banner12 1
Iklan Web R

Ekstrak Tebu, Amunisi Penangkal Infeksi Vibrio

Wimanhaemin P, et al, Journal of The World Aquaculture Society (56 : e13110), 2025;.

Ekstrak tebu kaya polifenol atau polyphenol-rich sugarcane extract (PRSE) terbukti meningkatkan respon imun udang vannamei dan ketahanan terhadap tantangan infeksi Vibrio parahaemolyticus

 

Selain meningkatkan respon imun udang vannamei, hasil riset gabungan antara Kasetsart University – Thailand, Poly Gain Pte Ltd – Singapore, dan La Trobe University – Australia juga menyimpulkan PRSE bermanfaat untuk menaikkan performa pertumbuhan dan sintasan (survival rate) udang. Jurnal berjudul asli Effects of Polyphenol Rich Sugarcane Extract (PRSE) on Growth Performance, Survival, Immune Responses, and Resistance to Vibrio parahaemolyticus and White Spot Syndrome Virus Infections of Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) ini disusun Parattagorn Wimanhaemin, Niti Chuchird, Tirawat Rairat dkk, dipublikasikan melalui berbagai platform jurnal ilmiah digital pada medio Desember 2024. Ketiga saintis itu bekerja di Department of Fishery Biology, Faculty of Fisheries, Kasetsart University, Thailand.

Laporan itu menyatakan, ekstrak tebu kaya polifenol atau polyphenol-rich sugarcane extract (PRSE) merupakan produk tebu yang diperoleh dari industri penyulingan gula dan berpotensi digunakan sebagai aditif pakan pada hewan ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek PRSE pada kinerja pertumbuhan, kelangsungan hidup, respon imun, dan resistensi terhadap infeksi Vibrio parahaemolyticus dan white spot syndrome virus (WSSV) udang vanamei, (Litopenaeus vannamei).

 

Gambaran Riset

Pada Percobaan 1, udang fase post larva (PL) secara acak dibagi menjadi lima kelompok (8 replikasi/kelompok dan 80 udang/tangki) dan diberi pakan komersial yang dilengkapi dengan PRSE dengan laju 0 (kontrol), 0,2, 0,4, 0,6, dan 0,8% dari makanan empat kali/hari selama 60 hari untuk mengevaluasi berat badan, tingkat kelangsungan hidup, dan fungsi kekebalan tubuh.

Pada Percobaan 2, udang remaja dari Percobaan 1 didistribusikan kembali secara acak menjadi enam kelompok (empat kelompok perlakuan seperti pada Percobaan 1, kontrol positif, dan kontrol negatif dengan 3 ulangan/kelompok dan 30 udang/tangki) dan ditantang dengan V. parahaemolyticus atau WSSV melalui perendaman (105 unit pembentuk koloni/mL) dan oral (memberi makan dengan jaringan yang terinfeksi),  masing-masing, untuk mengevaluasi resistensi penyakit.

Percobaan itu menunjukkan berat badan udang untuk kelompok PRSE 0,8% secara signifikan lebih besar daripada kelompok lain, dan mereka yang diberi PRSE 0,4%–0,8% menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kelangsungan hidup, jumlah hemosit total, aktivitas fagositik, aktivitas fenol oksidase, dan aktivitas superoksida dismutase (SOD) dibandingkan dengan kontrol.

Pada hari ke-7 setelah tantangan V. parahaemolyticus, tingkat kelangsungan hidup udang yang diberi makan PRSE 0,4%–0,8% (70%–73%) secara signifikan lebih besar daripada udang kontrol (46%). Bagaimanapun, udang yang ditantang dengan WSSV menderita kematian parah terlepas dari kelompok perlakuan.

Namun setidaknya, udang PL yang diberikan PRSE 0,4%–0,8% menunjukkan penundaan kematian / memiliki masa hidup yang lebih lama meskipun pada akhirnya juga mengalami kematian karena infeksi WSSV. Kesimpulannya, riset menunjukkan penambahan PRSE dengan diet 0,4%–0,8% bermanfaat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan resistensi penyakit pada budidaya vanamei.

 

Tentang PRSE

Niti Churchird dkk menyodorkan nukilan berbagai laporan ilmiah, produk tebu memiliki sifat meningkatkan kesehatan karena mengandung antioksidan, antiinflamasi, antidiabetik dan aktivitas antiobesitas. Aktivitas bermanfaat ini sebagian dapat dikaitkan dengan kandungan polifenol-nya yang tinggi.

Molase tebu – berupa zat kental yang diperoleh dari industri penyulingan gula. Molase tebu mengandung kadar polifenol total / total phenolic content  (TPC) lebih tinggi dibandingkan produk tebu lainnya, semisal sari tebu, sirup, dan massecuite. TPC molase tebu berkisar antara 0,26 – 205 mg GAE/g, tergantung metode ekstraksi dan kultivar tebunya.

Meskipun demikian, mayoritas TPC molase tebu yang dilaporkan dalam literatur mutakhir biasanya sekitar 10–20 mg GAE/g. Beberapa TPC utama yang ditemukan dalam molase tebu adalah diosmin, asam klorogenat, asam siringat, asam kafeat, asam -kumarat, asam ferulat, asam vanilat, asam benzoat, asam -hidroksi benzoat, dan asam protokatekuat.

Ekstrak molase tebu, khususnya yang diekstraksi menggunakan etanol dan resin penukar ion (ion exchange resins), disebut sebagai ekstrak tebu kaya polifenol / polyphenol-rich sugarcane extract (PRSE). PRSE ditemukan memberikan efek menguntungkan pada kinerja pertumbuhan atau kondisi kesehatan pada berbagai hewan seperti udang windu, udang galah, ikan nila dan ayam, meskipun tidak bebas dari beberapa kondisi pengecualian.

Adapun penggunaan PRSE pada krustasea telah dilaporkan, penambahan PRSE pada tingkat 0,6% dalam pakan dapat meningkatkan bobot udang windu dan udang galah dibanding dengan kelompok kontrol. Efek serupa tidak diamati pada hewan coba yang diberi pakan 0,2%–0,4%. Sebagai perbandingan, penelitian pada ikan nila menunjukkan bahwa tingkat PRSE yang optimal dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan adalah 0,4% pakan.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!