banner12 1
Iklan Web R

Wiko Puji Susanto, Sosok Muda Penggiat Wirausaha

Wiko (paling kanan) menunjukkan produk-produknya

 

 

Sejak 2019, Wiko Puji Susanto, pengusaha yang bergerak di bidang perikanan. Lebih spesifiknya di budidaya ikan, pengolahan ikan dan pelatihan sektor perikanan. Di bidang pengolahan, laki-laki yang akrab disapa Wiko ini mengolah beragam jenis komoditas ikan dengan fokus ‘limbah jadi faedah’ dan menjadi founder PT Inovasi Ikan Nusantara yang berlokasi di Bogor-Jawa Barat (Jabar).

Ia memulai dari beragam jenis ikan dari perairan laut, ikan pakang, dan ikan petek dari perairan umum air tawar yang biasanya tidak ‘diindahkan’ bisa dikemas menjadi ikan yang cukup bernilai. Keduanya diolah menjadi camilan ikan kremes yang renyah. Ia juga berhasil menyulap kulit patin yang sebelumnya dianggap limbah menjadi makanan ringan bernilai tambah tinggi.

 

 

Mimpi Jadi Kenyataan

Dilansir dari berbagai sumber, Wiko, sebelum merintis usaha menjadi seorang wirausahawan (entrepreneur) seperti sekarang, mengenyam pengalaman di dunia kerja. Sejak lulus Sekolah Tinggi Perikanan (sekarang Politeknik Ahli Usaha Perikanan atau Poltek AUP Jakarta) pada 2016, ia mulai meniti karir di industri pengolahan dengan bekerja di UMKM  pengolahan hasil perikanan dan bekerja di CV Cindy Group sebagai General Manager antara 2016-2017.

Kemudian, antara 2017-2019, ia bekerja di Politeknik KP Karawang-Jabar. Di sana Wiko bekerja sebagai tenaga kependidikan, pembina taruna, penanggung jawab teaching factory pengolahan.

Dalam periode kerja ini, Wiko bertugas sebagai tenaga kependidikan. Dimana, setiap tahunnya ia melakukan kegiatan pengabdian masyarakat kepada pelaku usaha perikanan. Pada saat memberi materi serta komunikasi langsung dengan pelaku usaha perikanan, muncul keinginan Wiko untuk memberi edukasi terhadap pelaku usaha perikanan secara mandiri.

Dari pengalaman bekerja itulah, Wiko mengetahui ada beberapa jenis ikan yang pasokannya melimpah dan harganya murah. Dan ia pun memiliki ide untuk membuat produk dengan bahan baku yang murah dan melimpah itu agar jadi lebih bernilai.

Singkat cerita pada 2019, Wiko melepas status sebagai pegawai dan memulai merintis usaha. Usaha yang pertama dia dirikan adalah memproduksi olahan ikan dengan brand Tarunaku di Kecamatan Dramaga, Bogor-Jabar. Kemudian disusul dengan budidaya ikan.

Berlokasi di Kabupaten Bogor, ia memulai usaha pengolahannya. Produk andalannya saat memulai usaha adalah ikan pakang, udang, dan petek kremes. Ia sengaja mengambil jenis produk kering seperti itu agar mudah dalam penyimpanan dan pengirimannya. “Saya fokus di pengolahan ikan kering. Kalau frozen kendalanya pengiriman,” kata Wiko seperti dilansir dalam TROBOS Aqua edisi 104.

Setelah usaha mulai berjalan, Wiko menyisihkan sedikit keuntungan dari usaha untuk membangun sebuah saung yang berada di tengah-tengah tempat usaha. saung ini dijadikan tempat transfer informasi dan edukasi terkait dunia perikanan. Dari situ, pada awal 2020, sosok berusia 31 tahun ini mendirikan Saung Taruna Mina secara mandiri di lokasi yang sama dengan tempat olahan ikannya.

 

Diversifikasi Usaha untuk Pengembangan

Seiring waktu, Wiko yang selalu ingin tahu dan selalu belajar dari berbagai sumber dan pengusaha senior bermimpi untuk lakukan pengembangan usaha. Ia memiliki keinginan mengolah kulit patin yang muncul ketika magang di suatu pabrik filet patin. Di lokasi magang itu, kulit patin yang merupakan produk sampingan dari filet patin tidak dimanfaatkan alias dibuang begitu saja.

Setelah berdiskusi dan menyelami ilmu-ilmu dari pelaku usaha dan penyuluh yang memberikan ia pendampingan, Herlina, ia kemudian mendirikan PT Inovasi Ikan Nusantara. Usaha ini berfokus mengolah ‘limbah’ kulit patin menjadi cemilan ‘berfaedah’.

“Di pikiran saya itu adalah peluang yang harus ditangkap. Di 2019 serangkaian percobaan komposisi dilakukan, akhirnya ditemukan resep yang pas gurihnya, pas kriuknya dan pas garingnya. Produk tersebut dipasarkan dengan nama ‘Fish skin by fishsnack’. Kini telah ada tiga varian rasa yang berbeda, diantaranya original, pedas, dan salted egg,” katanya seperti dilansir dalam TROBOS Aqua edisi 148.

Perihal pasar, tunjuk Wiko, terus tumbuh dan melonjak naik. “Di awal masa usaha, misalnya dalam 1 bulan, 14 harinya digunakan untuk produksi. Hari selanjutnya itu digunakan untuk menjual produk hingga habis terjual. Kalau produk sudah habis, produksi baru dilakukan kembali,” kenang laki-laki yang menghabiskan masa SMP dan SMAnya di Purworejo-Jawa Tengah ini.

Alhamdulillah, Wiko penuh syukur, lambat laun perubahan terjadi. Masa ini, setiap bulannya kelihatan grafik peningkatan permintaan pasar yang signifikan. Sekarang per bulannya bahan baku yang dibutuhkan sekitar 4-5 ton kulit ikan patin. Lalu diolah menjadi 30 ribuan pack krispi kulit patin.

Untuk pemasaran, produk kulit ikan dijual dalam dua bentuk kemasan. Produk yang dikemas menggunakan standing pouch dipasarkan ke swalayan, supermarket premium dan toko oleh- oleh. Kemasan satunya lagi yakni toples yang ranahnya untuk penjualan online.

Dalam hal pengembangan pasar Wiko juga memanfaatkan digitalisasi yang sudah sangat pesat saat ini. Dia bersama tim tenaga kerjanya kerap mengadakan penjualan secara online melalui berbagai platform ecommerce atau media sosial. “Banyak sekali yang membeli produk kami dari platform online,” ucapnya kepada tim TROBOS Aqua beberapa waktu lalu.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!