banner12 1
Iklan Web R

Antibiotik: Praktik Normal Berbuah Soal

AGT04023

 

 

Hanya enam jenis antibiotik yang diperbolehkan untuk pengobatan ikan yaitu Tetrasiklin, Klor Tetrasiklin, Oksitetrasiklin, Enrofloxacin, Erythromycin, dan Sulfadiazin

 

Penggunaan antibiotik yang termasuk salah satu jenis obat ikan, ternyata masih menjadi tumpuan dalam budidaya ikan air tawar. Terutama, saat pembudidaya menghadapi tekanan lingkungan ekstrim atau serangan penyakit mendadak. Dalam situasi darurat seperti ini, pembudidaya memilih antibiotik sebagai jalan pintas demi menyelamatkan produksi.

Penggunaan antibiotik pertama kali dilakukan Prima Eka Putra, seorang pembudidaya ikan nila Cikadu, Purwakarta-Jawa Barat, setelah berjuang melalui kondisi ekstrim di usaha budidayanya. Ia mengaku pertama kali menggunakan antibiotik beberapa waktu lalu. Sebelumnya, ia selalu mengandalkan bahan alami seperti bawang putih tumbuk.

Ia menuturkan, saat hujan deras terus-menerus mengguyur, banyak ikan terlihat sakit serta mati. Gelisah, ia pun memutuskan mencoba antibiotik sebagai langkah pencegahan.

“Saya pakai Enrofloxacin, dicampur ke pakan 1 gram per kilogram. Itu pun jauh di bawah dosis yang dianjurkan di kemasan, 4 gram,” ia menyebutkan secara hati-hati melalui sambungan telepon (21/4). Prima yang sudah mulai usaha sejak 2022 lalu bahkan menegaskan, penggunaannya bukan untuk mengobati, tetapi untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan.

Walau tidak sepenuhnya memahami bahaya residu antibiotik, ia pernah mendengar bahwa zat tersebut bisa menyebabkan alergi atau gangguan tenggorokan pada manusia. Karena itulah ia mengaku berhati-hati, hanya memberikan satu kali dengan dosis ringan.

Mengenai regulasi, ia mengaku mengetahui larangan penggunaan obat-obatan ikan, seperti antibiotik. Namun, Prima belum pernah mendapat penjelasan lengkap tentang jenis antibiotik yang dibatasi. Untuk pencatatan, pria berkacamata itu hanya menghitung jumlah karung pakan di akhir siklus tanpa mencatat rinci pemberian obat.

Di lokasi lain, Dendi Permayadi, pembudidaya lele dari Pasauran, Serang-Banten, telah menjalani usaha ini lebih dari 10 tahun. Menjaga produktivitas budidayanya, Dendi rutin menggunakan probiotik dan herbal sejak benih ditebar. “Meskipun efektivitas probiotik dan herbal ini sangat bergantung pada cuaca,” ia menekankan.

Ia mengaku menggunakan antibiotik (menyebut nama dagang) saat ikan tampak sakit, mengalami kematian mendadak, atau nafsu makannya turun drastis. Bahkan, ia pernah memanfaatkannya untuk mempercepat pertumbuhan.

“Biasanya saya pakai antibiotik dosis awal 10 gram, ikan direndam semalaman. Kalau tidak mempan, saya naikkan jadi 30 gram,” aku Dendi sapaan akrabnya. Namun, ia mengakui, tetap ada ikan yang mati meski sudah diberi antibiotik.

Dendi menggunakan antibiotik bukan tanpa alasan. Ia kemudian mengenang masa terburuknya ketika 10 ribu ekor lele mati dalam semalam akibat cuaca ekstrim. Dalam kondisi itu, ia tidak punya pilihan selain menggunakan antibiotik untuk menyelamatkan populasi yang tersisa.

Pernah suatu kali, Dendi membawa sampel ikan dan air ke Balai Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan (BPKIL) Serang, untuk diuji saat terjadi masalah. Namun, ia belum pernah melakukan uji residu antibiotik secara pribadi karena kendala biaya. Disamping, tambah Dendi, sosialisasi urgensi antibiotik ini dirasa sangat minim.

Soal edukasi terkait antibiotik, seperti edukasi dari penyuluh, Dendi menilai jarang. “Biasanya mereka cuma sampaikan takaran obat. Tidak pernah ada pelatihan teknis, apalagi tentang budidaya tanpa antibiotik,” ujarnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 155/April -Mei 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!