Bogor (TROBOSAQUA). Pasar ikan hias dunia tengah bergeliat, dan Indonesia menjadi salah satu sumber penting bagi berbagai spesies tropis yang diminati penghobi di luar negeri. Dari Bogor, ribuan ikan kecil berwarna-warni kini rutin dikirim ke Amerika Serikat, Singapura, dan Eropa. Menariknya, sebagian besar komoditas ekspor itu sudah berasal dari hasil budidaya, bukan tangkapan alam.
Salah satu pelaku yang ikut mendorong pergeseran ini adalah PT Mina Akuatik Nusantara (Minaqu). Didirikan pada 2017 oleh Noor Achlis, perusahaan ini berawal dari jasa ekspor yang membantu pembudidaya lokal mengurus karantina, pengemasan, hingga pengiriman.
“Kini kami telah berkembang menjadi eksportir penuh dengan jaringan pemasaran digital. Banyak pembudidaya yang hebat, tapi belum tahu cara ekspor. Kami mencoba menjembatani mereka ke pasar global,” ujar Achlis kepada TROBOS Aqua.
Beragam jenis ikan hias seperti tetra, guppy, rainbow fish, channa, discus, udang hias, hingga cichlid menjadi komoditas utama ekspor. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan permintaan stabil. Dalam satu periode pengiriman, Minaqu dapat menyalurkan hingga 8 ribu ekor tetra ke Miami, salah satu hub utama ikan hias di AS. Untuk menjaga mutu, ikan diseleksi tiga hari sebelum berangkat dan dikemas menggunakan oksigen serta pendingin suhu stabil.
Standar mutu menjadi aspek penting dalam perdagangan ikan hias internasional. Pembeli luar negeri, kata Achlis, menuntut konsistensi dan kejujuran. “Kami pun menerapkan sistem garansi kematian 24 jam (Dead on Arrival) sebagai bentuk tanggung jawab kepada pembeli. Praktik ini menunjukkan meningkatnya profesionalisme pelaku ekspor ikan hias nasional dalam memenuhi ekspektasi pasar global,” terangnya.
Tak hanya mengandalkan manajemen ekspor, pelaku muda juga mulai berperan besar. “Kami, misalnya, memiliki tim muda digital yang mengelola katalog ikan secara daring, memastikan setiap foto produk tampil autentik tanpa manipulasi warna. Kami juga aktif membangun komunikasi langsung dengan pembeli luar negeri. Langkah ini sejalan dengan tren digitalisasi yang kini memperkuat rantai pasok ikan hias Indonesia,” sebut Achlis.
Di sisi lain, kesadaran akan keberlanjutan sumber daya turut tumbuh di kalangan eksportir. Achlis menegaskan bahwa hampir seluruh ikan yang dikirim berasal dari hasil budidaya, sementara jenis-jenis endemik seperti botia hanya diambil secara musiman dengan izin khusus. “Kalau alam rusak, bisnis ini juga berhenti. Karena itu, kami dorong budidaya berkelanjutan,” ujarnya. Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang menuntut traceability atau pelacakan asal ikan secara transparan, terutama di pasar Amerika dan Uni Eropa.
Melihat potensi besar yang masih terbuka, Achlis berharap Indonesia dapat sejajar dengan Jepang dan Thailand dalam industri ikan hias dunia. Rencana pengembangan ke depan termasuk pembangunan gudang distribusi di luar negeri untuk memperkuat rantai pasok dan memperpendek jarak ke konsumen akhir. “Ekspor ikan hias bukan hanya soal bisnis, tapi juga citra Indonesia sebagai negara tropis dengan keanekaragaman luar biasa,” pungkasnya.dian/dini/edt



