banner12 1
Iklan Web R

Apresiasi Keniscayaan Bukan Kesementaraan

 

 

Jika ada yang berkata dunia perikanan merupakan dunia yang ramai, betullah keramaian yang ditemukan itu. Belum genap satu tahun menyapa, sudah ada banyak hal yang ditemui di sektor yang terkait organisme akuatik ini. Populernya organisme satu ini bisa berujung dua sisi mata pedang, semakin populer dan mengajak masyarakat untuk semakin mencintainya. Atau, semakin populer di sisi negatif sehingga masyarakat justru menjauhi organisme ini.

Belum lagi pulih dari kasus pagar laut (tenggelam saja seperti kapal karam finalisasinya) yang merupakan rongrongan dari dalam negeri sendiri. Lucu, kalau mendengar semboyan berkata, ‘Dari Diri Sendiri untuk DIri Sendiri Dulu’. Tusukan dari negeri sendiri yang membahayakan masyarakat negeri sendiri.

Lebih eksotis, maraknya oplosan Pertamax yang dilakukan oknum masyarakat sendiri, kepada masyarakat sendiri! Lucunya negeri ini. Sampai-sampai di media sosial, netijen berkeluh-kesah sambil bersatir, ‘Lucunya Hidup di Konoha, Tiada Hari Tanpa Kabar Bombastis’.

Belum lengkap pun tanpa singgungan-singgungan kelayakan usaha perikanan seperti perikanan tangkap, budidaya, hingga pengolahan yang standarnya diarahkan ke standar internasional. Namun, belum populer standar usaha di sektor perikanan ini ke masyarakat luas sehingga tetap ada saja isu yang menohok kualitas produksi dari sektor ini.

Sebut saja, keberadaan keramba jaring apung (KJA) di berbagai perairan darat yang mengundang kontroversi. Mulai dari limbah yang dihasilkan dari proses produksinya, sampai tata kelola wilayah, sampai pula kualitas produksi ikan apakah sudah sesuai dengan standar pasar yang dibutuhkan konsumen.

Sampai-sampai, keluhan antibiotik hingga logam berat yang ‘isu’nya ditemukan dalam daging ikan produksi budidaya nasional mengundang polemik. Apa yang dimakan konsumen itu bahan makanan atau bahan produk kimia? Konsumen sebagai pengkonsumsi, tentu saja ragu ditengah-tengah arus pemberitaan bebas yang semakin mengajak masyarakat untuk berpola hidup sehat dari bahan makanan.

Belum selesai rongrongan dari dalam untuk ke dalam pula, disentil pula rongrongan dari luar negeri. Komoditas unggulan di perikanan, yaitu udang mengalami pasang surut cukup besar semenjak beberapa tahun terakhir.

Ditambah persaingan yang semakin ketat di pasar global mengakibatkan dinamisasi yang cukup tinggi. Mulai dari harga udang yang terus bergerak sampai-sampai jumlah pelaku usaha yang masih ‘tahan banting’ di usaha ini.

Harga udang nasional yang sangat tergantung pada kondisi global, ditengarai makin ‘disakiti’ dengan kebijakan tarif Trump beberapa bulan lalu. Tapi, negosiasi yang kemudian dibuka antara pihak Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia membuat para stakeholders nasional mengambil kesempatan ini untuk mencari celah bisnis terbaik bagi udang nasional.

Dan yang heboh baru-baru ini tentu saja ditemukannya kandungan radioaktif dalam produk udang yang diekspor ke AS. Mau dikemanakan lagi ini sistem kepercayaan masyarakat konsumen terhadap ikan dari Indonesia, bila saja mereka sudah kadung skeptis dengan kualitasnya?

 

Tag:

Bagikan:

Trending

Bobby dok pribadi
Ikan Lokal, Momentum yang Butuh Komitmen
Banyak yang harus disiapkan untuk udang padat tebar tinggi by Dini
Kesiapan Hatchery untuk Prasyarat Padat Tebar Tinggi
Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!