Bogor (TROBOSAQUA). Data lengkap mengenai gurita dianggap masih kurang. Kekurangan ini menjadi hambatan untuk memahami lebih dalam ekosistem gurita, yang penting bagi pengelolaan berkelanjutan.
“Kita masih membutuhkan banyak penelitian yang mendalam, terutama terkait bagaimana perubahan iklim memengaruhi populasi gurita serta potensi akuakultur yang bisa dikembangkan,” ujar Adriani Sunnudin, Dosen Hidrobiologi Laut di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, IPB University.
Ia menambahkan, salah satu langkah konkret yang dapat diambil adalah melakukan kajian morfogenetika untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati gurita di perairan Indonesia. Dokumentasi ini penting sebagai dasar konservasi dan sekaligus untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan gurita global.
Selain itu, penelitian yang memadukan kajian morfologi dan reproduksi juga diperlukan untuk menentukan waktu terbaik dalam menerapkan moratorium penangkapan. Dengan begitu, populasi gurita dapat pulih tanpa mengganggu keberlangsungan ekonomi nelayan.
Andriani juga menyoroti pentingnya pendekatan trans-disiplin dalam pengelolaan gurita. Menurutnya, pengelolaan yang efektif harus melibatkan berbagai bidang keilmuan serta bekerja sama dengan masyarakat lokal. “Kita perlu memastikan bahwa nelayan memiliki akses pada teknologi, pelatihan, dan informasi yang relevan agar mereka dapat beradaptasi dengan tantangan global,” tegasnya.
Selain penelitian, Andriani menekankan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan memainkan peran yang sangat penting. Saat ini, sejumlah akademisi dan peneliti telah membuka data terkait hasil tangkapan, pengukuran, dan observasi gurita untuk mendukung pengambilan keputusan yang berbasis ilmiah.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Perdagangan juga tengah mengupayakan pendaftaran gurita sebagai komoditas baru di FAO dan WTO. “Ini langkah strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi gurita sekaligus memastikan bahwa pengelolaannya diakui secara global,” kata Andriani.
Tak kalah penting, KKP juga telah mengakomodasi berbagai praktik pengelolaan sumber daya gurita, seperti penerapan adat, moratorium, dan riset aksi sebagai bagian dari Other Effective Conservation Measures (OECM). Langkah ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat berjalan seiring dengan strategi konservasi modern. Andriani optimis, jika semua pihak bekerja sama, perikanan gurita Indonesia dapat menjadi model pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Dengan segala tantangan dan peluang yang ada, Andriani mengajak semua pihak untuk bergerak bersama. “Perikanan gurita memiliki masa depan yang cerah jika kita serius menjaga keberlanjutannya. Ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang memastikan bahwa ekosistem laut kita tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tutupnya penuh semangat.nattasya



