Flores (TROBOSAQUA). Sesosok perempuan mematikan sepeda motor yang dari tadi ia kendarai. I kemudian turun ke hamparan petakan yang ditutupi terpal. Dengan baju rumahan dan siap untuk bekerja, perempuan yang bernama Sartiana Mara ini mengajak TROBOS Aqua untuk berkeliling ke hamparan tambak yang diusahakan hampir semua warga di desanya. Yakni di Desa Magekapa, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende – Nusa Tenggara Timur.
Tampak tambak-tambak garam terpal di desa yang terletak di utara Pulau Flores ini. Dia menerangkan, total hingga ratusan warga desa menjalani pekerjaan sebagai petani garam – sebutan yang sering ia ucapkan bagi para petambak garam.
“Hamparan tambak garam totalnya bisa ratusan petak jumlahnya. Satu petak tambak terpal bisa seukuran 7×10 meter atau 6×10 meter. Dan yang punya jumlahnya bervariasi. Ada yang punya dua petak, ada yang bahkan sepuluh petak,” ujar perempuan yang akrab disapa Sarti ini.
Garam yang dipanen, beber Sarti, rerata adalah garam halus dan berwarna putih. Namun tidak menutup kemungkinan garam juga bertekstur kasar. Untuk panenan garam halus standar berat dalam karungan itu sekitar 52 kg, sementara garam kasar hanya berbobot 47 – 48 kg satu karung.

Dalam proses pemanenannya, petambak garam biasanya melihat secara visual untuk mengamati apabila garam sudah siap dipanen atau belum. Sarti mencontohkan, awalnya hanya air yang dihamparkan ke terpal, setelah itu akan tampak seperti ada minyaknya.
Lebih jauh ia menerangkan, secara sederhana penambakan garam di Desa Magekapa ini terdiri dari beberapa tahapan. Kalau sudah tetapkan target lima hari, dan hari terakhir bisa dilihat apabila panas dari pagi sampai sore, maka sore hari nanti sudah bisa dipanen.
“Baru nanti kami bilang itu nanti ada bunga mau jadi garam. Dan ini jangan sampai terlalu kering baru panen. Kalau terlalu kering tidak bisa. Nanti kelihatan bentuknya seperti biji-biji gitu bunganya. Kalau anginnya kencang, garamnya terganggu sehingga jatuh gitu, sehingga bijinya halus,” ucapnya.
Jika ingin menghasilkan biji garam yang halus, untuk itu tambah Sarti, tidak jarang petambak garam ‘menggoyangkan’ terpalnya biar garanya jatuh. “Cuma kalau terlalu banyak yang halus gini kan ringan. Kalau ditimbang rugi juga kita karena yang halus lebih ringan. Makanya lebih enak itu bukan yang halus banget, tapi pas tidak terlalu kasar juga,” paparnya.dini/edt
Artikel ini sudah pernah ditulis dalam Majalah Cetak TROBOS Aqua Edisi 95



