Belanda (TROBOSAQUA). Arjan de Vries, simulator dari Resilient Culture, Eindhoven Belanda memberikan simulasi tangkapan sebagai edukasi dan sosialisasi tentang perikanan tangkap berkelanjutan. Ia mengatakan, simulasi biasanya dilakukan dalam sosialisai kegiatan perikanan tangkap. Ataupun dalam mengenalkan perikanan ke masyarakat umum atau anak-anak.
“Singkatnya, orang akan cenderung lebih reaktif dan interaktif terhadap suatu deskripsi bila dijelaskan dengan hal yang juga interaktif. Dan permainan ini, menuntut peserta yang ikut untuk terlibat langsung sehingga mereka bisa merasakan kegiatan nelayan langsung di lapangan,” jelasnya.
Dia pun menggambarkan, permainan ini menunjukkan operasi tangkapan ikan setinggi-tingginya suatu saat akan mencapai klimaksnya. “Yakni tidak akan ada lagi ikan yang tersisa di perairan tersebut,” ujarnya dalam kesempatan Short Course Fisheries Governance for Food Security yang diadakan oleh Wageningen University and Research (WUR), Wageningen-Belanda.
Arjan pun menjelaskan intinya. Semula, permainan ini merupakan simulasi kegiatan perikanan tangkap dengan aplikasi di dua meja yang diisi oleh masing-masing empat kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua sampai tiga orang.
Tiap meja disediakan papan permainan yang digambarkan terdiri dari daratan dan perairan. “Ada empat titik di daratan yang ditetapkan sebagai pelabuhan untuk kapal bersandar dan pendaratan ikan. Dan keempat kelompok tersebut dipersilakan memilih titik pelabuhan yang diinginkan,” ujar Arjan.
Permainan dilakukan dengan aturan yang ditentukan. Antara lain, masing-masing kelompok disediakan modal yang sama untuk membeli unit penangkapan ikan. Yaitu, yang digunakan untuk membeli kapal besar atau kapal kecil beserta biaya operasionalnya. Akan menjadi keputusan masing-masing kelompok ingin menghabiskan modalnya seperti apa.
Pastinya, kapal kecil memiliki biaya operasional lebih rendah, daerah penangkapan terbatas di sekitar pesisir dengan jarak tempuh yang dibatasi, serta hasil tangkapan lebih sedikit dan ukuran ikan lebih kecil. “Kebalikannya, kapal besar berbiaya operasional lebih tinggi, daerah penangkapan harus ke perairan dalam, serta hasil tangkapan lebih banyak dengan variasi ikan bisa ukuran kecil atau besar,” jelas Arjan.
Rata-rata kelompok memilih untuk memakai modal dengan membeli kapal kecil dan setelah mendapat hasil yang diharapkan, dilanjutkan dengan investasi kapal besar. “Dalam operasi penangkapan ikan ini pun diatur bila dilakukan penangkapan ikan, akan ada sedikit donasi ‘ikan’ yang disumbangkan sebagai bagian siklus alami bahwa ikan berkembang biak di habitatnya,” tambahnya sambil mengawasi permainan.
Semakin lama permainan pun semakin intens, ada kelompok yang putus asa ketika melakukan penangkapan ikan karena langkah yang mereka lalui sudah tidak menemui ikan untuk ditangkap. Di meja lainnya, masing-masing kelompok berdiskusi bagaimana caranya agar tidak terjadi stuck (keterjebakan) situasi bahwa ikan sudah ‘habis’ di alamnya.

Pada akhirnya, dengan kebijakan berbeda yang diterapkan masing-masing meja melahirkan suatu kondisi yang berbeda pula. Di satu meja, dengan komunikasi intens, masing-masing kelompok sepakat untuk ‘menjaga’ area dan populasi ikan yang ditangkap.
Di meja lainnya, tidak ada komunikasi untuk mengatur arah penangkapan. Masing-masing kelompok berlomba untuk memperoleh jumlah tangkapan paling banyak. Dimana ada ikan, di sanalah tiap kelompok akan menangkap. Tidak ada kesepakatan bahwa area itu tidak boleh dilakukan operasi penangkapan ikan atau tidak. Yang bertindak hanya kesadaran masing-masing.
Dengan batas waktu yang telah ditentukan, otomatis satu meja yang melakukan komunikasi terjalin tadilah yang masih memiliki keseimbangan populasi ikan di perairannya. Sedangkan di meja lainnya, populasi ikan sudah berkurang drastis karena jumlah armada tangkapan dan operasi penangkapan yang lebih intens dibanding jumlah donasinya.
“Walau belum menggambarkan realitas sebenarnya, simulasi ini sedikit menggambarkan bahwa bila tidak ada pengaturan yang dilakukan, bisa terjadi overfishing (tangkap lebih) sehingga mengurangi populasi ikan di perairan,” terang Arjan. Apalagi, imbuhnya, bila betul ada kesadaran dari semua stakeholders (pemilik kepentingan) untuk tidak melakukan operasi penangkapan ikan sebanyak-banyaknya, melainkan secara berkelanjutan.
Namun, Arjan pun tak menampik terdapat tantangan dalam permainan ini. Yang setidaknya ingin dia evaluasi dan kembangkan kedepan bersama tim simulatornya.dini/edt
Artikel ini sudah pernah dimuat di Majalah TROBOS Aqua Edisi 70



