Oleh: Rida Widyastuti*
Langit pelabuhan ekspor di pesisir Jawa Timur sore itu berwarna keperakan. Truk-truk pendingin berderet rapi, suara mesin menderu dan aroma asin laut bercampur dengan udara lembab. Di tengah kesibukan itu, kabar buruk datang: tiga batch udang beku asal Indonesia ditolak masuk ke pasar Amerika Serikat.
Alasannya bukan bakteri, bukan residu kimia. FDA—badan pengawas obat dan makanan AS—menemukan jejak radioaktif cesium. Kadar yang ditemukan sebenarnya jauh di bawah ambang bahaya, sekitar 68 Bq/kg, sedangkan batas amannya 1.200 Bq/kg. Tapi bagi pasar ekspor, angka kecil bisa berdampak besar.
Dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Dr. Roni Nugraha sebagaimana dikutip dari IPBnews (2025), menegaskan bahwa kontaminasinya bukan dari industri perikanan. Melainkan terbawa udara dari aktivitas peleburan logam di sekitar lokasi. Artinya eksternal, bukan dari sistem pengolahan udang.
Sayangnya, meski penyebabnya eksternal, nama Indonesia tetap terpampang dalam laporan penolakan FDA. Reputasi ekspor kita ikut terseret. Dalam perdagangan global, satu insiden bisa jadi badai yang mengguncang satu ekosistem.
Dua Sisi dalam Satu Gelombang
Kejadian ini tak ayal menjadi alarm dini bagi dunia agribisnis perikanan Indonesia. Bukan semata soal cesium—tetapi soal kepercayaan pasar. Dalam industri ekspor produk perikanan, mutu bukan sekadar angka di sertifikat. Ia adalah reputasi, citra, dan nilai tambah. Begitu kepercayaan goyah, branding bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan hari.
Dari sisi pelaku usaha, tekanan ini nyata. Para eksportir telah mengantongi sertifikasi SKP, HACCP, ISO, bahkan BRCGS. Rantai pendinginan dijaga ketat, prosedur ekspor berlapis-lapis. Tetapi, satu kejadian tak terduga—yang bahkan di luar kendali mereka—cukup untuk mengguncang pasar.
Menurut Direktur Pemasaran di Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP) Erwin Dwiyana sebagaimana dikutip dari ANTARAnews (2022), pasar ekspor utama seperti Amerika dan Eropa sangat sensitif terhadap isu keamanan pangan.
Di sisi lain, konsumen internasional dan regulator seperti FDA punya alasan sendiri. Mereka tak sedang berdebat soal niat baik, tapi soal jaminan keamanan pangan. Dalam konteks global, one strike can mean you’re out. Satu insiden bisa membuat buyer beralih ke negara lain yang dianggap lebih “aman” secara reputasi. Dan itu artinya miliaran rupiah potensi ekspor bisa menguap begitu saja.
Ujian Branding: Lebih dari Sekadar Logo
Dalam krisis seperti ini, branding bisa menjadi tameng sekaligus jembatan. Branding bukan sekadar logo cantik atau tagline puitis. Ia adalah janji yang harus ditepati—janji tentang mutu, keamanan, dan tanggung jawab.
Riset terbaru yang terbit di Environmental Sciences Europe menunjukkan bahwa sertifikasi dan eco-label mampu membantu memulihkan citra produk perikanan pasca krisis, asalkan didukung konsistensi dan pengawasan ketat (Tlusty et al, 2024).
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 161/ Oktober-November 2025



