Pangkalpinang (TROBOSAQUA). Di balik birunya laut dan ramainya dermaga Pangkalpinang-Bangka Belitung menata langkah besar, yakni menjadi pusat nasional budidaya udang dan kuliner laut Indonesia. Dari kunjungan lapangan sejumlah pelaku perikanan dan industri pangan, lahir gagasan segar untuk menjadikan Bangka bukan sekadar penghasil hasil laut, tetapi juga ruang bertemunya petambak, nelayan, dan dunia Horeka sebagai tempat ide, cita rasa, dan rantai produksi menyatu dalam harmoni.
Dari obrolan ringan bersama Mariani, pemilik Waroeng Kopi Tung Tau, Obie Ardi, pemilik Rumah Makan Muara dan Manajer Rumah Makan Muara, Nasir, pembicaraan ini menegaskan satu hal, yaitu hasil makanan berbahan ikan Bangka harus bergerak seiring irama pasar kuliner nusantara. Forum yang direncanakan menjadi wadah pertemuan para petambak, pelaku Horeka, hingga mitra dari luar daerah seperti Aceh, untuk menyamakan persepsi tentang kualitas, penyimpanan, dan ukuran ideal udang agar cita rasa laut Bangka benar-benar hadir di setiap meja makan.

“Kalau acaranya di Bangka, masyarakat lokal bisa ikut serta, dan orang luar juga bisa tahu kualitas hasil laut kita,” ujar Mariani kepada tim TROBOS Aqua. Gagasan ini sejalan dengan semangat kolaborasi lintas sektor, menjembatani antara produksi perikanan dan konsumsi kuliner lokal, serta membuka peluang edukasi dan promosi daerah.
Cita Rasa Laut yang Hidup
Langit Pangkalpinang siang itu berwarna biru muda ketika rombongan tiba di Restoran Muara, milik Obie Ardi dan Yuria yang berdiri anggun di tepi dermaga. Begitu masuk, aroma rempah dan laut segar menyambut seolah mengabarkan bahwa inilah tempat di mana gagasan ‘dari tambak ke meja makan’ benar-benar hidup.
Di resto ini, pengalaman bersantap dimulai bahkan sebelum duduk di meja. Setiap pengunjung dapat memilih langsung ikan atau udang segar hasil tangkapan nelayan dini hari. Mulai dari ikan ekor kuning, bawal putih, jebung, betutu, ikan bulat atau kue, lepiput, kepiting, hingga udang laut segar. Tak lupa pengunjung pun dapat menentukan sendiri cara masaknya. Mau dibakar, digoreng, atau diolah menjadi Lempah Kuning, hidangan khas Bangka yang berpadu antara segar, pedas, dan harum kunyit. Beberapa pengunjung juga mencoba menu khas lain seperti cumi tinta hitam yang gurih, menambah warna pada pilihan hidangan laut segar di Resto Muara.
Resto Muara bukan sekadar tempat makan. Ia adalah cermin dari rantai nilai seafood Bangka yang masih berdenyut alami. Setiap malam antara pukul 01.00–04.00 WIB dini hari, nelayan menurunkan hasil tangkapan di TPI, sebagian langsung diserahkan kepada mitra seperti Resto Muara untuk menjaga kesegaran. Karena itu, tak ada ikan yang menginap di dapur Resto Muara, semua baru datang dari laut beberapa jam sebelumnya.

Dari sebuah warung kecil di pesisir, Resto Muara kini tumbuh menjadi restoran ternama yang membuka cabang di Batam Center, bahkan dikenal hingga Malaysia dan Singapura lewat menu andalan ‘Lempah Kuning Muara’. Resepnya merupakan warisan keluarga dari Leper Pongo, diracik turun-temurun dengan kesederhanaan dan ketepatan rasa yang khas Bangka.
Setiap pelanggan juga dimanjakan dengan konsep nasi dan lalapan bebas ambil mulai dari daun ubi muda, kemangi segar, terong bulat, petai rebus, hingga timun renyah serta lengkap dengan tiga sambal khas, yakni rusib (fermentasi ikan dengan jeruk kunci dan cabai potong), sambal tomat, dan belacan super dari Tabuali. Rasanya mengikat seluruh elemen laut dan darat dalam satu suapan.
Kunjungan tak berhenti di sini. Usai bersantap, rombongan melanjutkan perjalanan ke pabrik kerupuk lokal untuk melihat bagaimana hasil laut diolah menjadi produk bernilai tambah. Dari dermaga hingga dapur, dari wajan hingga pasar, Bangka memperlihatkan satu ekosistem kelautan yang utuh, hidup, produktif, dan penuh semangat kolaborasi.
“Kita ingin orang luar tahu, hasil laut Bangka bukan hanya segar, tapi juga punya cerita. Dari nelayan, dapur, hingga meja makan, semuanya saling terhubung,” ujar Obie siang itu.dian/dini/edt



