banner12 1
Iklan Web R

Baung Tak Segan Meraung

Ikan Baung

Di tengah cuaca tak menentu dan persaingan komoditas air tawar, pembudidaya baung mengandalkan inovasi pemijahan, disiplin manajemen air, dan naluri pasar untuk mengubah tantangan menjadi peluang.

Bukanlah raungan singa yang ketika berburu membuat mangsanya berkedut, namun ini raungan dari perairan. Tubuhnya tanpa sisik, bersenjata patil, dan berkumis panjang dengan malam adalah waktu berburu. Dialah ikan baung (Hemibagrus nemurus).

Spesies asli sungai ini tidak lagi diperhitungkan dengan kesan ‘pemburu’ nya, namun ia kini merambah kolam budidaya sebagai komoditas bernilai tinggi. Karakter khasnya membuat baung tak hanya menarik di mata pembudidaya, tapi juga di lidah para penikmat kuliner air tawar.

Permintaan pasar terus menguat. Di Sumatera Selatan, ikan ini masih menjadi primadona meja makan dan sumber nafkah. “Masyarakat di sini lebih memilih baung daripada lele atau patin. Rasanya khas dan harganya juga lebih tinggi,” ungkap Muslim, Dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Sriwijaya. Menurutnya, harga baung di Sumsel berkisar Rp50–Rp100 ribu per kilogram (kg), tergantung ukuran. Bahkan, ia menyebut baung sebagai salah satu ikan konsumsi mahal di wilayahnya.

Kunci Keberhasilan di Induk

Proses budidaya baung memerlukan perhatian khusus sejak tahap awal, terutama dalam pemijahan. Muslim menjelaskan bahwa ikan baung termasuk tipe ‘total spawner’ yakni memijah secara serentak. Namun di lapangan, pembenihan sering terkendala rendahnya tingkat kelangsungan hidup larva.

Sadarlis, pembudidaya ikan baung di Kabupaten Kampar-Riau, menyiasatinya dengan pendekatan intensif. Ia mematangkan induk melalui pemberian lokan setiap hari selama sepekan. Induk betina dipilih berdasarkan kondisi perut yang membengkak ke arah genital, kelamin memerah, serta berat minimal 700 gram. Induk jantan harus bebas cacat dan memiliki bobot setidaknya 1,5 kg dengan kelamin panjang yang menyentuh sirip ekor.

“Kami menggunakan pemijahan buatan, karena yang alami belum berhasil. Telur disebar merata di bak penetasan dengan air endapan. Setelah 24 jam, telur menetas menjadi larva,” ujar Sadarlis ketika dihubungi via telepon.

Usia 48 jam menjadi titik awal pemberian pakan menggunakan telur ayam halus setiap tiga jam sekali. Hari keempat, cacing sutra mulai diberikan dan berlanjut hingga hari ke-12. Tahap berikutnya, pakan berganti menjadi pelet (dengan menyebut merek) ukuran 0,5-0,7mm periode 4 jam sekali kemudian ukuran 0,7-1 mm 5 kali sehari, lalu pelet ukuran 1,3-1,7mm 3 kali sehari.

stripping induk baung by Sadarlis
stripping induk baung by Sadarlis

Dari Kabupaten Kampar-Riau, Sumatera Selatan (Sumsel) hingga Bogor-Jawa Barat (Jabar), budidaya ikan baung berkembang dengan pendekatan yang beragam. Di Bogor, ia menjelma sebagai peluang baru di tengah keterbatasan lahan dan tantangan air perkotaan.

Aditiya Nugraha, Penanggung Jawab Instalasi Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar Cijeruk Bogor, memanfaatkan hormon untuk pemijahan. “Dosisnya 0,5–0,7 ml/kg untuk betina. Jantan separuhnya atau tidak disuntik kalau sudah matang kelamin,” jelas Aditiya saat diwawancara TROBOS Aqua(15/5).

Penyuntikan, sambungnya, dilakukan di pangkal sirip punggung atau rongga perut. Setelah 6–12 jam, dilakukan stripping dan pembuahan manual. Telur ditetaskan di bak fiber bersuhu 26–28°C. Hari ketiga, larva diberi Artemia, kemudian pakan mikro dan cacing sutra.

Dinamika Pembesaran

Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam budidaya ikan baung. Di Kampar Sadarlis memanfaatkan kolam tandon sebagai penyaring awal sebelum air dialirkan ke kolam pembenihan dan pembesaran. Sistem ini membantu menjaga kualitas air tetap stabil meski kondisi sungai berubah-ubah. Ia menerapkan padat tebar 20–50 ekor per meter2, dengan waktu pemeliharaan sekitar lima bulan. Hasil panennya berkisar antara empat hingga tujuh ekor per kilogram.

 

Tulisan ini sudah di tulis kembali di majalah TROBOS Aqua Edisi 156/ 15 Mei – 14 Juni 2025. pada rubrik Andalan Tawar.

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!