Di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor agribisnis, Abdul Rohman Abi justru menempuh jalur berbeda. Di usia 25 tahun, ia mantap menekuni dunia budidaya ikan nila dengan sistem bioflok di Lodaya, Bogor. “Sektor perikanan ini tahan banting,” ujarnya yakin. Waktu pandemi, sambungnya, hampir semua sektor goyah, tapi perikanan tetap jalan. Artinya, ini sektor yang kuat dan berprospek panjang.
Bagi Abi, minimnya persaingan anak muda justru menjadi peluang emas. “Anak muda banyak yang lari ke teknologi digital. Padahal agribisnis ini masa depan, bahkan konglomerat dunia sudah mulai berinvestasi ke sana,” tambahnya.
Abi memilih fokus pada ikan nila merah strain NiFi (National Inland Fish Institute). Menurutnya, strain ini unggul dalam ketersediaan benih dan kejelasan asal-usul. “Induknya punya SKAI dan sertifikat CPIB, jadi silsilahnya jelas. Proses adaptasi juga lebih cepat,” ujarnya pada tim TROBOS Aqua malam itu. Sebelumnya ia pernah menggunakan strain nila bangkok, namun kini beralih karena kemudahan logistik dan legalitas benih yang lebih terjamin.

Sistem bioflok yang diterapkan Abi bukan sekadar tren, melainkan hasil riset dan praktik lapangan yang ia jalani sendiri. Sistem ini, katanya, menjawab empat tantangan besar akuakultur: lahan, air, limbah, dan pakan. Dalam satu meter kubik air, ia bisa menebar hingga 100 ekor nila. Probiotik Bacillus menjadi kunci karena memiliki kemampuan flokulasi di mana berfungsi untuk mengasimilasi amoniak menjadi flok dalam sistem bioflok
“Flok yang dihasilkan juga jadi pakan tambahan alami bagi ikan,” jelasnya. Selain efisien lahan, sistem ini juga ramah lingkungan dan hemat air, nilai tambah yang penting di tengah isu keberlanjutan akuakultur modern.
Namun perjalanan Abi tak selalu mulus. “Waktu pertama kali membangun sistem bioflok, banyak gagal,” kenangnya. Kesalahan perhitungan konstruksi, jumlah titik aerasi yang tidak tepat, hingga salah dosis probiotik pernah dialaminya. “Sistem ini sangat terukur, jadi kalau tidak punya mentor, bisa repot di awal. Tapi dari kegagalan itu saya belajar. Kalau bukan karena kesalahan itu, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini,” ujarnya sambil tersenyum. Kini, ia bukan hanya pembudidaya, tapi juga konsultan budidaya dan konstruksi bioflok dengan klien hingga Sulawesi Selatan.
Kunci keberhasilan Abi terletak pada manajemen pakan dan kualitas air. Ia menerapkan feeding program berbasis data, menyesuaikan feeding rate (FR) dengan average body weight (ABW) ikan. “Tujuannya menjaga FCR tetap rendah,” terangnya. Frekuensi pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, dengan jeda minimal dua jam. Ia juga melakukan pemuasaan mingguan untuk mengejar pertumbuhan kompensatori. Kualitas air dipantau harian, mulai dari suhu, pH, TDS, dan DO serta parameter mingguan seperti nitrit, nitrat, dan amonia. “Kunci sukses bioflok itu di aerasi. Mati listrik sebentar saja, oksigen drop, ikan bisa stres. Jadi genset wajib siaga,” tegasnya.
Menurut Abi, nila bukan sekadar ikan konsumsi, tapi simbol ketahanan pangan masa depan. Ia menyebut nila sebagai ‘The Aquatic Chicken’, mudah dibudidayakan, cepat tumbuh, dan fleksibel di berbagai jenis perairan. “Ikan ini mirip ayam. Biaya produksinya rendah, bisa diolah jadi banyak menu, dan permintaannya tinggi. Hampir di semua rumah makan pasti ada nila,” katanya. Bahkan, pemerintah kini tengah mendorong produksi nila salin untuk kawasan pesisir, yang membuka peluang baru bagi pembudidaya muda.
Melalui aktivitasnya sebagai content creator perikanan, Abi aktif mengedukasi generasi muda agar berani terjun ke dunia budidaya. “Harus ada regenerasi,” harapnya. Abi menuturkan, selama ini orang masih menganggap perikanan itu kotor, bau, atau tradisional. Padahal dengan teknologi seperti bioflok, semuanya bisa modern, efisien, bahkan keren. Bagi Abi, mimpinya sederhana tapi berdampak besar: menciptakan lapangan kerja dari hulu ke hilir di sektor perikanan, sambil membuktikan bahwa agribisnis bisa menjadi masa depan yang menjanjikan bagi anak muda Indonesia. dian



