Penelitian yang menyimpulkan bahwa Vibrio parahaemolyticus penyebab penyakit AHPND pada udang direspon pro dan kontra para pemangku kepentingan di dalam negeri. Kendati begitu, diprediksi selama ini penyebaran penyakit kematian dini udang tersebut sudah terjadi di Tanah Air. Lulu Nisrina dari Lab CeKolam menyatakan, acuan dari globalseafood.org menyebutkan bahwa VpAHPND yang ditransmisikan melalui aerosol adalah air yang sengaja diinokulasi dengan bakteri. Lalu aerosol dihasilkan dari pergerakan kincir pada air tersebut.
“Jadi, penularan yang terjadi untuk AHPND tersebut adalah penularan dari air yang membentuk aerosol lalu terbawa oleh angin, atau bahasa mudahnya adalah cipratan air. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilaporkan oleh Shin et al (2025) bahwa aerosol dapat menjadi faktor resiko dari penyebaran Vibrio parahaemolyticus,” ujarnya kepada TROBOS Aqua, pekan lalu.
Ditinjau dari jenis dan sifatnya, menurut Lulu, bakteri penyebab AHPND dapat menyebar melalui udara. Bahkan berdasarkan laporan uji coba dari Shin et al (2025), aerosol dapat menyebar hingga 20-73 meter dari pusat air. Oleh karena itu penelitian ini perlu ditindaklanjuti para pemangku kepentingan perudangan di Indonesia. “Dilihat dari cara penyebarannya yang berasal dari droplet aerosol, surveillance secara rutin perlu dilakukan, terutama jika terdapat laporan positif AHPND dari salah satu kolam atau area,” lanjutnya.

Pencegahan penyebaran yang perlu dilakukan, Lulu menyebut, tentunya yang perlu diperhatikan betul adalah biosekuriti dari faktor input atau faktor risiko yang masuk ke dalam area kolam budidaya. Adapun antisipasi penyebaran yang disebabkan oleh aerosol dapat dilakukan dengan penggunaan jaring pembatas yang dapat mengurangi penyebaran bakteri hingga 85% seperti yang dilaporkan oleh Shin et al (2025).
Namun demikian, validasi lebih lanjut tetap perlu dilakukan. Diakui Lulu, jika konteksnya adalah penyebaran melalui droplet aerosol, tentunya hal ini diduga terjadi di kolam budidaya karena kontaminasi dari air yang telah diketahui positif AHPND.
Nusa Tenggara Barat
Terkait sebaran penyakit AHPND di Tanah Air selama 2025, Lulu menerangkan, data pengujian di CeKolam menunjukkan bahwa deteksi positif AHPND tertinggi berada di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan positivity rate sebesar 19% pada Desember 2025. Kemudian diikuti dengan area Jawa Timur dengan positivity rate sebesar 10.24% pada Desember 2025. Lalu dari analisis positivity rate di CeKolam dilakukan secara keseluruhan dengan presentasi positivity rate tertinggi dimiliki oleh sampel udang dengan nilai 48,42%, diikuti dengan sampel air sebesar 20,19%, dan sampel benur sebesar 5,45%.datuk-lampung/dini/edt



