-Yogyakarta berbagi pengalamannya dalam mengelola sistem akuaponik yang menggabungkan budidaya ikan lele atau nila dan tanaman kangkung.
Dalam asumsi perhitungan, sistem akuaponik yang digunakan memiliki ukuran 10 meter kubik air, dengan jumlah ikan yang dipelihara sebanyak 250 ekor, terdiri dari ikan lele atau nila. Durasi pemeliharaan ikan ini adalah sekitar 6 bulan, di mana selama periode tersebut, ikan diperkirakan dapat mencapai berat rata-rata 500 gram per ekor. Dengan harga jual ikan sekitar Rp25 ribu per kilogram, pendapatan dari ikan dapat mencapai Rp3,125 juta.
Selain ikan, sistem akuaponik ini juga menumbuhkan tanaman kangkung, yang memiliki waktu panen singkat. Dalam 6 bulan, tanaman kangkung dapat dipanen sebanyak 6 kali, dengan hasil sekitar 10 kilogram per 10 meter persegi setiap kali panen. Dengan harga jual kangkung sekitar Rp8 ribu per kilogram, total pendapatan dari tanaman kangkung mencapai Rp480 ribu.
Dengan demikian, total pendapatan yang diperoleh dari ikan dan kangkung dalam sistem akuaponik ini adalah Rp3,605 juta. Namun, untuk menjalankan sistem ini, terdapat biaya operasional yang harus diperhitungkan, seperti biaya pakan ikan sebesar Rp2 juta per bulan dan biaya listrik serta perawatan sebesar Rp500 ribu per bulan. Dalam 6 bulan, total biaya operasional mencapai Rp15 juta.
Selain biaya operasional, terdapat juga biaya investasi awal yang digunakan untuk membangun sistem akuaponik, seperti biaya konstruksi sistem, bibit ikan, dan bibit kangkung yang mencapai Rp11,5 juta. Oleh karena itu, keuntungan bersih yang didapat setelah 6 bulan adalah -Rp22,895 juta, karena biaya investasi awal yang cukup besar. Meskipun demikian, setelah periode pertama ini, sistem akuaponik diharapkan dapat lebih menguntungkan karena hanya ada biaya operasional tanpa investasi awal.
Pendapatan
Sistem akuaponik yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman kangkung menawarkan potensi keuntungan yang menarik. Setelah 6 bulan pemeliharaan, ikan lele atau nila diperkirakan dapat mencapai berat rata-rata 500 gram per ekor, yang setara dengan 0,5 kilogram. Dengan jumlah ikan sebanyak 250 ekor, total hasil panen ikan setelah 6 bulan diperkirakan mencapai 125 kilogram (250 ikan x 0,5 kg). Jika harga jual ikan lele atau nila di pasaran sekitar Rp25 ribu per kilogram, maka pendapatan yang dapat diperoleh dari penjualan ikan tersebut adalah Rp3,125 juta (Rp25 ribu x 125 kg).
Selain ikan, tanaman kangkung juga memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dari sistem akuaponik. Dalam sistem yang sehat, tanaman kangkung dapat dipanen dalam waktu sekitar satu bulan sekali. Dalam 6 bulan, tanaman kangkung dapat dipanen sebanyak 6 kali. Setiap meter persegi yang digunakan untuk menanam kangkung diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 1 kilogram kangkung dalam sekali panen. Oleh karena itu, dengan sistem akuaponik yang dialokasikan untuk tanaman kangkung seluas 10 meter persegi, hasil yang diperoleh dalam satu kali panen adalah sekitar 10 kilogram kangkung. Dengan 6 kali panen dalam 6 bulan, total hasil panen kangkung yang diperoleh adalah 60 kilogram (10 kg x 6 kali panen).
Jika harga jual kangkung diperkirakan sebesar Rp 8 ribu per kilogram, maka pendapatan yang dapat diperoleh dari penjualan kangkung dalam 6 bulan adalah Rp 480 ribu (Rp 8 ribu x 60 kg). Sehingga, dari hasil panen ikan dan kangkung, total pendapatan yang dapat diperoleh dalam 6 bulan adalah Rp 3,605 juta (Rp 3,125 juta dari ikan + Rp 480 ribu dari kangkung).
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025



