Jakarta(TROBOSAQUA). Ketua Subtimja Ikan Carp-Ikan Wader Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Dasu Rohmana mengatakan, ikan wader mulai terancam punah dikarenakan aktivitas tidak ramah lingkungan. “Contohnya, perburuan yang tak terkontrol seperti di-stroom, dijaring dan diracun, lambat laun ikan kecil-kecil ini mulai terancam punah,” terangnya. Guna mengatasi ancaman tersebut, BBPBAT Sukabumi menginisiasi untuk melakukan pemijahan dengan cara memanfaatkan indukan wader pari dari alam.
Menurutnya, budidaya ikan wader pari sangat mudah dan dapat dilakukan pada tempat-tempat terbatas. Diantaranya, di kolam terpal, kolam tanah ataupun kolam beton. Ikan wader merupakan istilah bagi ikan-ikan kecil familia Cyprinidae yang jenisnya kecil.
Ada dua spesies wader yang dibudidaya di BBPBAT Sukabumi, yakni wader pari (Rasbora argyrotaenia) dan wader cakul atau cakul (Barbodes binotatus). Dari dua jenis wader ini, maka wader pari lebih mudah dibudidaya.
Pemijahan wader pari yang diakukan BBPBAT Sukabumi sudah berhasil. Mengingat, pemijahan wader pari relatif cukup mudah dibanding ikan lokal lainnya, seperti tawes dan nilem. Wader pari bisa dipijahkan secar massal dan alamiah (tapa disuntik).
“ Wader pari dan cakul ini ini sudah bisa diproduksi secara massal. Untuk wader pari produksi benihnya mencapai 200 ribu ekor/bulan. Sedangkan cakul hanya sekitar 20 ribu ekor/bulan,” kata Dasu, di Jakarta, belum lama ini.
Ukuran benih wader pari yang dijual ke masyarakat rata-rata 2-3 Cm dengan harga Rp 50/ekor. Benih wader pari setelah dibesarkan atau dibudidaya selama 4 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi (7-9 Cm/ekor). Selanjutnya, wader pari ukuran konsumsi bisa dijual ke pasar dengan harga Rp 30 ribu/kg.
“ Masyarakat yang membudidaya (membesarkan) wader pari sudah banyak dan tersebar di beberapa daerah, seperti Sukabumi, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Benih wader pari bisa hidup dengan baik di kolam-kolam budidaya dan diberi pakan pellet bubuk yang harganya relatif terjangkau,” jelas Dasu.dimas/dini/edt



