banner12 1
Iklan Web R

Dongkrak Udang dengan Penyakit VS Probiotik

Multi infeksi penyakit pada udang

 

Turunkan dampak penyakit dan aplikasi probiotik digaungkan stakeholders untuk produktivitas tambak agar berhasil

 

Budidaya udang lekat dengan penanganan dan pencegahan penyakitnya. Guruh Suryawan, Head of Technical Partner PT CP Prima, menguraikan tentang pengendalian vibrio sebagai upaya mencegah serangan penyakit. Disebutkannya, terdapat tiga zona sentra budidaya udang. Pertama zona risiko rendah/hijau dengan ciri sumber air jernih, tes PCR selalu negatif dan mutu sumber air stabil. Zona risiko rendah ini, seperti Lombok, Sumbawa dan lain-lain.

Kedua, zona risiko medium/kuning dengan ciri kawasan banyak tambak, tes PCR pada saat tertentu positif dan mutu sumber air jernih tapi tidak stabil sepanjang waktu. Ketiga, zona risiko tinggi/merah dengan ciri kawasan banyak tambak, tes PCR sering positif dan mutu sumber air keruh dan dinamis.

Oleh karena itu kualitas sumber air harus ditingkatkan sebab laut kita memang agak keruh sehingga perlu treatment agar kejernihan di zona kuning dan merah sama dengan zona hijau. Tidak cukup hanya sekadar tandon pengendapan tetapi harus dilengkapi dengan filter supaya air yang didapatkan mirip dengan air di Lombok dan Sumbawa. Sebab dengan mengelola kualitas air akan lebih mudah menekan vibrio di kolam budidaya. Pasalnya konsep mencegah penyakit adalah menekan vibrio serendah mungkin.

Diungkapkannya, di Jawa Timur, udang tetap kena AHPND meski tambaknya menggunakan air dari sumur bor. Ternyata resapan air laut di pantai tersebut sampai masuk ke tambak-tambak. Makanya perlu upaya mencegah AHPND meski tidak menggunakan air laut.

Menurut Guruh, untuk vibrio akan lebih baik menekan dibanding menurunkan. Kalau menurunkan awalnya dari tinggi menjadi rendah. Tetapi konsep menekan adalah bagaimana agar vibrio tidak menjadi tinggi.

Soal plankton, Guruh mengatakan, perdebatan soal plankton tidak pernah berakhir. Sebab petambak takutnya kelimpahan plankton tetapi tidak melihat jenis planktonnya. Padahal plankton Chlorella dibandingkan Ampiphora besarnya bisa 10 kali lipat. Makanya pengendalian plankton sangat penting, terutama pada musim hujan yang mudah drop. Plankton drop ditunjukkan dengan munculnya Diatom dan Dino. Untuk itu terutama pada musim hujan, plankton harus dicek pagi dan sore.

Selanjutnya Guruh menyinggung soal SOP. Narasumber mengakui SOP sekarang lebih baik. Namun jika SOP sudah dilengkapi dengan angka-angka maka itu bukan lagi akuakultur tapi sudah akuaindustri. Jika masih akuakultur maka ada sentuhan budi dan daya sehingga petambak/teknisi menemukan parameternya sendiri. Jika di Lombok dan Sumbawa ganti air sampai 4-5 m3 per kilo utk 50-60 ton per ha maka kalau di lokasi lain yang masuk zona kuning dan merah tentu SOP itu tidak bisa dilakukan.

“Begitu juga dengan aplikasi berbagai obat-obatan, tidak perlu sesuai dengan ketentuan penjual. Teknisi bisa menentukan dosis sendiri karena dia yang tahu persis sejauh mana efek aplikasi tersebut terhadap udang yang dibesarkannya,” ia mengingatkan dalam acara diskusi dengan  topik ‘Budidaya Udang Pasti Bisa Pasti Untung’ yang digelar atas kerjasama PT CP Prima dengan Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) di Bandarlampung-Lampung, beberapa waktu lalu.

Pasalnya, aplikasi fermentasi, mineral dan pupuk untuk support plankton secara konsisten, jenis dan dosis menyesuaikan kondisi kolam. Semua perlakuan dalam budidaya udang harus dihubungkan dengan tujuan dan efek sampingnya dan ditujukan untuk support kestabilan ekosistem baik itu mekanis maupun biologi.

Dicontohkannya, pemakaian dosis probiotik. Pada fase penguatan plankton pasti jumlah probiotik sedikit dengan frekuensi panjang agar plankton tidak terganggu. Tetapi ketika plankton sudah menguat atau sudah kepala tiga volume probiotik bisa ditambah. Ini harus beriringan guna mencapai target akhir yakni menekan vibrio.

Bahkan, tambahnya, petambak di kawasan timur Indonesia sudah mencoba aplikasi mineral yang cukup, terutama kandungan potasium dan kalium guna menurunkan AHPND. Namun saat ini mereka belum mempublikasikannya karena masih ujicoba.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ketua panitia Maulana Akbar dok dini
FKPA Korwil Bangka Belitung Gelar Halal Bihalal
Budidaya nila dok trobos
Imbauan Pembudidaya Antisipasi El Nino
Pemaparan Ria Veriani by Istimewa
 Dari Diklat ke Ekosistem Pembelajaran ASN
By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!