LAMPUNG (TROBOSAQUA). Produksi ikan nila dari keramba jaring apung (KJA) di Danau Ranau, Lampung Barat, terus berjalan stabil. Namun, tantangan utama pembudidaya saat ini bukan lagi soal teknis budidaya, melainkan pemasaran hasil, terutama untuk menyerap stok fillet nila yang jumlahnya sudah ratusan ton.
Darus Sany, pembudidaya nila KJA di Danau Ranau, mengungkapkan, kelompoknya saat ini memiliki stok fillet nila sekitar 500 ton yang diolah di pabrik Tanjungbintang, Lampung Selatan. Ia berharap produk tersebut dapat diserap oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Kami berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, bisa menjadikan fillet nila ini sebagai salah satu bahan baku MBG,” ujar Darus penuh harap (12/9).
Menurutnya, produk fillet nila memenuhi kriteria utama program MBG, yakni berbahan baku lokal, diproduksi oleh UMKM, dan memiliki nilai gizi tinggi. Dari sisi harga, fillet nila juga dinilai sangat kompetitif dibandingkan sumber protein hewani lain. “Harga fillet sekitar Rp80 ribu per kg. Satu kilogram (kg) bisa untuk sekitar 35 porsi, jadi per porsinya hanya sekitar Rp2 ribuan,” jelasnya rinci.
Bahan baku fillet, sambungnya, berasal dari ikan nila ukuran 3 ekor per kg yang dibesarkan di KJA Danau Ranau. Harga jual nila di tingkat pembudidaya saat ini berada di kisaran Rp22 ribu per kg dan relatif stabil. Dari sisi budidaya, Darus menilai performa nila strain yang digunakannya masih terjaga.
Dengan waktu pembesaran sekitar empat bulan, FCR berada di kisaran 1,4, dan ukuran panen relatif seragam. “Secara teknis budidaya tidak ada masalah berarti. Benih dari strain unggul, jarak hatchery ke KJA dekat, kualitas ikan juga bagus,” katanya.
Justru, lanjut Darus, jika jalur pemasaran tidak segera diperluas, stok fillet berpotensi terus menumpuk. Padahal, kapasitas produksi pembudidaya dan unit pengolahan masih sangat memungkinkan untuk mendukung program pangan nasional. “Kalau fillet nila bisa masuk ke dapur-dapur MBG, ini akan sangat membantu pembudidaya sekaligus menyediakan protein ikan yang terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya. dian/syafnijal



