Berbagai alternatif untuk mencocokkan lidah pasar domestik dengan udang, disertai mencocokkan persyaratan pasar global untuk gaungkan udang Indonesia
Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Budhi Wibowo, menjelaskan bahwa persepsi udang sebagai ‘makanan elit’ masih melekat kuat. “Padahal, kalau kita bandingkan harganya dengan daging sapi atau ayam, di beberapa daerah justru udang lebih murah,” ujarnya.
Namun sayangnya, anggapan bahwa udang itu mahal telah membatasi ruang gerak industri udang di dalam negeri. Konsumen lebih memilih lauk yang dianggap lebih familiar dan ramah di kantong, seperti ayam, ikan bandeng, atau tempe.
Namun akar persoalan ini tak berhenti di urusan persepsi semata. Budhi menegaskan bahwa harga udang di pasar domestik memang cenderung tinggi, dan salah satu penyebab utamanya adalah biaya logistik yang masih mencekik.
Distribusi dari sentra produksi udang seperti Lampung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur ke berbagai kota di Indonesia menelan ongkos yang besar. Hal ini membuat harga udang di rak swalayan maupun pasar tradisional melonjak, memperkuat kesan bahwa produk ini memang ‘hanya untuk kalangan atas’.

Menurut Budhi, ketika udang beku harus dikirim antarpulau, biaya logistik bisa menembus batas kewajaran. “Kami kirim udang beku ke pulau-pulau lain, biaya logistiknya sangat mahal. Ini bikin harga udang naik drastis di pasar,” katanya. Dampaknya jelas, konsumen makin menjauh karena merasa tak sanggup membelinya.
Tak hanya soal ongkos kirim, tantangan lainnya terletak pada infrastruktur rantai dingin (cold chain) yang belum merata. Udang adalah produk segar yang sangat bergantung pada sistem pendingin sejak panen hingga sampai ke tangan konsumen. Namun, di banyak wilayah, fasilitas ini masih minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Akibatnya, kualitas udang bisa menurun drastis selama perjalanan, bahkan sampai tak layak jual.
“Infrastruktur kita belum siap mendukung distribusi produk laut secara luas dan merata. Tanpa cold chain yang baik, kualitas produk bisa turun, dan itu menurunkan minat beli masyarakat,” jelas Budhi lagi. Ia mengibaratkan udang seperti bunga potong yang indah dan bernilai tinggi saat segar, tapi mudah layu jika tidak dirawat dengan benar.
Namun semua ini bukan tanpa harapan. Menurut Budhi, solusi yang bisa dilakukan bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap udang. Edukasi publik menjadi kunci untuk membuka mata bahwa udang bukan hanya makanan restoran mahal atau hotel berbintang, tapi juga sumber protein bergizi yang bisa hadir di piring keluarga sehari-hari. Ia mendorong adanya kampanye gizi dan harga yang adil, agar konsumen paham bahwa udang adalah pilihan sehat yang terjangkau.
Selain itu, Budhi menyoroti pentingnya langkah konkret dari pemerintah untuk menurunkan ongkos logistik. Salah satu caranya adalah dengan memperbaiki tata niaga dan efisiensi sistem distribusi hasil perikanan. Jika rantai distribusi bisa dipangkas dan infrastruktur pendukung diperbaiki, maka harga udang bisa lebih kompetitif dan konsumsi domestik pun meningkat.

Tetapi Budhi menuturkan, tantangan terbesar justru datang dari dalam birokrasi itu sendiri. Budhi mengeluhkan masih adanya tumpang tindih regulasi antarinstansi yang membuat distribusi udang antarwilayah menjadi rumit.
Ia memberi contoh ketika produk udang beku sudah memiliki sertifikasi dari BPOM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, tapi masih harus mengurus ulang sertifikat kesehatan dari instansi lain saat akan dikirim ke daerah lain. “Ini menyulitkan pelaku usaha. Kalau regulasi ini dibenahi, kami yakin pasar domestik akan lebih terbuka, dan sektor udang Indonesia akan semakin kuat,” ujarnya.
Dalam hal ini, Budhi berharap rencana deregulasi yang digaungkan oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bisa benar-benar diwujudkan. Menurutnya, jika hambatan administratif bisa dipangkas, pelaku industri akan lebih leluasa memperluas pasar, termasuk di dalam negeri yang selama ini kurang digarap serius.
Ia juga menegaskan bahwa mengandalkan ekspor sebagai satu-satunya tumpuan bukanlah strategi yang berkelanjutan. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian pasar luar, memperkuat pasar domestik justru bisa menjadi kunci stabilitas. “Indonesia punya lebih dari 270 juta penduduk, ini pasar besar. Kalau kita bisa membuat masyarakat menyadari bahwa udang itu terjangkau dan sehat, konsumsi akan naik, produksi akan stabil, dan industri bisa berkembang tanpa terlalu bergantung pada pasar luar,” tutur Budhi.
Dengan kata lain, pasar dalam negeri sebenarnya bukan sekadar pelengkap, tapi justru bisa menjadi tulang punggung masa depan industri udang nasional. Dan itu semua bisa dimulai dari satu hal sederhana: membongkar mitos bahwa udang adalah barang mewah.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 157/ Juni – Juli 2025



